Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Sirah Nabawiyah’ Category

Cinta terhadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam merupakan salah satu syarat beriman kepadanya, bahkan kecintaan kepada beliau harus melebihi segala kecintaan pada makhluk lainnya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda yang artinya, “Tidak

(lebih…)

Iklan

Read Full Post »

Kaidah Mempelajari Sirah (10)

PRINSIP KESEPULUH: MENENTUKAN TUJUAN MENULIS DAN SASARAN YANG AKAN MEMANFAATKAN TULISAN

Bagi orang yang akan menulis sirah harus mengetahui orang-orang yang akan menjadi sasaran tulisannya dan memahami metode (susunan bahasa) yang tepat bagi mereka.

Oleh karena itu dia harus menentukan tujuannya menulis sirah tersebut, apa yang dia inginkan: penyelesaian baru (terhadap masalah), memaparkan kejadian-kejadian dengan cara baru, menjelaskan alasan berbagai persoalan yang rumit atau mengkonsentrasikan pada kejadian-kejadian yang kurang diperhatikan oleh penulis-penulis lain.[1]

Misalnya periode Mekkah adalah periode pembinaan. Sudah banyak tulisan yang memaparkan periode ini            , namun masih banyak sisi atau aspek yang perlu mendapatkan penjelasan, diantaranya:

Sikap orang-orang jahiliyah terhadap dakwah dan orang-orang mu’min. Musuh-musuh dakwah bukan hanya orang-orang Quraisy, tetapi semua orang-orang jahiliyah…Tsaqif, Hawazin dan lain-lain. Memang yang menonjol adalah Quraisy karena mereka adalah keluarga terdekat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, namun kalau hanya mengkhususkan mereka adalah satu kesalahan sebab memberikan kesan bahwa dakwah itu hanya terbatas untuk mereka, tentu ini adalah salah besar.


[1] Lihat Al Adlwaa karya Asy Syaami hal 36,37.———––
* Materi ini pernah dipublikasikan oleh ustadz Ridwan Hamidi, Lc dalam berbagai kesempatan kajian sejak bulan Mei tahun 2001, antara lain di kajian rutin Yayasan al Hikmah Bandung, kajian umum yang diselenggarakan oleh Wahdah Islamiyah Bandung, kajian umum di Masjid Pogung Raya Yogyakarta dan beberapa tempat lain.

Read Full Post »

KAIDAH KESEMBILAN: MEMBERIKAN HAK YANG TEPAT KEPADA RASULULLAH

SHALLALLAAHU ‘ALAIHI WA SALLAM, TIDAK BERLEBIHAN DAN MENYIMPANG.

Ada dua kelompok yang menyimpang dari sunnah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan manhaj salaf dalam mempelajari sirah nabawiyah:

  1. Kelompok yang tidak memberikan hak Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana mestinya, misalnya dalam hal menghormati, menghargai dan mengagungkannya. Mereka mempelajari sirahnya seperti mempelajari biografi tokoh-tokoh lainnya. Mereka melihat dari sisi keagungan pribadinya, kehebatannya dalam memimpin, kepahlawanannya, statusnya sebagai seorang kepala negara dan orang yang memperbaiki kondisi masyarakat. Mereka mengabaikan sisi yang paling tinggi (penting) dalam kehidupannya yaitu mendapat kehormatan mendapat wahyu dari Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa dan menjadi nabi dan rasul penutup. Ada riwayat yang perlu mereka ketahui dan pelajari yaitu riwayat dari Abu Sufyan pada saat Fathu Makkah. Beliau berkata kepada Al Abbas ketika melihat pasukan kaum muslimin (sahabat) -semoga Allah meridloi mereka-: “Demi Allah, sungguh kekuasaan keponakanmu hari ini menjadi besar, Al Abbas menjawab: “Tidak (celakalah kamu), wahai Abu Sufyan, sesungguhnya ini adalah kenabian.” Abu Sufyanpun menjawab: “Ya, memang demikian.”[1] (lebih…)

Read Full Post »

PRINSIP KEDELAPAN: PERASAAN YANG TULUS.

