<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Kisah Rasul</title>
	<atom:link href="http://kisahrasul.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://kisahrasul.wordpress.com</link>
	<description>Rasul teladan kita</description>
	<lastBuildDate>Mon, 03 May 2010 20:00:30 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='kisahrasul.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Kisah Rasul</title>
		<link>http://kisahrasul.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://kisahrasul.wordpress.com/osd.xml" title="Kisah Rasul" />
	<atom:link rel='hub' href='http://kisahrasul.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Allah Ta’ala Mengharamkan Zina dan Sebab-Sebab yang Mengarah Kepadanya</title>
		<link>http://kisahrasul.wordpress.com/2010/05/04/allah-ta%e2%80%99ala-mengharamkan-zina-dan-sebab-sebab-yang-mengarah-kepadanya/</link>
		<comments>http://kisahrasul.wordpress.com/2010/05/04/allah-ta%e2%80%99ala-mengharamkan-zina-dan-sebab-sebab-yang-mengarah-kepadanya/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 May 2010 20:00:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kisahrasul</dc:creator>
				<category><![CDATA[akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[Abu Zaid]]></category>
		<category><![CDATA[Bakr]]></category>
		<category><![CDATA[haram]]></category>
		<category><![CDATA[zina]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kisahrasul.wordpress.com/?p=133</guid>
		<description><![CDATA[Kaidah syari’at yang suci menegaskan bahwa ketika Allah Ta’ala mengharamkan sesuatu, maka Dia juga mengharamkan sebab-sebab, jalan serta wasilah yang mengarah kepadanya. Hal ini untuk mewujudkan maksud dari pengharaman sesuatu tersebut, mencegah agar tidak sampai kepadanya atau mendekatinya. Disamping menjaga agar tidak terjadi perbuatan dosa serta ke-madharat-an yang menimpa individu ataupun masyarakat. Sekiranya Allah Ta’ala [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kisahrasul.wordpress.com&amp;blog=11358830&amp;post=133&amp;subd=kisahrasul&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kaidah syari’at yang suci menegaskan bahwa ketika Allah Ta’ala  mengharamkan sesuatu, maka Dia juga mengharamkan sebab-sebab, jalan  serta wasilah yang mengarah kepadanya. Hal ini untuk mewujudkan maksud</p>
<p><span id="more-133"></span> dari pengharaman sesuatu tersebut, mencegah agar tidak sampai kepadanya  atau mendekatinya. Disamping menjaga agar tidak terjadi perbuatan dosa  serta ke-madharat-an yang menimpa individu ataupun masyarakat.</p>
<p>Sekiranya Allah Ta’ala mengharamkan sesuatu, namun membolehkan  wasilah yang mengarah ke sana, niscaya akan terjadi kontradiksi atas  pengharaman tersebut. Sangat mustahil syari’at Rabb semesta alam  mengandung unsur seperti itu.</p>
<p>Perbuatan zina adalah kekejian yang besar, sangat buruk, dan sangat  berbahaya terhadap kewajiban-kewajiban agama. Oleh karenanya,  pengharaman zina telah diketahui dalam agama secara pasti. Allah Ta’ala  berfirman, “Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu  adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS.  Al-Israa: 32).</p>
<p>Oleh karenanya, Allah Ta’ala mengharamkan sebab-sebab yang mengarah  kepada perbuatan zina seperti ikhtilath (campur baur antara laki-laki  dengan perempuan, red.), perempuan yang menyerupai laki-laki maupun  sebaliknya, dan hal-hal lain yang bisa menimbulkan keraguan, fitnah, dan  kerusakan.</p>
<p>Renungkanlah rahasia agung yang terkandung dalam rahasia-rahasia dan  mukjizat Al-Qur’an Al-Karim. Ketika Allah Ta’ala menyebutkan kekejian  zina dan pelarangannya secara tegas pada pembukaan surat An-Nur, mulai  dari awal hingga ayat ke tiga puluh tiga. Allah Ta’ala menyebutkan tiga  belas wasilah untuk menanggulangi perbuatan dosa tersebut serta menjaga  agar tidak menimpa masyarakat muslim yang masih menjaga nilai-nilai  kesucian. Wasilah tersebut berupa amalan, ucapan, dan kemauan.</p>
<p>Pertama, menyucikan pelaku zina baik laki-laki maupun perempuan  dengan hukuman had.</p>
<p>Kedua, membersihkan diri dengan jalan menjauhkan pernikahan dari  pelaku zina baik laki-laki maupun perempuan, kecuali setelah ia  bertaubat dan diketahui kebenaran taubatnya.</p>
<p>Kedua wasilah diatas berkaitan dengan perbuatan (amaliyah).</p>
<p>Ketiga, membersihkan lisan dari menuduh seseorang telah melakukan  perbuatan zina. Bagi siapa saja yang menuduh seseorang telah melakukan  zina namun tidak dapat mendatangkan bukti, maka baginya dikenakan  hukuman qadzaf.</p>
<p>Keempat, membersihkan lisan suami dari menuduh istrinya telah  melakukan perbuatan zina tanpa bukti. Kalau hal itu terjadi, maka ia  dikenai hukuman li’an.</p>
<p>Kelima, membersihkan jiwa dan menutup hati dari prasangka buruk  terhadap sesama muslim berkaitan dengan perbuatan zina.</p>
<p>Keenam, membersihkan kemauan dan menahannya dari menyebarkan kekejian  dikalangan kaum muslimin. Sebab, dengan tersebarnya perbuatan tersebut  akan melemahkan orang-orang yang mengingkarinya dan sebaliknya, akan  menguatkan golongan fasiq dan orang-orang yang menyetujui tindakan  tersebut. Oleh karenanya, siksaan bagi golongan ini lebih pedih dari  yang lainnya, sebagaimana yang ditegaskan oleh Allah Ta’ala,  “Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat  keji itu tersiar dikalangan orang-orang beriman, bagi mereka azab yang  pedih di dunia dan akhirat.” (QS. An-Nur: 19).</p>
<p>Kesenangan menebarkan kekejian akan mengundang semua wasilah  keburukan yang mengarah pada perbuatan zina tersebut, baik dengan  ucapan, perbuatan, bentuk persetujuan, termasuk mendiamkannya.</p>
<p>Ketujuh, tindakan preventif secara umum, yaitu dengan cara  membersihkan jiwa dari was-was dan bisikan jahat yang merupakan awal  langkah setan yang ditiupkan ke dalam jiwa kaum mukminin agar mereka  terjerumus ke dalam perbuatan dosa. “Hai orang-orang yang beriman,  janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Barangsiapa yang  mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya setan itu menyuruh  pada mengerjakan perbuatan yang keji dan munkar.” (QS. An-Nur: 21).</p>
<p>Kedelapan, disyari’atkannya meminta izin ketika hendak memasuki rumah  orang lain agar seseorang tidak terjerumus pada melihat aurat pemilik  rumah.</p>
<p>Kesembilan, menyucikan mata dari pandangan yang diharamkan dengan  melihat wanita yang bukan mahramnya.</p>
<p>Kesepuluh, menyucikan mata dari pandangan yang diharamkan dengan  melihat laki-laki yang bukan mahramnya.</p>
<p>Kesebelas, diharamkannya bagi kaum wanita untuk memperlihatkan  perhiasannya kepada laki-laki yang bukan mahramnya.</p>
<p>Kedua belas, larangan melakukan sesuatu yang dapat membangkitkan  syahwat kaum laki-laki, seperti seorang wanita menghentakkan kakinya  agar terdengar suara gelang kakinya sehingga menarik perhatian  orang-orang yang di dalam hatinya terdapat penyakit.</p>
<p>Ketiga belas, perintah untuk menjaga kesucian bagi orang-orang yang  tidak mampu menikah dan melakukan sebab-sebab yang dapat membantuk  melaksanakan perintah tersebut.</p>
<p>Diantara etika hubungan pergaulan antara kaum laki-laki kepada sesama  laki-laki yaitu tetap merupakan kewajiban bagi mereka untuk tetap  menutup aurat.</p>
<p>Adapun hak wanita terhadap sesamanya yaitu menutup aurat dihadapan  wanita lain dan diharamkan seorang wanita menyebutkan ciri-ciri wanita  lain kepada suaminya. Sedangkan sebab terbesar yang dapat menjaga agar  tidak terjerumus ke dalam perbuatan zina adalah kewajiban hijab bagi  kaum muslimah. Hijab tersebut berfungsi untuk menjaga mereka dan menjaga  kehidupan mereka tetap berada dalam kesucian, senantiasa menjaga rasa  malu, menghindari perkataan kotor, dan untuk menghindarinya dari tingkal  laku yang tidak bermoral.</p>
<p><strong>Sumber:</strong></p>
<p><strong>Syaikh Bakr Abdullah Abu Zaid, <em>Menjaga Kehormatan  Muslimah</em>: Daar An-Naba’</strong></p>
<p><strong>www.belajarislam.com</strong></p>
<br /> Tagged: <a href='http://kisahrasul.wordpress.com/tag/abu-zaid/'>Abu Zaid</a>, <a href='http://kisahrasul.wordpress.com/tag/bakr/'>Bakr</a>, <a href='http://kisahrasul.wordpress.com/tag/haram/'>haram</a>, <a href='http://kisahrasul.wordpress.com/tag/zina/'>zina</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kisahrasul.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kisahrasul.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kisahrasul.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kisahrasul.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kisahrasul.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kisahrasul.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kisahrasul.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kisahrasul.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kisahrasul.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kisahrasul.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kisahrasul.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kisahrasul.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kisahrasul.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kisahrasul.wordpress.com/133/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kisahrasul.wordpress.com&amp;blog=11358830&amp;post=133&amp;subd=kisahrasul&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kisahrasul.wordpress.com/2010/05/04/allah-ta%e2%80%99ala-mengharamkan-zina-dan-sebab-sebab-yang-mengarah-kepadanya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cf6aee1c0b0b2907d03b9e89b3aff34d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kisahrasul</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>AKHLAK ORANG YANG BERJIWA BESAR (Bag. V)</title>
		<link>http://kisahrasul.wordpress.com/2010/04/27/akhlak-orang-yang-berjiwa-besar-bag-v/</link>
		<comments>http://kisahrasul.wordpress.com/2010/04/27/akhlak-orang-yang-berjiwa-besar-bag-v/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Apr 2010 20:00:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kisahrasul</dc:creator>
				<category><![CDATA[akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[berjiwa besar]]></category>
		<category><![CDATA[hamidi]]></category>
		<category><![CDATA[ridwan]]></category>
		<category><![CDATA[sabt]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kisahrasul.wordpress.com/?p=131</guid>
		<description><![CDATA[Sekarang mari kita tengok contoh ketiga, yakni dari diri Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, saat bermuamalah dengan Abdullah bin Ubay bin Salul. Abdullah bin Ubay terkenal sebagai tokoh kaum munafiqin di masa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Semua orang tahu, bahwa Abdullah bin Ubay ini adalah ra’sul munafiqin, imamnya orang-orang munafiq, sebagaimana ditunjukkan oleh sikapnya terhadap Islam. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kisahrasul.wordpress.com&amp;blog=11358830&amp;post=131&amp;subd=kisahrasul&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<p>Sekarang mari kita tengok contoh  ketiga, yakni dari diri Rasulullah <em>shallallahu alaihi wasallam</em>,  saat bermuamalah dengan Abdullah bin Ubay bin Salul. Abdullah bin Ubay  terkenal sebagai tokoh kaum munafiqin di masa</p>
<p><span id="more-131"></span> Rasulullah <em>shallallahu  alaihi wasallam.</em> Semua orang tahu, bahwa Abdullah bin Ubay ini  adalah <em>ra’sul munafiqin, </em>imamnya orang-orang munafiq,  sebagaimana ditunjukkan oleh sikapnya terhadap Islam. Saat perang  Muraysi’ pecah, dia mengatakan, “Perumpamaan kita dengan Muhammad dan  para shahabatnya adalah seperti kata pepatah, “<strong><em>beri makan  terus anjingmu, nanti kalau sudah besar ia akan memangsamu.</em></strong>”  Artinya, ketika Rasulullah <em>shallallahu alaihi wasallam</em> dan  para shabatnya kita beri kesempatan, mereka akan menindas kita. Ini kata  Abdullah bin Ubay dan orang-orang munafiq yang bersamanya. Ia juga  mengatakan “<strong><em>jangan kalian infakkan apa yang ada ditangan  kalian kepada orang-orang yang bersama Muhammad supaya mereka menjauh  dari Muhammmad</em></strong>.” Demikianlah ucapan Abdullah bin Ubay, dan  ini hanya sebagian dari sikap mereka (yang menyakitkan) terhadap  Rasulullah <em>shallallahu alaihi wasallam</em> dan para shahabatnya,  agar jangan diberikan apapun dan agar mereka tidak betah dan memutuskan  keluar dari Madinah.</p>
<p>Coba kita perhatikan tatkala Abdullah bin Ubay meninggal, apa yang  dilakukan Rasulullah <em>shallallahu alaihi wasallam</em>? Beliau  mendatangi kuburnya. Memberikan pakaian beliau kepada putranya, dan  kemudian memberi kain untuk dijadikan kafan untuk Abdullah bin Ubay.  Padahal orang ini <em>ra’sul munafiqin, </em>imamnya orang-orang  munafiq, jelas-jelas orang munafiq, bahkan ditegaskan oleh nash, namun  Rasulullah tetap datang ke kuburnya. Kemudian kita lihat ia bukanlah  hanya sekedar orang munafiq, bahkan merupakan <em>ra’sul munafiqin, </em>tetapi  masih diberikan kain kafan, didatangi kuburnya dan Rasulullah <em>shallallahu  alaihi wasallam </em>memintakan ampun kepada Allah Ta’ala. Coba  bayangkan, beliau mendatangi kuburnya dan memintakan ampun kepada Allah  untuk imamnya orang-orang munafiq, hingga turun firman Allah yang  melarang Rasul demikian.(memintakan ampunan). Disini dapat kita saksikan  ketinggian jiwa Rasulullah <em>shallallahu alaihi wasallam</em> untuk  memintakan ampun kepada orang yang selama ini menyakiti beliau. Kalau  sendainya itu terjadi pada kita, mungkin kita akan mengatakan “mampus,  biar sekalian mati!!”, akan tetapi, beliau memohonkan ampunan, baru  setelah itu turun larangan memintakan ampun untuk orang-orang munafiq  dan orang kafir,</p>
<p dir="rtl"><strong>إِنْ تَسْتَغْفِرُ لَهُمْ سَبْعِيْنَ مَرَّةً فَلَنْ  يَغْفِرَ اللهُ لَهُمْ</strong></p>
<p>“<em>Kendatipun kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali,  namun Allah sekali-kali tidak akan merberi ampun kepada mereka</em> (Qs:  al-Taubah : 80).</p>
<p>Berkenaan dengan ayat ini, beliau bersabda: “<strong>Seandainya saya  tahu, jika beristighfar lebih dari tujuh puluh kali akan diampuni, saya  akan melakukan lebih dari tujuh puluh kali</strong>” atau sebagaimana  sabda beliau <em>shallallahu alaihi wasallam</em>. Ini kepada imamnya  orang-orang munafiq, seandainya beliau memintakan ampun lebih dari tujuh  puluh kali akan diampuni, niscaya beliau akan melakukannya. Lihat  akhlak Nabi Muhammad <em>shallallahu alaihi wasallam</em> terhadap  imamnya orang-orang munafiq. Kepada orang yang sudah lama sekali  mengganggu dan menyusahkan Rasulullah <em>shallallahu alaihi wasallam</em> serta orang-orang yang bersama beliau. Orang inilah yang telah membuat  tuduhan palsu kepada ‘Aisyah <em>radhiallahu anha, </em>dia juga yang  mencemarkan kehormatan Rasulullah <em>shallallahu alaihi wasallam</em>.</p>
<p>Sekali lagi, bercerminlah pada sosok mulia seperti ini, beliau masih  mau mendatangi kuburnya, lalu memberikan kain kafan seraya memintakan  ampun kepada Allah Ta’ala. Siapa diantara kita yang bisa berjiwa besar  seperti ini?</p>
<p>Jangan difahami bahwa kita ingin mengaburkan aqidah <em>wala’ wal  bara’</em> seperti yang telah kita sebutkan di atas. Harus dipahami  aqidah <em>wala’ wal bara’</em> mana yang dinamakan aqidah <em>wala’ wal  bara’</em> itu, bagaimana sikap Rasulullah <em>shallallahu alaihi  wasallam</em> dan para Salafus Shalih berkaitan dengan orang-orang yang  berbeda atau menyimpang. Harus dibedakan antara wala’ dan bara’ dengan  hawa nafsu. Al wala’ wal bara’ jalas ada dalam hati kita. Sikap terhadap  orang lain, kemudian hawa nafsu kita juga sesuatu yang lain, adalah dua  hal yang harus dibedakan.</p>
<p>Seorang da’i tidak pantas memiliki sifat-sifat seperti ini (<em>intishar  ala an-nafsi</em> dan keras terhadap sesama muslim). Kalau da’i seperti  ini, kerusakan akan lebih besar daripada manfaat. Dimana ia mendoakan  kejelekan bagi si fulan pada sepertiga malam terakhir, kemudian melaknat  fulan, mencaci maki fulan dan menyatakan bahwa Allah Ta’ala tidak  mungkin memberikan ampun kepadanya. Orang semacam ini lebih pantas  memperbaiki dirinya sendiri dahulu, baru kemudian memperbaiki orang  lain. Karena bisa jadi, <em>mafsadat</em>nya jauh lebih besar daripada  maslahatnya bagi orang lain (baca: ummat). Sebab dia sendiri belum  berhasil memperbaiki diri dan jiwanya, hingga ketika dia memperbaiki  orang lain tentu akan lebih berat. Karena kenyataannya, yang terjadi  hanya bermasalah dengan si fulan, kemudian bermusuhan dan bertikai  dengan orang lain dan seterusnya.</p>
<p>Saat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah sakit menjelang wafatnya, di dalam  penjara dan bukan di rumah, beliau dicegat melakukan seluruh aktivitas  hingga tidak diberikan pena untuk menulis. Walau demikian, beliau tetap  menulis, memberi fatwa kepada kaum muslimin, hanya dengan mengunakan  arang hingga akhirnya beliau dilarang menulis sama sekali. Segala  aktivitasnya diawasi oleh Ahlu Bid’ah lalu disampaikan kepada penguasa.</p>
<p>Hingga suatu ketika sebagian ahlu bid’ah ini mendatangi Syaikhul  Islam di dalam penjara, lalu memohon maaf kepada Syaikhul Islam,  lantaran menjadi sebab Syaikul Islam dijebloskan dalam penjara. Maka  lihatlah, <em>ikhwah fillah</em>, bagaimana jiwa besar beliau. Tenang  beliau mengatakan: “<strong>Aku telah maafkan Anda, Aku juga sudah  memaafkan Raja Nashir yang memenjarakan saya”.</strong> Beliau memaafkan  orang yang memasukkan beliau ke penjara, serta semua orang yang menjadi  sebab beliau masuk penjara. Semoga bermanfaat. <strong>Bersambung</strong>….</p>
<p>Sumber:  (http://www.alinshof.com/2010/01/akhlak-orang-yang-berjiwa-besar-bag-i.html)</p>
<p>[Materi ini pernah disampaikan oleh Ust Ridwan Hamidi dalam kajian di  Masjid Pogung Raya beberapa tahun silam. Namun karena panjangnya  materi, maka dibagi dalam beberapa tulisan.]</p>
</div>
<br /> Tagged: <a href='http://kisahrasul.wordpress.com/tag/akhlak/'>akhlak</a>, <a href='http://kisahrasul.wordpress.com/tag/berjiwa-besar/'>berjiwa besar</a>, <a href='http://kisahrasul.wordpress.com/tag/hamidi/'>hamidi</a>, <a href='http://kisahrasul.wordpress.com/tag/ridwan/'>ridwan</a>, <a href='http://kisahrasul.wordpress.com/tag/sabt/'>sabt</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kisahrasul.wordpress.com/131/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kisahrasul.wordpress.com/131/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kisahrasul.wordpress.com/131/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kisahrasul.wordpress.com/131/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kisahrasul.wordpress.com/131/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kisahrasul.wordpress.com/131/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kisahrasul.wordpress.com/131/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kisahrasul.wordpress.com/131/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kisahrasul.wordpress.com/131/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kisahrasul.wordpress.com/131/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kisahrasul.wordpress.com/131/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kisahrasul.wordpress.com/131/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kisahrasul.wordpress.com/131/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kisahrasul.wordpress.com/131/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kisahrasul.wordpress.com&amp;blog=11358830&amp;post=131&amp;subd=kisahrasul&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kisahrasul.wordpress.com/2010/04/27/akhlak-orang-yang-berjiwa-besar-bag-v/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cf6aee1c0b0b2907d03b9e89b3aff34d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kisahrasul</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>METODE SALAF DALAM MENERIMA ILMU</title>
		<link>http://kisahrasul.wordpress.com/2010/04/20/metode-salaf-dalam-menerima-ilmu/</link>
		<comments>http://kisahrasul.wordpress.com/2010/04/20/metode-salaf-dalam-menerima-ilmu/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Apr 2010 09:00:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kisahrasul</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tanya Jawab]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[menerima]]></category>
		<category><![CDATA[metode]]></category>
		<category><![CDATA[salaf]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kisahrasul.wordpress.com/?p=150</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Syaikh Abdul Adhim Badawi “Artinya : Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan RasulNya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata” [Al-Ahzab : [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kisahrasul.wordpress.com&amp;blog=11358830&amp;post=150&amp;subd=kisahrasul&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<p>Oleh<br />
Syaikh Abdul Adhim Badawi</p>
<p>“Artinya : Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak  (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan RasulNya telah  menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain)  tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan RasulNya  maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata” [Al-Ahzab : 36]</p>
<p>Dari fenomena yang tampak pada saat ini, (kita menyaksikan)  khutbah-</p>
<p><span id="more-150"></span>khutbah, nasehat-nasehat, pelajaran-pelajaran banyak sekali,  melebihi pada zaman para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,  tabi’in (orang-orang yang berguru kepada para sahabat) serta tabiut  tabiin (orang-orang yang berguru kepada tabi’in). Namun bersamaan itu  pula, amal perbuatan sedikit. Sering kali kita mendengarkan (perintah  Allah dan RasulNya) namun, sering juga kita tidak melihat ketaatan, dan  sering kali kita mengetahuinya, namun seringkali juga kita tidak  mengamalkan.</p>
<p>Inilah perbedaan antara kita dan sahabat-sahabat Nabi Shallallahu  ‘alaihi wa sallam tabiin dan tabiut tabiin yang mereka itu hidup pada  masa yang mulia. Sungguh pada masa mereka nasehat-nasehat,  khutbah-khutbah dan pelajaran-pelajaran sedikit, hingga berkata salah  seorang sahabat.</p>
<p>“Artinya : Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala  memberikan nasehat mencari keadaan dimana kita giat, lantaran khawatir  kita bosan” [Muttafaqun Alaihi]</p>
<p>Di zaman para sahabat dahulu sedikit perkataan tetapi banyak  perbuatan, mereka mengetahui bahwa apa yang mereka dengar dari  Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam wajib diamalkan, sebagaimana  keadaan tentara yang wajib melaksanakan komando atasannya di medan  pertempuran, dan kalau tidak dilaksanakan kekalahan serta kehinaanlah  yang akan dialami.</p>
<p>Para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu, menerima  wahyu Allah ‘Azza wa Jalla dengan perantaraan Rasulullah Shallallahu  ‘alaihi wa sallam dengan sikap mendengar, taat serta cepat mengamalkan.  Tidaklah mereka terlambat sedikitpun dalam mengamalkan perintah dan  larangan yang mereka dengar, dan juga tidak terlambat mengamalkan ilmu  yang mereka pelajari dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.</p>
<p>Inilah contoh yang menerangkan bagaimana keadaan sahabat Nabi  Shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala mendapatkan wahyu dari Allah ‘Azza  wa Jalla. Para ahli tafsir menyebutkan tentang sebab turunnya ayat  dalam surat Al-Ahzab ayat 36 ini (dengan berbagai macam sebab) , saya  merasa perlu untuk menukilnya, inilah sebab turunnya ayat itu :</p>
<p>Para ahli tafsir meriwayatkan, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi  wa sallam menginginkan untuk menghancurkan adanya perbedaan-perbedaan  tingkatan (kasta) di antara manusia, dan melenyapkan penghalang antara  fuqara (orang-orang fakir) dan orang-orang kaya. Dan juga antara  orang-orang yang merdeka (yaitu bukan budak dan bukan pula  keturunannya), dengan orang-orang yang (mendapatkan nikmat Allah ‘Azza  wa Jalla) menjadi orang merdeka sesudah dulunya menjadi budak.</p>
<p>Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin menerangkan kepada  manusia bahwa mereka semua seperti gigi yang tersusun, tidak ada  keutamaan bagi orang Arab terhadap selain orang Arab, dan tidak ada  keutamaan atas orang yang berkulit putih terhadap yang berkulit hitam  kecuali ketaqwaan (yang membedakan antara mereka). Sebagaimana firman  Allah ‘Azza wa Jalla.</p>
<p>“Artinya : Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari  seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu  berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal.  Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah  orang yang paling bertakwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha  Mengetahui lagi Maha Mengenal” [Al-Hujurat : 13]</p>