Termasuk prinsip dalam menulis dan mempelajari sirah nabawiyah adalah rasa cinta yang tulus terhadap Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang menggambarkan hubungan yang hakiki secara lahir dan bathin dan turut hidup secara sungguh-sungguh bersama setiap kejadian sirah nabawiyah. [‘Adlwaa’ ‘ala dirasatis sirah’ yang ditulis oleh Asy Syaami hal 26]
Muhammad Al Ghazali mengungkapkan perasaan yang hidup, dengan mengatakan dalam muqaddimah Fiqih Sirahnya : “Sesungguhnya saya menulis sirah seperti seorang tentara yang menulis tentang panglimanya, pengikut yang menulis tentang tuannya, murid yang menulis tentang gurunya, dan saya tidak –seperti yang telah saya katakan- menjadi seorang sejarawan yang tidak punya hubungan dengan orang yang ditulisnya.” Mempelajari sirah merupakan ibadah dan taqarrub kepada Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa yang menumbuhkan kecintaan dan perasaan tersebut. [Fiqih Sirah hal 5].

———–
* Materi ini pernah dipublikasikan oleh ustadz Ridwan Hamidi, Lc dalam berbagai kesempatan kajian sejak bulan Mei tahun 2001, antara lain di kajian rutin Yayasan al Hikmah Bandung, kajian umum yang diselenggarakan oleh Wahdah Islamiyah Bandung, kajian umum di Masjid Pogung Raya Yogyakarta dan beberapa tempat lain.

Sumber: [http://sirahnabawiyah.wordpress.com/2010/01/14/kaidah-mempelajari-sirah-8/]

Read Full Post »

PRINSIP KETUJUH: KONSISTEN DENGAN ISTILAH-ISTILAH SYAR’I.

Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa membagi manusia menjadi tiga kelompok: mu’min, kafir dan munafiq –seperti yang dapat kita temukan pada awal surat Al Baqarah- Allah juga menjadikan manusia dalam dua kelompok wali-wali Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa dan wali-wali syetan. Maka harus konsisten dengan nama-nama tersebut dan tidak mengganti dengan nama-nama lain seperti (Islam) kiri dan kanan, (Islam) liberalis…, kecuali jika memang diperlukan dalam rangka menjelaskan pemahaman dan kecenderungan beberapa orang yang diharapkan ada manfaat yang didapatkan dari menyebutkan istilah tersebut dengan tetap berusaha memberikan definisi dan membatasi diri sebisa mungkin.
Faidah memberikan definisi dan membatasi diri adalah untuk mengurangi usaha sebagian orang yang memang ingin merusak dengan mengaburkan dan menimbulkan kerancuan. Sebab mereka berusaha menutup dan membuat orang tidak mengenal nama-nama dan istilah-istilah syar’i yang punya dampak terhadap hukum-hukum syar’i dan prinsip wala dan bara’.

—––
* Materi ini pernah dipublikasikan oleh ustadz Ridwan Hamidi, Lc dalam berbagai kesempatan kajian sejak bulan Mei tahun 2001, antara lain di kajian rutin Yayasan al Hikmah Bandung, kajian umum yang diselenggarakan oleh Wahdah Islamiyah Bandung, kajian umum di Masjid Pogung Raya Yogyakarta dan beberapa tempat lain.

Sumber: http://sirahnabawiyah.wordpress.com/2010/01/14/kaidah-mempelajari-sirah-7/

Read Full Post »

KAIDAH KEENAM: MEMAHAMI BAHASA ARAB DAN SELUK BELUKNYA.

Tulisan-tulisan pada zaman-zaman awal memiliki keistimewaan kekuatan susunan bahasa, keteraturan makna, keruntutan kata-katanya dan konsisten dengan susunan bahasa Arab dan madzhab-madzhabnya dalam memeberikan penjelasan. [Abu Syahbah, dalam As Sirah An Nabawiyah 1/26].
Maka orang yang mempelajari sirah nabawiyah perlu memiliki pemahaman yang baik tentang bahasa Arab dan seluk beluknya agar dapat berinteraksi dengan riwayat-riwayat sirah nabawiyah, sebab yang dituntut adalah mampu memahami dan istimbath (mengambil hukum dan pelajaran) dari sirah berdasarkan kaidah-kaidah bahasa Arab tanpa ada unsur memaksakan diri dalam membuat penafsirannya. [Lihat apa yang ditulis oleh DR Akram Dliya’ al ‘Umari dalam sirah 1/20].