<p>Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menanamkan dalam hati  manusia mabda’ (pondasi) ini. Dan barangkali, dalam keadaan seperti ini,  perkataan sedikit faedah dan pengaruhnya, yang demikian itu disebabkan  karena fitrah manusia ingin menonjol dan cinta popularitas. Maka  Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berpendapat untuk menanamkan  pondasi ini dalam jiwa-jiwa manusia dalam bentuk amal perbuatan (yang  beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam wujudkan) dalam lingkungan keluarga  serta kerabat beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini dikarenakan  amal perbuatan lebih banyak memberi kesan dan pengaruh yang mendalam  dalam hati manusia, dari hanya sekedar berbicara semata.</p>
<p>Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pergi kepada Zainab  binti Jahsiy anak perempuan bibi beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam  (kakek Zainab dan kakek Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sama  yaitu Abdul Mutthalib seorang tokoh Quraisy) untuk meminangnya. Beliau  Shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin mengawinkannya dengan budak beliau  Zaid bin Haritsah yang telah diberi nikmat Allah menjadi orang merdeka  (lantaran dibebaskan dari budak). Lalu tatkala beliau menyebutkan bahwa  beliau akan menikahkan Zaid bin Haritsah dengan Zainab binti jahsiy,  berkatalah Zainab binti Jahsiy : “Saya tidak mau menikah dengannya”.  Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab : “Engkau  harus menikah dengannya”. Dijawab oleh Zainab : “Tidak, demi Allah,  selamanya saya tidak akan menikahinya”.</p>
<p>Ketika berlangsung dialog antara Zainab dan Rasulullah Shallallahu  ‘alaihi wa sallam, Zainab mendebat dan membantah beliau Shallallahu  ‘alaihi wa sallam, kemudian turunlah wahyu yang memutuskan perkara itu :</p>
<p>“Artinya : Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak  (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan RasulNya telah  menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain)  tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan RasulNya  maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata” [Al-Ahzab : 36]</p>
<p>Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan ayat  tersebut kepada Zainab, maka berkatalah Zainab : “Ya Rasulullah ! apakah  engkau ridha ia menjadi suamiku ?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa  sallam menjawab : “Ya”, maka Zainab berkata : “Jika demikian aku tidak  akan mendurhakai Allah dan RasulNya, lalu akupun menikah dengan Zaid”.</p>
<p>Demikianlah Zainab binti Jahsiy menyetujui perintah Allah dan  RasulNya, dan hanyalah keadaannya tidak setuju pada awal kalinya,  lantaran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam hanyalah menawarkan  dan bermusyawarah dengannya. Maka tatkala turun wahyu, perkaranya bukan  hanya perkara nikah atau meminang, setuju atau tidak setuju, tetapi  (setelah turunnya wahyu), perkaranya berubah menjadi ketaatan atau  bermaksiat kepada Allah dan RasulNya.</p>
<p>Tidak ada jalan lain didepan Zainab binti Jahsiy Radhiyallahu ‘anha  (semoga Allah meridhainya), melainkan harus mendengar dan taat kepada  Allah dan RasulNya, dan kalau tidak taat maka berarti telah durhaka  kepada Allah dan RasulNya, sedangkan Allah berfirman.</p>
<p>“Artinya : Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan rasulNya maka  sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata”  [Al-Ahzab : 36]</p>
<p>Demikianlah , sikap para sahabat Nabi dahulu tatkala menerima wahyu  dari Allah ‘Azza wa Jalla, adapun kita (berbeda sekali), tiap pagi dan  petang telinga kita mendengarkan perintah-peritah serta  larangan-larangan Allah dan RasulNya, akan tetapi seolah-olah kita tidak  mendengarkannya sedikitpun. Dan Allah Jalla Jalaluhu telah menerangkan  bahwa manusia yang paling celaka adalah manusia yang tidak dapat  mengambil manfaat suatu nasehat, Allah berfirman.</p>
<p>“Artinya : Oleh sebab itu berikanlah peringatan karena peringatan itu  bermanfaat, orang yang takut (kepada Allah) akan mendapat pelajaran,  orang-orang yang celaka (kafir) akan menjauhinya. (Yaitu) orang yang  akan memasuki api yang besar (neraka). Kemudian dia tidak mati di  dalamnya dan tidak (pula) hidup” [Al-A'la : 9-13]</p>
<p>Dan Allah ‘Azza wa Jalla menyebutkan keadaan orang munafik tatkala  mereka hadir dalam majelis Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,  mereka hadir dengan hati yang lalai.</p>
<p>“Artinya : Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka  menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata kamu mendengarkan  perkataan mereka. Mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar. Mereka  mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka.  Mereka itulah musuh (yang sebenarnya), maka waspadalah terhadap mereka ;  semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai  dipalingkan (dari kebenaran)?” [Al-Munafiqun : 4]</p>
<p>Lalu tatkala bubar dari majelis, mereka tidak memahami sedikitpun,  Allah berfirman.</p>
<p>“Artinya : Dan di antara mereka ada orang yang mendengarkan  perkataanmu sehingga apabila mereka keluar dari sisimu mereka berkata  kepada orang yang lebih diberi ilmu pengetahuan (sahabat-sahabat Nabi) :  ‘Apakah yang dikatakan tadi ?’ Mereka itulah orang-orang yang dikunci  mati hati mereka oleh Allah dan mengikuti hawa nafsu mereka” [Muhammad :  16]</p>
<p>Takutlah terhadap diri-diri kalian ! (wahai hamba Allah), dari  keadaan yang terjadi pada orang-orang munafik, berusaha dan  bersemangatlah untuk bersikap sebagaimana para sahabat Nabi Shallallahu  ‘alaihi wa sallam. Ketahuilah ! sebagaimana Allah ‘Azza wa Jalla telah  mencela orang-orang yang berpaling dan lalai, sungguh Allah ‘Azza wa  Jalla memuji orang-orang yang mendengarkan perkataan lalu memahami  seperti yang dimaksud oleh Allah ‘Azza wa Jalla, lalu mengamalkannya,  Allah ‘Azza wa Jalla berfirman.</p>
<p>“Artinya : Sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba-hambaKu,  yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di  antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk  dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal” [Az-Zumar : 17-18]</p>
<p>Ketahuilah wahai hamba Allah yang muslim, bahwa tidak ada pilihan  bagi kalian terhadap perintah Allah yang diperintahkan kepadamu ! tidak  ada lagi pilihan bagimu ! baik engkau kerjakan ataupun tidak.</p>
<p>Tidak ada lagi pilihan bagimu terhadap larangan Allah ‘Azza wa Jalla  yang engkau dilarang darinya ! baik engkau tinggalkan ataupun tidak !  Engkau dan apa yang engkau miliki semuanya adalah milik Allah ‘Azza wa  Jalla engkau hamba Allah, dan Allah ‘Azza wa Jalla adalah tuanmu. Bagi  seorang hamba, hendaknya mencamkan dalam dirinya untuk mendengar dan  taat kepada perintah tuannya, sekalipun perintah itu nampak berat atas  dirinya. Dan kalau tidak taat, tentu akan mendapatkan murka dari  majikannya.</p>
<p>Dan Allah ‘Azza wa Jalla telah meniadakan keimanan dari orang-orang  yang tidak ridha dengan hukumNya dan tidak tunduk kepada RasulNya dan  perintah RasulNya, Allah berfirman.</p>
<p>“Artinya : Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak  (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan RasulNya telah  menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain)  tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan RasulNya  maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nayata” [Al-Ahzab : 36]</p>
<p>Sesudah itu, hendaklah anda (wahai para pembaca yang mulia) bersama  dengan saya memperhatikan perbandingan ini :</p>
<p>Kita tadi telah mengatakan : Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa  sallam pergi ke Zainab binti Jahsiy Radhiyallahu ‘anha untuk meminangnya  bagi Zaid bi Haritsah. Awalnya Zainab menolak, karena pinangan  Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya bersifat menolong semata,  (bukan perintah). Maka tatkala turun ayat, berubahlah perkaranya  menjadi perintah untuk taat (kepada Allah dan RasulNya).</p>
<p>Tidak ada keleluasaan bagi zainab binti Jahsiy sesudah turunnya ayat  itu, kecuali (harus) mendengar dan taat. Dan kalaulah perkaranya hanya  menolong semata, tentu Zainab binti Jahsiy berhak menolak (jika tidak  setuju), karena seorang wanita berhak memilih calon suami, sebagaimana  lelaki memilih calon istri, dan inilah yang terjadi pada kisah Barirah :</p>
<p>Dan kisahnya Barirah adalah sebagaimana diriwayatkan Imam Bukhari :  “Bahwa ‘Aisyah Ummul Mu’minin Radhiyallahu ‘anha membeli seorang budak  bernama Barirah, lalu ‘Aisyah memerdekakannya. Barirah ini mempunyai  suami bernama Mughis (dan ia juga seorang budak). Maka tatkala  dimerdekakan Barirah mempunyai hak untuk memilih, apakah ia tetap  berdampingan dengan suaminya (yang seorang budak), atau bercerai.  Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan pilihan baginya.  Ternyata Barirah memilih untuk bercerai dengan suaminya.</p>
<p>Adapun suaminya, sungguh sangat mencintainya dengan kecintaan yang  sangat. Hingga tatkala Barirah memilih bercerai dengannya, ia  berjalan-jalan di belakang Barirah di kampung-kampung kota Madinah dalam  keadaan menangis. Maka tatkala Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam  melihat keadaannya itu, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata  kepada paman beliau Abbas : “Tidakkah engkau heran terhadap kecintaan  Mughis kepada Barirah ? sedang Barirah tidak menyukai Mughis ?” Lalu  Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Barirah : “Wahai  Barirah, mengapa engkau tidak kembali kepada sumimu?” sesungguhnya ia  adalah suamimu dan ayah dari anak-anakmu!” Maka Barirah berkata : “Wahai  Rasulullah, apakah engkau memerintah atau hanya mengajurkan saja ?”</p>
<p>Allahu Akbar !! perhatikanlah wahai para pembaca pertanyaan Barirah  ini !! Wahai Rasulullah, apakah engkau memerintah ? Sehingga aku tidak  berhak menyelisihi perintahmu ? atau engkau hanya menganjurkan saja  sehingga aku boleh berpendapat dengan pikiranku? Rasululah Shallallahu  ‘alaihi wa sallam bersabda : “Aku hanya mengajurkan saja !”. Barirah  berkata : “Aku tidak membutuhkan suamiku lagi !!”</p>
<p>Disini kami berkata : “Pertama kali Zainab binti Jahsiy menolak untuk  menikah dengan Zaid bin Haritsah, karena masalahnya hanyalah anjuran  semata, maka tatkala turun wahyu perkaranya berubah menjadi ketaatan  atau maksiat.</p>
<p>Zainab binti Jahsiy berkata : “Wahai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi  wa sallam apakah engkau meridhai aku menikah dengannya ?” Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab : “Ya”. Jika demikian aku tidak  akan mendurhakai Allah dan RasulNya.</p>
<p>Dan juga terhadap Barirah, tatkala Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa  sallam menawarkan agar ia kembali kepada suaminya, ayah dari  anak-anaknya yang tidak dapat bersabar untuk berpisah dengannya, Barirah  meminta penjelasan : “Apakah engkau menyuruhku wahai Rasulullah ?”  Sehingga tidak ada keleluasaan bagiku kecuali harus mendengar dan taat ?  Maka tatkala Rasulullah bersabda : “Aku hanya menganjurkan” berkatalah  Barirah : “Aku tidak membutuhkannya lagi”.</p>
<p>Demikianlah adab para Sahabat terhadap Allah dan Rasulnya, serta  beragama karena Allah dan RasulNya dengan sikap mendengar dan taat, maka  Allah menguasakan kepada mereka dunia ini, dan masuklah manusia  ditangan mereka kepada agama Allah secara berbondong-bondong. Adapun  kita, tatkala tidak beradab kepada Allah dan RasulNya, kita bimbang dan  menimbang-nimbang antara perintah dan larangan-laranganNya (kita  kerjakan atau tidak kita kerjakan), maka jadilah keadaan kita ini  sebagaimana yang kita saksikan saat ini, maka demi Allah, kepadaNya-lah  kalian mohon pertolongan, wahai kaum muslimin !</p>
<p>“Artinya : Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah  kepadaNya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat  ditolong (lagi)” [Az-Zumar : 54]</p>
<p>“Artinya : Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai  orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung” [An-Nuur : 31]</p>
<p>[Disalin dari Majalah Adz-Dzkhiirah Al-Islamiyah Edisi : Th. 1/No.  04/ 2003 - 1424H, Diterbitkan : Ma'had Ali Al-Irsyad surabaya. Alamat  Redaksi Perpustakaan Bahasa Arab Ma'had Ali Al-Irsyad, Jl Sultan  Iskandar Muda 46 Surabaya]  (http://www.almanhaj.or.id/content/781/slash/0)</p>
</div>
<br /> Tagged: <a href='http://kisahrasul.wordpress.com/tag/ilmu/'>ilmu</a>, <a href='http://kisahrasul.wordpress.com/tag/menerima/'>menerima</a>, <a href='http://kisahrasul.wordpress.com/tag/metode/'>metode</a>, <a href='http://kisahrasul.wordpress.com/tag/salaf/'>salaf</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kisahrasul.wordpress.com/150/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kisahrasul.wordpress.com/150/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kisahrasul.wordpress.com/150/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kisahrasul.wordpress.com/150/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kisahrasul.wordpress.com/150/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kisahrasul.wordpress.com/150/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kisahrasul.wordpress.com/150/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kisahrasul.wordpress.com/150/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kisahrasul.wordpress.com/150/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kisahrasul.wordpress.com/150/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kisahrasul.wordpress.com/150/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kisahrasul.wordpress.com/150/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kisahrasul.wordpress.com/150/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kisahrasul.wordpress.com/150/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kisahrasul.wordpress.com&amp;blog=11358830&amp;post=150&amp;subd=kisahrasul&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kisahrasul.wordpress.com/2010/04/20/metode-salaf-dalam-menerima-ilmu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cf6aee1c0b0b2907d03b9e89b3aff34d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kisahrasul</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>AKHLAK ORANG YANG BERJIWA BESAR (Bag. IV)</title>
		<link>http://kisahrasul.wordpress.com/2010/04/20/akhlak-orang-yang-berjiwa-besar-bag-iv/</link>
		<comments>http://kisahrasul.wordpress.com/2010/04/20/akhlak-orang-yang-berjiwa-besar-bag-iv/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Apr 2010 20:00:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kisahrasul</dc:creator>
				<category><![CDATA[akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[berjiwa besar]]></category>
		<category><![CDATA[hamidi]]></category>
		<category><![CDATA[ridwan]]></category>
		<category><![CDATA[sabt]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kisahrasul.wordpress.com/?p=129</guid>
		<description><![CDATA[Imam Ahmad rahimahullah telah disiksa dan diperlakukan secara zalim. Namun beliau tidak pernah membuka lagi catatan-catatan masa lalu saat ketika disiksa, tidak ingin mengingat orang-orang yang dahulu pernah terlibat dalam penyiksaan beliau, serta tidak pernah mengungkit-ungkit lagi bahwa “si fulan yang dulu mengejek saya, si fulan yang dulu begini dan begitu”. Beliau tidak membuat perhitungan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kisahrasul.wordpress.com&amp;blog=11358830&amp;post=129&amp;subd=kisahrasul&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<p>Imam Ahmad <em>rahimahullah</em> telah disiksa dan diperlakukan secara zalim. Namun beliau tidak pernah  membuka lagi catatan-catatan masa lalu saat ketika disiksa, tidak ingin  mengingat orang-orang yang dahulu pernah terlibat</p>
<p><span id="more-129"></span> dalam penyiksaan  beliau, serta tidak pernah mengungkit-ungkit lagi bahwa “si fulan yang  dulu mengejek saya, si fulan yang dulu begini dan begitu”. Beliau tidak  membuat perhitungan dengan orang-orang tersebut, bahkan menghamparkan  pintu maaf yang seluas-luasnya bagi semua orang-orang tersebut.</p>
<p>Contoh lain yang sangat mulia adalah perkara Syaikhul Islam Ibnu  Taimiyah <em>rahimahullah</em> yang divonis kafir dan difatwakan bahwa  darahnya halal oleh para ulama di zamannya. Beliau dicampakkan dari satu  penjara ke penjara lain kemudian disiksa dari waktu ke waktu. Namun  setelah beliau bebas, beberapa ahlu bid’ah dan orang-orang yang ingin  membela beliau datang memohon maaf pada beliau.</p>
<p>Salah satu musuh utama beliau adalah seorang ulama Madzhab Maliki  yang bernama Ibnu Makhluf. Ia wafat pada masa Ibnu Taimiyah. Salah satu  murid Ibnu Taimiyah, yakni Ibnul Qayyim al-Jauziyyah mengetahui prihal  kematian Ibnu Makhluf, lalu bersegera menemui Ibnu Taimiyah dan  menyampaikan kabar gembira ini. Akan tetapi, lihatlah reaksi Syaikhul  Islam Ibnu Taimiyah kala menyaksikan muridnya memberitahukan kematian  musuh besarnya, kita lihat apakah beliau sujud syukur? Apakah beliau  mengatakan ‘<em>Alhamdulillah</em>‘ maha suci Allah yang telah  menyelamatkan kaum muslimin dari kejahatannya’? Tidak, tidak seperti  yang dilakukan oleh orang-orang sekarang. Syaikhul Islam terhadap musuh  besarnya, Ibnu Makhluf saat meninggal beliau tidak sujud syukur, tidak  pula mengucapkan kalimat-kalimat yang menggambarkan kebenciannya. Tidak  seperti yang dilakukan oleh sebagian orang sekarang. Begitu bencinya  kepada seseorang sehingga ketika mendengar kabar kematian orang yang  dibencinya, ia mengeluarkan ungkapan-ungkapan yang tidak layak diucapkan  oleh seorang muslim.</p>
<p>Bahkan Syaikhul Islam menghardik Ibnul Qoyyim kemudian mengingkari  perbuatannya karena menyampaikan kegembiraan atas kematian musuh besar  beliau, lantas beliau mengucapkan kalimat <em>istirja’, “inna lillaahi  wa inna ilaihi raaji’un”, </em>dan bersegera mengunjungi rumah Ibnu  Makhluf, ber<em>ta’ziah</em> dan kemudian mengatakan kepada keluarga,  anak dan istri Ibnu Makhluf, “<strong>Sungguh saat ini status saya  seperti bapak bagi kalian. Tidak ada sesuatu pun yang kalian butuhkan  melainkan aku akan berusaha memenuhi kebutuhan kalian.</strong>”  Akhirnya mereka, keluarga Ibnu Makhluf, senang dan menghadiahkan doa  bagi Syaikhul Islam.</p>
<p>Perhatikan keadaan musuh besar beliau. Dan kita tahu, kalau seorang  itu musuh besar Ibnu Taimiyah, pasti orang ini aqidah-nya bermasalah.  Namun ketika meningggal dunia, Syaikhul Islam mendatangi rumahnya dan  menyampaikan bahwa mulai hari ini semua kebutuhan keluarganya menjadi  tanggungan Syaikhul Islam. Pertanyaannya, siapa diantara kita yang bisa  berbuat seperti ini?! Siapa diantara kita yang ketika musuhnya meninggal  lalu mendatangi keluarganya, mendatangi anak-anaknya kemudian ber<em>ta’ziah</em> kepada mereka? Siapa diantara kita yang bisa sampai mengatakan, bahwa  tidak ada keperluan yang kalian butuhkan melainkan aku akan penuhi  kebutuhan tersebut? Siapa diantara kita yang bisa berbuat seperti itu?!  Hanya orang-orang yang berjiwa besar. Bahkan kalau kita mau jujur, tidak  hanya itu, bahkan kepada teman dekat pun kita belum bisa berbuat  seperti itu apalagi terhadap musuh.</p>
<p>Sekarang kalau kita mau jujur pula, jangankan musuh kepada teman kita  saja tidak seperti itu. Ini bukti bahwa ukhuwah kita buruk sekali.  Kalau teman kita ada yang terkena musibah seperti itu, diantara kita  siapa yang dapat berlaku dan berbuat seperti itu? Ada teman yang  keluarganya meninggal, maka saksikanlah, adakah diantara kita yang  datang kepada keluarganya dan mengatakan “saya akan memenuhi kebutuhan  kalian”.</p>
<p>Yah, Syaikhul Islam <em>rahimahullah</em> mendatangi orang yang telah  menfatwakan dirinya telah kafir. Ini bukti bahwa orang itu sangat amat  mememusuhi Syaikhul Islam. Jika kita katakan dia ahli bid’ah, tentu  sifat-sifat ini ada pada diri Ibnu Makhluf. Akan tetapi, Syaikhul Islam  Ibnu Taimiyah <em>rahimahullah</em> bersikap lebih besar dari itu, dan  ini sekali lagi menunjukkan bahwa beliau bukan seorang yang berjiwa  kerdil.</p>
<p><em>Ayyuhal Ikhwan, </em>seandainya perangai kita seperti akhlak ini,  tentu kita dapat lebih banyak meraih hati orang. Tetapi kadang kita  memperlakukan mereka (orang yang berbeda dengan kita atau orang yang  menyakiti kita) seperti dalam ayat-ayat yang Allah tegaskan, bahwa ia  ditujukan kepada kaum munafiqin. Yakni, tidak boleh <em>istigfar</em> (memohonkan ampunan) untuk mereka, tidak boleh menyolatkan mereka, tidak  boleh (ikut) menguburkan mereka dan selainnya. Celakanya, hukum-hukum  ini kita aplikasikan kepada orang yang kami sebutkan (dan masih  berstatus sebagai seorang mukmin).</p>
<p>Yah, kadang kita bermuamalah pada sebagian kaum muslimin dengan model  muamalah seperti disebutkan dalam al-Qur’an, yakni muamalah dengan  orang munafiqin. Kita menjadi orang-orang yang <strong><em>asyida’ alal  Mu’minin</em></strong><em>, </em>[orang yang sangat keras kepada orang  mukmin]. Kita menjadi orang-orang yang keras kepada <em>ahlu iman</em> padahal Allah Ta’ala menyifati orang-orang mukmin dan para shahabat yang  bersana Rasulullah <em>shallallahu alaihi wasallam</em> sebagai  orang-orang yang <strong><em>Asyida’ ‘alal kuffar</em> <em>ruhamaa’u  bainahum</em></strong> [keras terhadap kaum kuffar dan saling berkasih  sayang di antara mereka (kaum mukminin)]. Sayangnya, kita kemudian  menjadi orang yang terbalik. Kepada orang-orang yang beriman kasarnya  luar biasa, namun kepada orang-orang kafir tidak ada sikap keras  (sebagai bentuk ‘izzah).</p>
<p>Perhatikahn, Rasulullah <em>shallallahu alaihi wasallam</em> yang  telah mencapai kesempurnaan dan kemuliaan akhlak masih saja  diperintahkan oleh Allah Ta’ala bersikap lemah lembut, sebagaimana dalam  firman-Nya:</p>
<p><strong>وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظً الْقَلْبِ لَا نْفَضُوْا مِنْ  حَوْلِكَ</strong></p>
<p>“<em>Seandainya kamu </em><em>bersikap keras lagi berhati kasar,  tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu</em>”</p>
<p>Ayat ini diturunkan kepada nabi Muhammad <em>shallallahu alaihi  wasallam</em> sebagai pelajaran bagi beliau dan selainnya. Jika saja  Rasul berbuat kasar tentu orang akan lari darinya, maka bagaimana dengan  yang bukan rasul. Padahal Rasul mendapat banyak dukungan untuk kemudian  diterima dakwahnya, beliau mendapat wahyu, ma’sum, memiliki akhlak yang  mulia, dan sebagiainya. Dan disamping itu semua, tetap saja masih  diperintahkan bersikap lemah lembut, hingga Allah Ta’ala tegaskan:</p>
<p dir="rtl"><strong>وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظً الْقَلْبِ لَا  نْفَضُوْا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَ اسْتَغْفِرْ الَهُمْ وَ  شَاوِرُهُمْ فِي الْآَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى الله</strong></p>
<p><em>“Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah  mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu, karena itu maafkanlah mereka,  mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam  urusan itu (urusan peperangan dan hal duniawiah yang lain). Kemudian  apabila kamu telah membulatkan tekat, maka bertawakallah kepada Allah</em> (QS. Al Imran : 159).</p>
</div>
<br /> Tagged: <a href='http://kisahrasul.wordpress.com/tag/akhlak/'>akhlak</a>, <a href='http://kisahrasul.wordpress.com/tag/berjiwa-besar/'>berjiwa besar</a>, <a href='http://kisahrasul.wordpress.com/tag/hamidi/'>hamidi</a>, <a href='http://kisahrasul.wordpress.com/tag/ridwan/'>ridwan</a>, <a href='http://kisahrasul.wordpress.com/tag/sabt/'>sabt</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kisahrasul.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kisahrasul.wordpress.com/129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kisahrasul.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kisahrasul.wordpress.com/129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kisahrasul.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kisahrasul.wordpress.com/129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kisahrasul.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kisahrasul.wordpress.com/129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kisahrasul.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kisahrasul.wordpress.com/129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kisahrasul.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kisahrasul.wordpress.com/129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kisahrasul.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kisahrasul.wordpress.com/129/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kisahrasul.wordpress.com&amp;blog=11358830&amp;post=129&amp;subd=kisahrasul&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kisahrasul.wordpress.com/2010/04/20/akhlak-orang-yang-berjiwa-besar-bag-iv/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cf6aee1c0b0b2907d03b9e89b3aff34d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kisahrasul</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>BERJIHADLAH DENGAN ILMU DAN DENGAN AL-QUR’AN</title>