—-
* Materi ini pernah dipublikasikan oleh ustadz Ridwan Hamidi, Lc dalam berbagai kesempatan kajian sejak bulan Mei tahun 2001, antara lain di kajian rutin Yayasan al Hikmah Bandung, kajian umum yang diselenggarakan oleh Wahdah Islamiyah Bandung, kajian umum di Masjid Pogung Raya Yogyakarta dan beberapa tempat lain.

http://sirahnabawiyah.wordpress.com/2010/01/14/kaidah-mempelajari-sirah-6/

Read Full Post »

PRINSIP KELIMA: MENGETAHUI DAN MENYADARI KETERBATASAN AKAL UNTUK MENERIMA DAN MENOLAK NASH-NASH.

Beberapa orang yang mempelajari –terutama dari kalangan orientalis dan yang terpengaruh pemikiran mereka- berpendapat bahwa para ulama Islam telah mengabaikan kritik matan (teks), yang diakibatkan karena mereka tidak punya kemampuan (akal) untuk menganalisa. Ini tidak benar. Berikut ini akan kita sebutkan beberapa contoh penilaian sejarah yang dilakukan oleh para ulama berdasarkan kritik sejarah:
1. Imam Ibnu Hazm -rahimahullaah- menolak jumlah tentara kaum muslimin dalam perang Uhud yang disebutkan banyak ulama berdasarkan kritik matan (teks) dengan pertimbangan akal semata.
2. Musa bin ‘Uqbah -rahimahullaah- menyebutkan bahwa perang Bani Musthaliq terjadi pada tahun keempat – berbeda dengan kebanyakan ulama yang menyebutkan bahwa kejadiannya pada tahun keenam-: karena keiikutksertaan Sa’d bin Mu’adz -semoga Allah meridloinya- dalam perang tersebut, padahal beliau -semoga Allah meridloinya- wafat setelah perang Bani Quraizhah yang (perang tersebut) terjadi pada tahun keempat hijriyah. Pendapat ini diikuti oleh Imam Ibnul Qayyim dan Adz Dzahabi.
3. Imam Bukhari menganggap bahwa perang Dzatur Riqaa’ terjadi setelah perang Khaibar, karena keikutsertaan Abu Musa Al Asy’ari dan Abu Hurairah pada perang tersebut. Pendapat ini diikuti oleh Imam Ibnul Qayyim, Ibnu Katsir dan Ibnu Hajar. Berbeda dengan Ibnu Ishaq dan Al Waqidi yang berpendapat bahwa perang Dzatur Riqaa’ terjadi sebelum perang Khaibar.
4. Perbedaan pendapat tentang waktu disyariatkannya shalat khauf yang sebagian besar alasan yang disebutkan berdsarkan kritik terhadap matan (teks).
Masih banyak dontoh-contoh yang lain, tetapi yang penting untuk ditegaskan bahwa pemeliharaan riwayat (sehingga bisa sampai pada generasi berikutnya) telah banyak dilakukan oleh generasi awal. Generasi berikutnya berusaha meringkas, mengomentari dan memilih riwayat-riwayat tersebut. Ini adalah proses kritik. Pada beberapa karya ulama belakangan begitu nampak penilaian-penilaian terhadap matan yang dilakukan sangat teliti sebagaimana yang terdapat dalam Al Bidayah wan Nihayah, Fathul Bari dan buku-buku karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.
Ibnu Taimiyah -rahimahullaah- mengatakan: “Hadits-hadits yang dinukil oleh orang-orang yang tidak punya pengetahuan tidak memiliki standar, tetapi ada yang sudah diketahui bahwa itu adalah dusta, baik dengan akal, kebiasaan, karena berbeda dengan riwayat yang shahih dan cara-cara lain.” [Minhajus Sunnah 8/105. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mempunyai kaidah yang sangat penting untuk membedakan riwayat-riwayat yang dusta dengan yang benar dalam Minhajus Sunnah 7/34-43, 419-479. Shadiq ‘Arjun telah membuat contoh kongkrit dalam kitabnya [Khalid bin Walid] manhaj (metode) kritik sejarah, yang sangat baik untuk dibaca. Baliau mendiskusikan berbagai kejadian yang terdapat kesimpangsiuran riwayat-riwayat yang ada dengan pendekatan logika (akal) dan memberikan penilaian dengan sangat teliti. Sebagai contoh lihat hal 265-279].