		<link>http://kisahrasul.wordpress.com/2010/04/13/berjihadlah-dengan-ilmu-dan-dengan-al-qur%e2%80%99an/</link>
		<comments>http://kisahrasul.wordpress.com/2010/04/13/berjihadlah-dengan-ilmu-dan-dengan-al-qur%e2%80%99an/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Apr 2010 09:00:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kisahrasul</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tanya Jawab]]></category>
		<category><![CDATA[al-Qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[ali]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[jihad]]></category>
		<category><![CDATA[syaikh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kisahrasul.wordpress.com/?p=146</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Ali Syaikh Pertanyaan. Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Ali Syaikh ditanya : Apakah arahan dan bimbingan Syaikh kepada peserta daurah yang berasal dari negeri yang banyak didapati perbuatan bid’ah dan kesyirikan ? Jawaban Menyebarkan ilmu adalah ibadah dan jihad, Allah Jalla Jalaluhu memerintahkan NabiNya yang pada waktu itu berada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kisahrasul.wordpress.com&amp;blog=11358830&amp;post=146&amp;subd=kisahrasul&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<p>Oleh<br />
Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Ali Syaikh</p>
<p>Pertanyaan.<br />
Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Ali Syaikh ditanya : Apakah arahan dan  bimbingan Syaikh kepada peserta daurah yang berasal dari negeri yang  banyak didapati perbuatan bid’ah dan kesyirikan ?</p>
<p>Jawaban<br />
Menyebarkan ilmu adalah ibadah dan jihad, Allah Jalla Jalaluhu  memerintahkan NabiNya yang pada waktu itu berada di Mekkah untuk  berjihad kepada kaum musyrikin (orang-orang yang mempersekutukan Allah  Jalla Jalaluhu) dengan ilmu.</p>
<p><span id="more-146"></span></p>
<p>Allah Jalla Jalaluhu berfirman yang artinya.</p>
<p>“Artinya : Maka janganlah engkau mengikuti orang-orang kafir, dan  berjihadlah terhadap mereka dengan Al-Qur’an dengan jihad yang besar”  [TQS. Al-Furqon : 53]</p>
<p>Yaitu berjihad “ dengan ilmu” dan “dengan Al-Qur’an”. Dengannya  kebaikan dan pengaruh akan menetap.</p>
<p>Penuntut ilmu itu mempengaruhi dan menyebarkan kebaikan, oleh karena  itu dalam hadits disebutkan.</p>
<p>“Artinya : Keutamaan seorang yang berilmu atau ahli ibadah adalah  sebagaimana keutamaanku atas orang yang terendah dari kalian”.</p>
<p>Adapun orang yang shalih itu hanya bagi dirinya sendiri, tidaklah  memberi pengaruh kecuali kepada dirinya sendiri, maka tidak syak lagi  keutamaan ilmu sangat agung. Jika seseorang siap untuk mengajarkan  (ilmu) di negerinya maka hal ini baik. Dari kebiasaan manusia ia akan  menuju (dalam menuntut ilmu) kepada para ulama yang terkemuka dan  berpaling dari penuntut ilmu yang (tingkatan ilmunya) dibawah ulama.  Saya katakan perkara ini sesuai dengan tabi’at (manusia).</p>
<p>Dan peran penuntut ilmu yang menghadiri majelis ilmu yang menerangkan  “matan-matan pendek” (tulisan ringkas dari seorang ulama yang belum  dijelaskan) dan mereka menguasai ilmu tauhid, atau sejarah Nabi  Shallallahu ‘alaihi wa sallam agar pergi ke negeri lain dan mengadakan  daurah ilmiyah, (di Afrika, Indonesia) serta (hendaknya) mengerluarkan  harta dan (mengajarkan) ilmu tentang aqidah, disertai sikap taqwa kepada  Allah Jalla Jalaluhu terhadap apa yang mereka ucapkan.</p>
<p>Dan ilmu yang paling utama (yang seharusnya disampaikan) di suatu  negeri yang tersebar bid’ah dan kesyirikan adalah ilmu tauhid yaitu ilmu  (yang menjelaskan) hak Allah Jalla Jalaluhu yang wajib ditunaikan  hambaNya. Ilmu inilah yang dibawa oleh para rasul dan didakwahkan  mereka, maka ilmu inilah yang paling utama untuk anda wariskan dan  kekalkan di setiap tempat manapun. Kemudian anda ajarkan Al-Qur’an dan  hadits, karena inilah yang kekal dan diterima, lalu ajarkan arbain  Nawawi atau semisalnya, jangan pedulikan keritikan dan pengingkaran  ulama di negeri itu, (karena mereka berkhayal dengan was-was syaithan),  dan jangan pedulikan permusuhan syaithan terhadap wali-wali Allah Jalla  Jalaluhu.</p>
<p>Oleh karena itu jihad yang paling utama terhadap musuh-musuh Allah  Jalla Jalaluhu dan syaithan adalah menyebarkan ilmu. Sebarkanlah ilmu di  setiap tempat sesuai kemampuanmu dan bertaqwalah keapda Allah Jalla  Jalaluhu, dan oleh sebab itu.</p>
<p>“Artinya : Dan katakanlah : “Ya Allah tambahkanlah kepadaku ilmu”  [TQS. Thaha : 114]</p>
<p>[Disalin dari Majalah Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah, Edisi 02  Dzulqo’dah 1423/Januari 2003.  Ma’had Ali Al-Irsyad Jl Sultan Iskandar  Muda 45 Surabaya]</p>
</div>
<br /> Tagged: <a href='http://kisahrasul.wordpress.com/tag/al-quran/'>al-Qur'an</a>, <a href='http://kisahrasul.wordpress.com/tag/ali/'>ali</a>, <a href='http://kisahrasul.wordpress.com/tag/ilmu/'>ilmu</a>, <a href='http://kisahrasul.wordpress.com/tag/jihad/'>jihad</a>, <a href='http://kisahrasul.wordpress.com/tag/syaikh/'>syaikh</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kisahrasul.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kisahrasul.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kisahrasul.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kisahrasul.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kisahrasul.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kisahrasul.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kisahrasul.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kisahrasul.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kisahrasul.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kisahrasul.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kisahrasul.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kisahrasul.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kisahrasul.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kisahrasul.wordpress.com/146/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kisahrasul.wordpress.com&amp;blog=11358830&amp;post=146&amp;subd=kisahrasul&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kisahrasul.wordpress.com/2010/04/13/berjihadlah-dengan-ilmu-dan-dengan-al-qur%e2%80%99an/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cf6aee1c0b0b2907d03b9e89b3aff34d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kisahrasul</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>AKHLAK ORANG YANG BERJIWA BESAR (Bag. III)</title>
		<link>http://kisahrasul.wordpress.com/2010/04/13/akhlak-orang-yang-berjiwa-besar-bag-iii/</link>
		<comments>http://kisahrasul.wordpress.com/2010/04/13/akhlak-orang-yang-berjiwa-besar-bag-iii/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Apr 2010 20:00:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kisahrasul</dc:creator>
				<category><![CDATA[akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[berjiwa besar]]></category>
		<category><![CDATA[hamidi]]></category>
		<category><![CDATA[ridwan]]></category>
		<category><![CDATA[sabt]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kisahrasul.wordpress.com/?p=127</guid>
		<description><![CDATA[Ayyuhal Ikhwan, banyak sekali contoh dari sikap salufus shalih yang patut kita teladani berkaitan dengan sifat ‘afuu. Di sini kami tidak banyak gunakan sebagai contoh dari Rasulullah shallallahu alaihi wasalam, lantaran beberapa sebab. Pertama, karena akhlak Nabi shallallahu alaihi wasallam adalah akhlak Al-Quran, sebagai mana disampaikan Ummul Mu’minin A’isyah radhiallahu anha, “Sungguh akhlak beliau (Nabi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kisahrasul.wordpress.com&amp;blog=11358830&amp;post=127&amp;subd=kisahrasul&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Ayyuhal Ikhwan</em>, banyak sekali contoh dari sikap salufus  shalih yang patut kita teladani berkaitan dengan sifat <em>‘afuu</em>.  Di sini kami tidak banyak gunakan sebagai contoh dari Rasulullah <em>shallallahu  alaihi wasalam</em>, lantaran beberapa sebab.</p>
<p><strong><em>Pertama</em></strong>, karena akhlak Nabi <em>shallallahu  alaihi wasallam</em> adalah akhlak</p>
<p><span id="more-127"></span> Al-Quran, sebagai mana disampaikan <em>Ummul  Mu’minin</em> A’isyah <em>radhiallahu anha,</em> “<em>Sungguh akhlak  beliau (Nabi shallallahu alaihi wasallam) adalah al-Quran</em>.” Karena  akhlak beliau adalah Al-Quran, maka jelas kita meyakini bahwa dari sisi  akhlak beliau-lah yang paling mulia, paling lapang dada dan berjiwa  besar. <strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em>Kedua,</em></strong> agar orang tidak beralasan, bahwa  Rasulullah <em>shallallahu alaihi wasallam</em> dapat bersifat lapang  dada, berjiwa besar dan mudah memaafkan karena beliau adalah rasul, <em>maksum</em> dan telah disucikan oleh Allah Ta’ala. Beliau telah disucikan dari  bagian setan, dibersihkan dadanya dari bagian-bagian setan pada masa  kecil dan saat isra’ dan mi’raj. Dimana hal ini kemudian dijadikan  sebagai alasan untuk membenarkan perbuatan-perbuatan salahnya. Olehnya,  kami mengangkat contoh dari kehidupan para salafus shalih agar orang  tidak beralasan dengan alasan-alasan tersebut di atas. Dan agar kita  dapat menakar seberapa jauh akhlak kita dibanding akhlak mereka. Yang  paling penting adalah, kita mau merubah akhlak dan tidak perlu melihat  contohnya dari siapapun. Artinya, kendati contohnya bukan dari  Rasulullah <em>shallallahu alaihi wasallam</em>, yang utama di sini  adalah upaya untuk memperbaiki akhlak kita.</p>
<p><em>Ayyuhal ikhwan</em>, cobalah uji bagaimana sikap kita terhadap  orang yang berbeda dengan kita, yakni berbeda dalam aqidah dan manhaj.  Apakah sikap setiap kita seperti dicontohkan para salafus shalih atau  tidak? Sekarang kita lihat orang yang tidak memiliki keimanan sama  sekali, maka sebagimana keyakinan Ahlu Sunnah wal Jamaah kita tidak  boleh memberikan wala’ sedikitpun kepada orang tersebut.</p>
<p dir="rtl"><strong>لا تَجِدُ قَوْماً يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ  الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ</strong><strong> </strong><strong>حَادَّ  اللَّهَ وَرَسُولَهُ</strong></p>
<p><em>“Kamu tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah  dan hari akhir, saling berkasih sayang dengan orang yang menentang Allah  dan Rasul-Nya.” </em>(Al Mujaadilah:22).</p>
<p>Berbeda dengan orang yang pada dirinya masih terdapat amal shalih dan  amal <em>sayyi’</em> (amal yang tidak baik), terkumpul padanya syubhat,  bid’ah, kesesatan atau syahwat, serta kebaikan dan maksiat, maka <em>wala’</em> dan <em>baro’</em> kita terbagi, tidak diberi <em>al-wala’</em> seratus  persen, dan tidak pula diarahkan padanya <em>al-baro’</em> seratus  persen. Sebab aqidah Ahlu Sunnah wal Jama’ah dalam masalah ini jelas,  bahwa kita mencintai seseorang sesuai kadar keimanan dan <em>ittiba’</em>-nya  pada sunnah, dan kita benci pada orang yang sama sesuai kadar  penyimpangannya dari syariat ini.</p>
<p>Inilah yang kadang menjadi rancu pada sebagian orang ketika  bermuamalah dengan orang lain yang berbeda. Seharusnya diberikan sikap  yang menjadi ciri aqidah Ahlu Sunnah wal Jama’ah terhadap orang yang  dalam dirinya ada keimanan dan maksiat, keimanan dan bid’ah, keimanan  dan syubhat, maka wala’ kita tidak diberikan seratus persen dan tidak  juga ditinggalkan keseluruhannya. Yang diarahkan padanya wala’ secara  sempurna hanyanya kepada orang yang beriman dengan sempurna. Adapun  terhadap orang yang beriman namun masih tercampur amal shaleh dan amal  buruk, masih ada dalam dirinya bid’ah maka <em>wala’</em> kita tidak  diberikan seratus persen. Kita mencintai seseorang sesuai kadar keimanan  dan <em>ittiba’-</em>nya terhadap sunnah, dan membenci sesuai kadar  penyimpangannya dari sunnah. Sayangnya, inilah yang digunakan sebagai  alasan oleh orang untuk membela dirinya dengan mengatasnamakan dien,  agama, dan sunnah.</p>
<p>Bercerminlah pada diri Imam Ahmad bin Hambal <em>rahimahullah</em>,  Imam Ahlu Sunnah wal Jama’ah. Beliau dirantai dan disiksa dari satu  penjara ke penjara lain. Didera pada siang hari di bulan Ramadhan dalam  keadaan berpuasa. Dijebloskan dalam penjara sementara darah segar masih  menetes dari tubuhnya. Semua ini terjadi saat fitnah <em>khalqil Quran</em> (para ahlu bid’ah dan penguasa memaksa Imam Ahmad mengatakan “al-Quran  itu makhluk”, padahal al-Quran bukan makhluk akan tetapi Firman Allah).  Kita perhatikan, ketika beliau marah, marahnya bukan untuk membalas.  Beliau marah bukan untuk hawa nafsunya, akan tetapi marahnya karena  Allah Ta’ala. Makanya tidak berat beliau mengatakan ”<strong>S</strong><strong>emua  yang pernah membicarakan-ku m</strong><strong>a</strong><strong>ka  mereka semua halal dan aku maafkan. Dan aku-pun memaafkan Abu Ishaq  (Raja Mu’tashim yang telah memenjarakan dan menyiksanya dengan siksaan  berat).</strong>” Dan kemudian beliau mengatakan “Aku maafkan Abu Ishaq,  sebab aku melihat firman Allah Ta’ala:</p>
<p dir="rtl"><strong>وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلا تُحِبُّونَ أَن  يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ</strong><strong> </strong></p>
<p>“<em>Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu  tidak ingin bahwa Allah mengampunimu?</em>” (QS. An Nuur: 22).</p>
<p>Tidakkah kita melihat, Allah Ta’ala maha pengampun lagi maha pemurah.  Jadi, ini menunjukkan bagaimana Allah Ta’ala memerintahkan  hamba-hamba-Nya memberi maaf kepada orang lain. Rasulullah <em>shallallahu  alaihi wasallam</em> memerintahkan Abu Bakar <em>radhiallahu anhu</em> untuk memberi maaf sebagaimana dalam kisah tuduhan palsu pada diri  ‘Aisyah <em>radhiallahu anha</em>, yang oleh kaum munafiqin difitnah  telah melakukan perbuatan zina dengan salah seorang shahabat.</p>
<p><strong>Apa manfaatnya bagi diri kita jika seandainya Allah Ta’ala  mengadzab seseorang hanya untuk kepentingan kita? Atau untuk memuaskan  hawa nafsu dan membalas dendam kita? </strong></p>
<br /> Tagged: <a href='http://kisahrasul.wordpress.com/tag/akhlak/'>akhlak</a>, <a href='http://kisahrasul.wordpress.com/tag/berjiwa-besar/'>berjiwa besar</a>, <a href='http://kisahrasul.wordpress.com/tag/hamidi/'>hamidi</a>, <a href='http://kisahrasul.wordpress.com/tag/ridwan/'>ridwan</a>, <a href='http://kisahrasul.wordpress.com/tag/sabt/'>sabt</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kisahrasul.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kisahrasul.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kisahrasul.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kisahrasul.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kisahrasul.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kisahrasul.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kisahrasul.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kisahrasul.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kisahrasul.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kisahrasul.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kisahrasul.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kisahrasul.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kisahrasul.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kisahrasul.wordpress.com/127/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kisahrasul.wordpress.com&amp;blog=11358830&amp;post=127&amp;subd=kisahrasul&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kisahrasul.wordpress.com/2010/04/13/akhlak-orang-yang-berjiwa-besar-bag-iii/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cf6aee1c0b0b2907d03b9e89b3aff34d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kisahrasul</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MENUNTUT ILMU UNTUK MERAIH MATERI DAN IJAZAH</title>
		<link>http://kisahrasul.wordpress.com/2010/04/06/menuntut-ilmu-untuk-meraih-materi-dan-ijazah/</link>
		<comments>http://kisahrasul.wordpress.com/2010/04/06/menuntut-ilmu-untuk-meraih-materi-dan-ijazah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Apr 2010 09:00:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kisahrasul</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tanya Jawab]]></category>
		<category><![CDATA[Baz]]></category>
		<category><![CDATA[Bin]]></category>
		<category><![CDATA[ijazah]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[materi]]></category>
		<category><![CDATA[menuntut]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kisahrasul.wordpress.com/?p=144</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz Pertanyaan. Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz pernah ditanya : Dilema yang berkembang di kalangan para pelajar (mahasiswa) terutama di fakultas-fakultas dan lembaga-lembaga pengajaran, ungkapan bahwa “ilmu telah sirna bersama para ahlinya. Tidak ada seorang pun yang belajar di lembaga-lembaga pengajaran kecuali untuk memperoleh ijazah dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kisahrasul.wordpress.com&amp;blog=11358830&amp;post=144&amp;subd=kisahrasul&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<p>Oleh<br />
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz</p>
<p>Pertanyaan.<br />
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz pernah ditanya : Dilema yang  berkembang di kalangan para pelajar (mahasiswa) terutama di  fakultas-fakultas dan lembaga-lembaga pengajaran, ungkapan bahwa “ilmu  telah sirna</p>
<p><span id="more-144"></span> bersama para ahlinya. Tidak ada seorang pun yang belajar di  lembaga-lembaga pengajaran kecuali untuk memperoleh ijazah dan materi.”  Bagaimana menyangkal mereka dan apa hukumnya bila terpadu antara tujuan  materil dan ijazah dengan niat menuntut ilmu untuk kemanfaatan diri dan  masyarakatnya?</p>
<p>Jawaban<br />
Pernyataan ini tidak benar, ungkapan-ungkapan seperti ini tidak pantas  diungkapkan, siapa yang mengatakan ‘binasalah manusia’, sebenarnya dia  sendiri yang paling binasa.</p>
<p>Seharusnya yang diungkapkan adalah berupa sugesti dan dorongan untuk  menuntut ilmu, konsentrasi dengan ilmu, kecuali yang memang benar-benar  diketahui demikian adanya.</p>
<p>Diriwayatkan, bahwa ketika ajal hampir menjemput Mu’adz, ia berwasiat  kepada orang-orang yang di sekitarnya untuk menuntut ilmu, ia  mengatakan, “Sesungguhnya kedudukan ilmu dan iman adalah bagi yang  menghendaki dan mengusahakannya.” Maksudnya, bahwa kedudukan ilmu dan  iman adalah di dalam Kitabullah yang agung dan Sunnah RasulNya yang  terpercaya. Karena sesungguhnya seorang alim itu akan mati bersama  ilmunya, jadi ilmu itu dicabut dengan matinya para ulama. Namun  alhamdulillah, masih ada golongan yang ditolong dalam mempertahankan  kebenaran.</p>
<p>Karena itulah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.</p>
<p>“Artinya : Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan sekali  pencabutan begitu saja dari para hamba, akan tetapi Allah mencabut ilmu  dengan mematikan para ulama, sehingga tatkala tidak ada lagi orang alim,  manusia akan mengangkat orang-orang bodoh sebagai pemimpin, lalu mereka  ditanya (tentang ilmu) kemudian merekapun memberi fatwa tanpa  berdasarkan ilmu, sehingga (akibatnya) mereka sesat dan menyesatkan.”[1]</p>
<p>Inilah yang ditakutkan, yaitu ditakutkan akan tampilnya orang-orang  bodoh yang memberi fatwa dan pelajaran sehingga mereka sesat dan  menyesatkan. Inilah yang dimaksud dari ungkapan “ilmu telah sirna dan  yang ada hanya ini dan itu.” Dikhawatirkan hal ini akan meredupkan  ambisi sebagian orang, walaupun sebenarnya orang yang teguh dan berakal  tidak akan tergoyahkan dengan itu, bahkan akan memotivasinya untuk lebih  giat menuntut ilmu hingga bisa menutupi kelangkaan/kelowongan.</p>
<p>Orang faham yang ikhlas, yang berpandangan jernih, tidak akan  terpengaruh dengan ungkapan seperti tadi, bahkan sebalik-nya ia akan  maju dan bersemangat, bergegas dan belajar karena kebutuhannya terhadap  ilmu dan untuk mengisi kelowongan, yaitu yang diklaim oleh mereka yang  mengatakan bahwa ‘tidak ada lagi orang alim. Padahal, walaupun ilmu  telah berkurang karena meninggalkan sebagian besar para ahlinya, namun  alhamdulillah, masih tetap ada golongan yang dibela dalam mempertahankan  kebenaran, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam<br />
,<br />
“Artinya : Akan tetap ada golongan dari umatku yang mempertahankan  kebenaran, mereka tidak akan dicelakakan oleh orang-orang yang  menghinakannya hingga datangnya ketetapan Allah.”[2]</p>
<p>Maka hendaknya kita bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, mendorong  dan memotivasi untuk menutupi kelowongan tersebut serta melaksanakan  kewajiban di medan kita dan yang lainnya, sebagai manifestasi  dalil-dalil syari’at yang menganjurkan hal tersebut, dan untuk  memberikan manfaat bagi kaum muslimin dan mengajari mereka. Di samping  itu, hendaknya kita memotivasi untuk melaksanakan dengan penuh  keikhlasan dan ketulusan dalam menuntut ilmu.</p>
<p>Barangsiapa yang mengharapkan ijazah untuk mengokohkannya dalam  menyampaikan ilmu dan mengajak kepada kebaikan, maka itu baik, bahkan  sekali pun sambil mengharapkan materi dalam hal ini. Jadi, tidak apa-apa  belajar dan memperoleh ijazah, yang dengan itu ia bisa menyebarkan ilmu  dan dengan itu pula ilmunya bisa diterima. Bahkan boleh juga menerima  materi yang dapat membantunya dalam kegiatan penyampaikan ilmu ini,  karena, jika bukan karena Allah ta’ala kemudian materi, tentu banyak  orang yang tidak dapat belajar dan menyampaikan dakwah. Materi bisa  membantu seorang muslim untuk menuntut ilmu, memenuhi kebutuhannya dan  menyampaikan ilmu kepada orang lain. Adalah Umar Radiyallahu ‘anhu,  ketika ditugasi dengan berbagai pekerjaan, Rasulullah Shallallahu  ‘alaihi wa sallam memberinya materi (upah), tapi lalu Umar mengatakan,  “Berikan saja kepada orang yang lebih membutuhkan daripada aku.” maka  Nabi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p>“Artinya : Ambillah lalu kembangkanlah atau sedekahkanlah. Apa pun  yang datang kepadamu dari harta ini sementara engkau tidak mengharapkan  dan tidak memintanya, maka ambillah. Adapun yang tidak demikian, maka  jangan engkau sertakan dirimu di dalamnya.”[3]</p>
<p>Nabi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi kepada orang-orang  yang dibujuk hatinya untuk memotivasi mereka sehingga mereka masuk agama  Allah dengan berbondong-bondong. Seandainya itu terlarang, tentu beliau  tidak akan memberi mereka. Namun kenyataannya, beliau memberikan itu,  baik sebelum maupun setelah penaklukkan kota Makkah.</p>
<p>Pada hari penaklukkan Makkah, ada orang yang diberi seratus ekor unta  oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ada juga yang diberi  banyak harta sehingga tidak takut jatuh miskin. Ini semua untuk  menyukakan mereka terhadap Islam dan untuk mengajak mereka ke dalam  Islam. Allah Subhanahu wa Ta’ala pun telah menetapkan bagian dari zakat  untuk orang-orang yang dibujuk hatinya, juga menetapkan bagian bagi  mereka dari baitul mal, juga untuk selain mereka, yaitu; para pengajar,  para qadli dan kaum muslimin lainnya. Wallahu waliyut taufiq.</p>
<p>[Majalah Al-Buhuts Al-Islamiyyah, edisi 67, hal. 157-160, Syaikh Ibnu  Baz]</p>
<p>[Disalin dari buku Al-Fatawa Asy-Syar'iyyah Fi Al-Masa'il  Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram 810-812, edisi Indonesia  Fatwa-Fatwa Terkini, Penerjemah Musthofa Aini, Penerbit Darul Haq,  dengan sedikit koreksi terjemahan]<br />
__________<br />
Catatan kaki:<br />
[1]. HR. AI-Bukhari dalam kitab shahihnya pada kitab Al-’Ilm (100).<br />
[2]. HR. Muslim dalam Al-Imarah (1290).<br />
[3]. Dikeluarkan oleh AI-Bukhari dalam Az-Zakah (1473), Muslim dalam  kitab shahihnya, Az-Zakah (1045)</p>
</div>