Disamping itu, karya-karya para ulama berkaitan dengan hadits-hadits hukum dan buku-buku ushul fiqh menunjukkan bahwa para ulama banyak menggunakan akalnya untuk melakukan kritik yang luar biasa. Kalau kita mengetahui bahwa para sejarawan (Islam) terdahulu memiliki beberapa buku dalam berbagai cabang ilmu lain, maka kita tidak boleh menuduh mereka mengabaikan matan, disamping itu kita juga harus memperhatikan periodenya. Usaha-usaha mereka tidak dapat dinilai dengan standar karya-karya ilmiyah yang ada pada zaman ini agar kita tidak menutup mata dari jasa-jasa mereka.
Kemudian dalam ilmu musthalah haditspun terdapat bahasan-bahasan yang menyangkut sisi teori kritik matan (teks) hadits, namun yang agak kurang adalah penerapannya dalam riwayat-riwayat sejarah, yang tidak mendapatkan perhatian sebesar riwayat-riwayat hadits.
Orang-orang yang melakukan kritik terhadap matan melakukan kesalahan, dimana mereka menggunakan hukum-hukum akal terhadap matan-matan yang ada, mereka jadikan hukum-hukum akal tersebut sebagai standar untuk menerima atau menolak riwayat tersebut. Padahal kita semua mengetahui bahwa akal setiap orang berbeda-beda. Persoalan yang akan munsul adalah keterbatasan kemampuan akal untuk memahami cara menggabungkan (mencari titik temu) antara akal dengan nash-nash tersebut.
Bisa jadi orang yang tidak menggunakan manhaj (metode) para ulama hadits, menetapkan hadits yang lemah hanya karena maknanya benar atau sebaliknya mungkin menolak hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim karena mengira bahwa hadits itu bertentangan dengan prinsip-prinsip dan kaidah-kaidah Islam. Ini adalah penilaian yang lemah dari akal.
[Muhammad Ghazali dalam Fiqih Sirahnya telah membantah riwayat Imam Bukhari bahwa dalam perang Bani Musthaliq Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam membunuh semua orang yang berada dalam usia siap dan sanggup untuk berperang dengan alasan tidak boleh menyerang musuh sebelum memberikan peringatan kepada mereka dan itu hanya boleh kepada orang yang sudah didakwahi (kemudian menolak dakwah). Silahkan lihat: diskusi yang menarik terhadap pendapat Muhammad Ghazali tersebut dalam buku ‘Adlwaa’ ‘ala dirasatis sirah’ yang ditulis oleh Asy Syaami hal 44-46].
Termasuk bentuk kesalahan yang lain adalah menolak mu’jizat yang sudah jelas-jelas ada dan diriwayatkan dengan cara menukil yang benar (shahih). Pada hakekatnya ini merupakan akibat imbas dari pemikiran materialis dan filsafat. Padahal seorang muslim seharusnya memiliki kebanggaan dengan ajarannya yang dapat mengantarkannya kepada kebebasan yang utuh dalam penelitian ilmiahnya.

—–
* Materi ini pernah dipublikasikan oleh ustadz Ridwan Hamidi, Lc dalam berbagai kesempatan kajian sejak bulan Mei tahun 2001, antara lain di kajian rutin Yayasan al Hikmah Bandung, kajian umum yang diselenggarakan oleh Wahdah Islamiyah Bandung, kajian umum di Masjid Pogung Raya Yogyakarta dan beberapa tempat lain.

Sumber: http://sirahnabawiyah.wordpress.com/2010/01/14/30/

Read Full Post »

Older Posts »