<br /> Tagged: <a href='http://kisahrasul.wordpress.com/tag/baz/'>Baz</a>, <a href='http://kisahrasul.wordpress.com/tag/bin/'>Bin</a>, <a href='http://kisahrasul.wordpress.com/tag/ijazah/'>ijazah</a>, <a href='http://kisahrasul.wordpress.com/tag/ilmu/'>ilmu</a>, <a href='http://kisahrasul.wordpress.com/tag/materi/'>materi</a>, <a href='http://kisahrasul.wordpress.com/tag/menuntut/'>menuntut</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kisahrasul.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kisahrasul.wordpress.com/144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kisahrasul.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kisahrasul.wordpress.com/144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kisahrasul.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kisahrasul.wordpress.com/144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kisahrasul.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kisahrasul.wordpress.com/144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kisahrasul.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kisahrasul.wordpress.com/144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kisahrasul.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kisahrasul.wordpress.com/144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kisahrasul.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kisahrasul.wordpress.com/144/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kisahrasul.wordpress.com&amp;blog=11358830&amp;post=144&amp;subd=kisahrasul&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kisahrasul.wordpress.com/2010/04/06/menuntut-ilmu-untuk-meraih-materi-dan-ijazah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cf6aee1c0b0b2907d03b9e89b3aff34d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kisahrasul</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>AKHLAK ORANG YANG BERJIWA BESAR (Bag. II)</title>
		<link>http://kisahrasul.wordpress.com/2010/04/06/akhlak-orang-yang-berjiwa-besar-bag-ii/</link>
		<comments>http://kisahrasul.wordpress.com/2010/04/06/akhlak-orang-yang-berjiwa-besar-bag-ii/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Apr 2010 20:00:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kisahrasul</dc:creator>
				<category><![CDATA[akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[berjiwa besar]]></category>
		<category><![CDATA[hamidi]]></category>
		<category><![CDATA[Kibar]]></category>
		<category><![CDATA[ridwan]]></category>
		<category><![CDATA[sabt]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kisahrasul.wordpress.com/?p=125</guid>
		<description><![CDATA[Materi ini diarahkan pada seluruh kalangan baik ulama, du’at, thulabul ilmi dan mereka yang memangku jabatan, baik jabatan tinggi atau-pun rendah. Juga ditujukan kepada para bapak, ibu, para pendidik dan pengajar serta orang awam pada umumnya. Demikian pula ditujukan kepada semua yang ingin mencari kesempurnaan. Mungkin diantara kita tidak rela disifati dengan sifat kerdil, hidup [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kisahrasul.wordpress.com&amp;blog=11358830&amp;post=125&amp;subd=kisahrasul&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<p>Materi ini diarahkan pada seluruh  kalangan baik ulama, du’at, <em>thulabul ilmi</em> dan mereka yang  memangku jabatan, baik jabatan tinggi atau-pun rendah. Juga ditujukan  kepada para bapak, ibu, para pendidik dan pengajar serta orang awam pada  umumnya. Demikian pula ditujukan kepada semua yang</p>
<p><span id="more-125"></span> ingin mencari  kesempurnaan. Mungkin diantara kita tidak rela disifati dengan sifat  kerdil, hidup dalam cara berfikir sempit, hati sempit, dan jiwa yang  sempit pula. Semua orang sepakat, bahwa materi kajian ini adalah sesuatu  yang baik, terpuji dan mulia dimana semua jiwa pasti merindukannya.</p>
<p>Seandainya dakwah Rasul -<em>shallallahu alaihi wasallam</em>-, hanya  bertujuan pada (perbaikan) akhlak saja, tentu orang-orang akan  menyambut dakwahnya. Sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Muhammad bin  Abdul Wahhab <em>rahimahullah,</em> “<strong>Kalaulah dakwah ini hanya  tertuju pada (perbaikan) akhlak, sebagaimana jika Rasulullah <em>shallallahu  alaihi wasallam</em> berdakwah hanya pada masalah (perbaikan) akhlak  tanpa membahas kemusyrikan dan tauhid, tentu orang-orang pasti akan  mengikuti dakwahnya”.</strong></p>
<p>Dalam tataran teori semua sepakat, namun pada prakteknya akan nampak  sendiri hakikat sebenarnya. Semua orang dapat dengan fasih berbicara  tentang akhlak yang baik, tapi dalam kenyataannya akan terlihat aslinya.  Yang penting bukan orang menganggap baik, kemudian senang mendengarkan  akhlak yang baik, tapi yang paling utama adalah perubahan, dan ada  akhlak yang berubah. Orang yang halus lembut bukan orang yang lembut  saat senang saja, tapi juga pada saat marah. Yang namanya akhlak, bukan  hanya dapat tersenyum kepada saudara kita saat bersama teman-teman,  bersama orang-orang yang duduk di majlis, tetapi akhlak adalah yang  dapat kita bawa dalam setiap keadaan dan pada setiap tempat.</p>
<p><em>Ayyuhal Ikhwan, A</em>llah Ta’ala menyifati Dzat-Nya dengan sifat  <em>al ‘afuu</em> (Yang Maha Mengampuni). Sifat ini adalah salah satu  sifat yang sangat agung dan mulia. Maksud sifat Allah <em>al ‘afuu</em> adalah Allah membiarkan hamba-Nya, mengampuni mereka yang berbuat  kesalahan dan tidak menimpakan adzab atasnya secara spontan kala mereka  durhaka pada-Nya. Kita memohon pada Allah agar menaungi kita dengan  segala ampunan dan kemurahan-Nya.</p>
<p><em>Ayyuhal Ikhwan, </em>ketika mendengar beberapa sifat ini, mungkin  yang manjadi pertanyaan dalam diri adalah apakah kita memiliki  sifat-sifat tersebut? Atau kita termasuk orang yang ketika melihat hal  ini ternyata akhlak tersebut tidak banyak melekat dalam diri hingga  ketika berurusan dengan orang lain, kita sampai bertikai dan membuat  hitung-hitungan dengan mereka.</p>
<p>Banyak diantara kita yang rancu membedakan antara membela diri  sendiri (<em>al-intishar ‘ala an-nafs</em>) dan membela agama. Kadang  balas dendam kepada orang lain dikamuflasekan atas nama agama, aqidah  dan keimanan. Namun pada hakikatnya dia hanya membela diri sendiri, dan  untuk memuaskan hawa nafsunya, lalu merasa membela Allah Ta’ala. Ada  juga yang kemudian mengatasnamakan <em>‘izzah</em> (kemuliaan jiwa).  Mungkin dia mau menunjukkan bahwa orang mukmin adalah orang yang  memiliki ‘izzah, karena ‘izzah itu milik Allah Ta’ala, rasul-Nya, dan  orang-orang yang beriman. Namun, dalam prakteknya, kadang dia membalas  dendam dan tidak terima dengan semua ejekan atau hal-hal yang  menjatuhkan harga dirinya, yang sebenarnya bukan atas nama kemuliaan  sebagai seorang mukmin tapi karena dia tidak rela namanya disinggung  kemudian diejek oleh orang lain.</p>
<p>Banyak orang rancu atau mencampuradukkan antara sikap mempertahankan  diri sendiri serta hawa nafsunya dan mempertahankan agama, juga  kemuliaan sebagai seorang mukmin atau kemuliaan pribadinya. Hingga  apabila marah dan membalas, dia menyangka hal ini dalam rangka  mempertahankan jati diri-nya sebagai seorang mukmin. Padahal sebenarnya  dia mempertahankan hawa nafsunya, lalu mengais-ngais pembenaran melalui  firman Allah Azza Wa Jalla,</p>
<p dir="rtl"><strong>وَالَّذِينَ إِذَا أَصَابَهُمُ</strong><strong> </strong><strong>الْبَغْيُ  هُمْ يَنتَصِرُونَ</strong></p>
<p><em>“Dan (bagi) orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan  zalim mereka membela diri.</em>” (Qs: As-Syura : 39).</p>
<p>Padahal sudah <em>ma’lum</em>, bahwa ayat ini dan ayat-ayat lain yang  semisal, menjelaskan tentang keutamaan sikap <em>‘afuu, </em>sikap  pemaaf kepada orang yang menyakiti dan merendahkan diri kita. Allah <em>Subhanahu  Wa Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p dir="rtl"><strong>وَلا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلا السَّيِّئَةُ</strong><strong> </strong><strong>ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي  بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ</strong><strong> </strong><strong>وَلِيٌّ  حَمِيمٌ</strong></p>
<p><em>“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan  itu) dengan cara yang lebih baik, maka orang-orang yang antaramu dan  antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang amat  setia</em><em>“.</em>(Qs: Fushilat : 34).</p>
<p>Dan tiada yang sangup atau diberikan sifat tersebut kecuali  orang-orang yang sabar. Allah <em>Subhanahu Wa Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p dir="rtl"><strong>وَمَا يُلَقَّاهَا إِلا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا  يُلَقَّاهَا</strong><strong> </strong><strong>إِلا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ</strong></p>
<p><em>“Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada  orang-orang yang sabar, dan tidak dianugerahkan kecuali kepada  orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar”.</em> (Qs: Fushilat  : 35).</p>
<p>Akan tetapi, datang-lah setan mendorongnya untuk membela dirinya dan  beranggapan jika tidak dilakukan pembelaan ini, ia akan dianggap lemah,  manusia akan mencelanya dengan mengatakan dirinya “lemah” atau “kurang”.  Padahal Allah <em>Jalla Wa ‘Ala</em> berfirman,</p>
<p dir="rtl"><strong>وَإِمَّا يَنزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ</strong><strong> </strong><strong>فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ  الْعَلِيمُ</strong></p>
<p><em>“Dan jika syaitan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka  mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dialah yang Maha  Mendengar lagi Maha Mengetahui”.</em>(Qs: Fushilat : 36).</p>
<p>Berapa banyak orang-orang lupa, bahwa Allah Ta’ala menyifati diri-Nya  dengan sifat ini serta memberi pujian bagi orang-orang yang mau  melakukannya.</p>
<p>Sumber:  (http://www.alinshof.com/2010/01/akhlak-orang-yang-berjiwa-besar-bag-i.html)</p>
<p>[Materi ini pernah disampaikan oleh Ust Ridwan Hamidi dalam kajian di  Masjid Pogung Raya beberapa tahun silam. Namun karena panjangnya  materi, maka dibagi dalam beberapa tulisan.]</p>
</div>
<br /> Tagged: <a href='http://kisahrasul.wordpress.com/tag/akhlak/'>akhlak</a>, <a href='http://kisahrasul.wordpress.com/tag/berjiwa-besar/'>berjiwa besar</a>, <a href='http://kisahrasul.wordpress.com/tag/hamidi/'>hamidi</a>, <a href='http://kisahrasul.wordpress.com/tag/kibar/'>Kibar</a>, <a href='http://kisahrasul.wordpress.com/tag/ridwan/'>ridwan</a>, <a href='http://kisahrasul.wordpress.com/tag/sabt/'>sabt</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kisahrasul.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kisahrasul.wordpress.com/125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kisahrasul.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kisahrasul.wordpress.com/125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kisahrasul.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kisahrasul.wordpress.com/125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kisahrasul.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kisahrasul.wordpress.com/125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kisahrasul.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kisahrasul.wordpress.com/125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kisahrasul.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kisahrasul.wordpress.com/125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kisahrasul.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kisahrasul.wordpress.com/125/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kisahrasul.wordpress.com&amp;blog=11358830&amp;post=125&amp;subd=kisahrasul&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kisahrasul.wordpress.com/2010/04/06/akhlak-orang-yang-berjiwa-besar-bag-ii/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cf6aee1c0b0b2907d03b9e89b3aff34d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kisahrasul</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Do&#8217;a Sebelum Makan</title>
		<link>http://kisahrasul.wordpress.com/2010/03/30/doa-sebelum-makan/</link>
		<comments>http://kisahrasul.wordpress.com/2010/03/30/doa-sebelum-makan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Mar 2010 09:00:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kisahrasul</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tanya Jawab]]></category>
		<category><![CDATA[doa]]></category>
		<category><![CDATA[makan]]></category>
		<category><![CDATA[sebelum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kisahrasul.wordpress.com/?p=141</guid>
		<description><![CDATA[PERTANYAAN : Assalamu’alaikum warahamtullahi wabarakatuh Ana mau tanya apakah Hadist tentang do’a makan : Allaahumma baarik lanaa fiimaa razaqtanaa wa qinnaa ‘adzaabannaar. Apakah shahih hadistnya ? jazakallahu khairan JAWABAN : Wa’alaikum salam warahmatullah wabarakatuhu Doa yang antum tanyakan diriwayatkan oleh Imam Ibn As Sunni dalam kitab beliau ‘Amal Al Yaum wa Al Lailah dengan sanad [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kisahrasul.wordpress.com&amp;blog=11358830&amp;post=141&amp;subd=kisahrasul&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<div><strong>PERTANYAAN :</strong></div>
<div>Assalamu’alaikum warahamtullahi wabarakatuh</div>
<div>Ana mau tanya apakah Hadist tentang do’a makan :</div>
<div>Allaahumma baarik lanaa fiimaa razaqtanaa wa qinnaa ‘adzaabannaar.</div>
<div>Apakah shahih hadistnya ? jazakallahu khairan</div>
<div><strong>JAWABAN :</strong></div>
<div>Wa’alaikum salam warahmatullah wabarakatuhu</div>
<div>Doa yang antum tanyakan diriwayatkan oleh Imam Ibn As Sunni dalam  kitab</div>
<div><span id="more-141"></span> beliau ‘Amal Al Yaum wa Al Lailah dengan sanad dan matan berikut:</div>
<div>قال ابن السني حدثني فضل بن سليمان ، ثنا هِشامُ بنُ عمّارٍ ، ثنا  مُحمّد بن عِيسى بنِ سُميعٍ ، ثنا مُحمّدِ بنِ أبِي الزُّعيزِعةِ ، عن  عَمرِو بنِ شُعيبٍ ، عن أبِيهِ ، عن جده عَبدِ اللهِ بنِ عَمرٍو ، رضي الله  عنهما ، عنِ النّبِيِّ صلى الله عليه وسلم ، أنّهُ كان يقُولُ فِي  الطّعامِ إِذا قُرِّب إِليهِ : « اللّهُمّ بارِك لنا فِيما رزقتنا ، وقِنا  عذاب النّارِ ، بِاسمِ اللهِ »</div>
<div>Ibn As Sunni berkata Fadhl bin Sulaiman menceritakan kepadaku bahwa  Hisyam bin Ammar menceritakan kepada kami bahwa Muhammad bin Isa bin  Sumai’ menceritakan kepada kami bahwa Muhammad bin Abi Zu’aiza’ah  menceritakan kepada kami dari Amr bin Syu’aib dari bapaknya Syua’ib dari  kakeknya Abdullah bin Amr bin Al ‘Ash radhiyallohu anhuma dari Nabi  Muhammad shallallohu alaihi wasallam adalah beliau membaca pada saat  makanan didekatkan ke beliau, “<strong><em>Allahumma Baarik Lanaa Fiimaa  Razaqtanaa wa Qinaa ‘Adzaaban Naar, Bismillah” </em></strong>(“Ya Allah  berkahilah apa yang Engkau rezkikan kepada kami dan jauhkanlah dari  kami siksa neraka, dengan menyebut nama Allah”)</div>
<div>Dalam rangkaian sanad di atas terdapat perowi yang bernama Muhammad  bin Abu Zu’aizi’ah dan dia telah dilemahkan oleh para ulama hadits.</div>
<div><strong>Diantara para ulama yang menerangkan kelemahannya:</strong><br />
<a name="more"></a></div>
<div>1. Imam Bukhari (wafat 256 H) dalam kitabnya At Tarikh Al Kabir  (1/88) mengatakan tentang perowi ini, “Haditsnya sangat mungkar dan  tidak berhak ditulis”</div>
<div>2. Imam Ibn Abi Hatim Ar Rozi (wafat tahun 327 H) dalam kitabnya  ‘Ilal Al Hadits beliau berkata, “Aku bertanya kepada ayahku (Imam Abu  Hatim-wafat tahun 277 H) tentang hadits ini lalu beliau menjawab “Hadits  ini tidak diperhitungkan; di sanadnya terdapat Ibnu Abi Zu’aizi’ah dan  tidak boleh menyibukkan diri dengannya karena haditsnya mungkar” (lihat  juga Al Jarh wa At Ta’dil 7/261)</div>
<div>3. Imam Ibnu Hibban Al Busti (wafat 354 H ) dalam kitab beliau Al  Majruhin berkata, “Muhammad bin Abi Zu’aizi’ah termasuk orang yang  meriwayatkan hadits-hadits mungkar dari perowi-perowi yang terkenal  hingga jika riwayat-riwayat tersebut didengarkan oleh para ahli hadits  mereka akan tahu bahwa hadits-haditsya terbalik dan tidak boleh  berhujjah dengannya”.</div>
<div>4. Imam Abu Nu’aim Al Ashfahani (wafat 430 H) dalam kitabnya Adh  Dhu’afa (1/143) berkata, “Muhammad bin Abi Zu’aizi’ah telah meriwayatkan  di wilayah Syam dari Nafi’ dan Ibnu Munkadir hadits-hadits yang  mungkar”</div>
<div>5. Al Hafizh Muhammad bin Thohir Al Maqdisi (wafat 507 H) dalam  Dzakhiroh Al Huffaz berkata “Muhammad bin Isa bin Suma’i dan Muhammad  bin Abi Zu’aizi’ah adalah dua perowi yang lemah”. Adapun di kitab beliau  Ma’rifah At Tadzkiroh dil Ahadits Al Maudhu’ah beliau mengatakan “Ibn  Abi Zu’aizi’ah adalah dhoif, haditsnya mungkar, dajjal (pendusta besar)  dan tidak berhak dijadikan hujjah”</div>
<div><strong>Kesimpulan :</strong></div>
<div>· Dari penjelasan beberapa ulama Al Jarh wa At Ta’dil di atas  diketahui bahwa sanad hadits ini lemah karena Muhammad bin Abi Az  Zu’aizi’ah seorang perowi yang kelemahannya tidak ringan disamping  Muhammad bin Isa bin Suma’i yang juga dilemahkan oleh Al Hafizh Ibnu  Thohir Al Maqdisi.</div>
<div>· Setelah kita mengetahui kelemahan hadits ini maka sepatutnya kita  mencukupkan untuk mengamalkan doa yang berasal dari hadits yang shohih  pada saat akan makan yaitu ucapan “Bismillah”, berdasarkan banyak  riwayat yang shohih diantaranya:</div>
<div>1. Umar bin Abi Salamah menceritakan, Aku dahulu sewaktu kecil di  bawah bimbingan Rasulullah shallallohu alaihi wasallam, sewaktu aku  makan tanganku bergerak ke seluruh sisi dari piring besar yang kami  gunakan, lalu Rasulullah shallallohu alaihi wa sallam bersabda,</div>
<div>يَا غُلَامُ سَمِّ اللَّهَ وَكُلْ بِيَمِينِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ</div>
<div>“<em>Wahai anak kecil, ucapkanlah basmalah, makanlah dengan tangan  kananmu dan makanlah yang dekat darimu” </em>. Umar bin Abi Salamah  berkata sejak saat itu begitulah tata cara ketika aku makan (sesuai  dengan perintah Nabi shallallohu alaihi wasallam) <strong>(HR. Bukhari  dan Muslim)</strong></div>
<div>2. Dari Aisyah radhiyallohu anha bahwasanya Rasulullah shallallohu  alaihi wasallam bersabda,</div>
<div>إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَذْكُرْ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى فَإِنْ  نَسِيَ أَنْ يَذْكُرَ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى فِي أَوَّلِهِ فَلْيَقُلْ  بِسْمِ اللَّهِ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ</div>
<p>“<em>Apabila salah seorang diantara kalian makan maka ucapkanlah nama  Allah Ta’ala, jika lupa membacanya pada permulaan makan maka bacalah  (saat teringat), ‘<strong>Bismillah awwalahu wa aakhirahu’</strong> (Bismillah awal dan akhirnya)</em> [<strong> HR. Abu Daud, Tirmidzi dan  Ibnu Majah ]</strong></p>
<p>Sumber:   http://markazassunnah.blogspot.com/2009/10/doa-sebelum-makan.html#more</p>
</div>
<br /> Tagged: <a href='http://kisahrasul.wordpress.com/tag/doa/'>doa</a>, <a href='http://kisahrasul.wordpress.com/tag/makan/'>makan</a>, <a href='http://kisahrasul.wordpress.com/tag/sebelum/'>sebelum</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kisahrasul.wordpress.com/141/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kisahrasul.wordpress.com/141/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kisahrasul.wordpress.com/141/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kisahrasul.wordpress.com/141/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kisahrasul.wordpress.com/141/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kisahrasul.wordpress.com/141/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kisahrasul.wordpress.com/141/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kisahrasul.wordpress.com/141/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kisahrasul.wordpress.com/141/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kisahrasul.wordpress.com/141/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kisahrasul.wordpress.com/141/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kisahrasul.wordpress.com/141/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kisahrasul.wordpress.com/141/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kisahrasul.wordpress.com/141/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kisahrasul.wordpress.com&amp;blog=11358830&amp;post=141&amp;subd=kisahrasul&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kisahrasul.wordpress.com/2010/03/30/doa-sebelum-makan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cf6aee1c0b0b2907d03b9e89b3aff34d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kisahrasul</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KEDUDUKAN DAN KEUTAMAAN AHLUL ILMI</title>
		<link>http://kisahrasul.wordpress.com/2010/03/23/kedudukan-dan-keutamaan-ahlul-ilmi/</link>
		<comments>http://kisahrasul.wordpress.com/2010/03/23/kedudukan-dan-keutamaan-ahlul-ilmi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Mar 2010 09:00:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kisahrasul</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tanya Jawab]]></category>
		<category><![CDATA[ahlul]]></category>
		<category><![CDATA[fatwa]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[kedudukan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kisahrasul.wordpress.com/?p=139</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Bagaimana kedudukan dan keutamaan ahlul ilmi dalam Islam? Jawaban Kedudukan ahlul ilmi adalah kedudukan yang paling agung, karena para ahlul ilmi adalah pewaris para Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena itulah diwajibkan pada mereka untuk menjelaskan ilmu dan mengajak manusia ke jalan Allah, kewajiban ini tidak dibebankan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kisahrasul.wordpress.com&amp;blog=11358830&amp;post=139&amp;subd=kisahrasul&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<p>Pertanyaan:<br />
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Bagaimana kedudukan dan  keutamaan ahlul ilmi dalam Islam?</p>
<p>Jawaban<br />
Kedudukan ahlul ilmi adalah kedudukan yang paling agung, karena para  ahlul ilmi adalah pewaris para Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,  karena itulah</p>
<p><span id="more-139"></span> diwajibkan pada mereka untuk menjelaskan ilmu dan mengajak  manusia ke jalan Allah, kewajiban ini tidak dibebankan kepada selain  mereka. Di dunia ini mereka laksana bintang-bintang di langit, yang mana  mereka membimbing manusia yang sesat dan bingung serta menjelaskan  kebenaran kepada mereka dan memperingatkan mereka terhadap keburukan.  Karena itu, di bumi ini, mereka bagaikan air hujan yang membasahi bumi  yang kering kerontang, lalu tumbuhlah tumbuhan dengan izin Allah. Di  samping itu, diwajibkan kepada para ahlul ilmi untuk beramal, berakhlak  dan beretika yang tidak seperti yang diwajibkan pada selain mereka,  karena mereka adalah suri teladan, sehingga mereka adalah manusia yang  paling berhak dan paling berkewajiban untuk melaksanakan syari’at, baik  dalam etika maupun akhlaknya.</p>
<p>[Dari fatwa Syaikh Ibnu Utsaimin yang beliau tanda tangani]</p>
<p>[Disalin dari kitab Al-Fataawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il  Al-Ashriyyah Min Fataawa Ulama Al-Balad Al-Haram 790, Edisi Indonesia  Fatwa-Fatwa Terkini, Disusun oleh Khalid Al-Juraisy, Penerjemah Amir  Hamzah, Penerbit Darul Haq]</p>
</div>
<br /> Tagged: <a href='http://kisahrasul.wordpress.com/tag/ahlul/'>ahlul</a>, <a href='http://kisahrasul.wordpress.com/tag/fatwa/'>fatwa</a>, <a href='http://kisahrasul.wordpress.com/tag/ilmu/'>ilmu</a>, <a href='http://kisahrasul.wordpress.com/tag/kedudukan/'>kedudukan</a>, <a href='http://kisahrasul.wordpress.com/tag/tanya-jawab/'>Tanya Jawab</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kisahrasul.wordpress.com/139/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kisahrasul.wordpress.com/139/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kisahrasul.wordpress.com/139/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kisahrasul.wordpress.com/139/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kisahrasul.wordpress.com/139/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kisahrasul.wordpress.com/139/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kisahrasul.wordpress.com/139/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kisahrasul.wordpress.com/139/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kisahrasul.wordpress.com/139/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kisahrasul.wordpress.com/139/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kisahrasul.wordpress.com/139/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kisahrasul.wordpress.com/139/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kisahrasul.wordpress.com/139/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kisahrasul.wordpress.com/139/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kisahrasul.wordpress.com&amp;blog=11358830&amp;post=139&amp;subd=kisahrasul&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kisahrasul.wordpress.com/2010/03/23/kedudukan-dan-keutamaan-ahlul-ilmi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cf6aee1c0b0b2907d03b9e89b3aff34d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kisahrasul</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
