Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Tanya Jawab’ Category

METODE SALAF DALAM MENERIMA ILMU

Oleh
Syaikh Abdul Adhim Badawi

“Artinya : Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan RasulNya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata” [Al-Ahzab : 36]

Dari fenomena yang tampak pada saat ini, (kita menyaksikan) khutbah-

(lebih…)

Iklan

Read Full Post »

Oleh
Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Ali Syaikh

Pertanyaan.
Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Ali Syaikh ditanya : Apakah arahan dan bimbingan Syaikh kepada peserta daurah yang berasal dari negeri yang banyak didapati perbuatan bid’ah dan kesyirikan ?

Jawaban
Menyebarkan ilmu adalah ibadah dan jihad, Allah Jalla Jalaluhu memerintahkan NabiNya yang pada waktu itu berada di Mekkah untuk berjihad kepada kaum musyrikin (orang-orang yang mempersekutukan Allah Jalla Jalaluhu) dengan ilmu.

(lebih…)

Read Full Post »

Oleh
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

Pertanyaan.
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz pernah ditanya : Dilema yang berkembang di kalangan para pelajar (mahasiswa) terutama di fakultas-fakultas dan lembaga-lembaga pengajaran, ungkapan bahwa “ilmu telah sirna

(lebih…)

Read Full Post »

Do’a Sebelum Makan

PERTANYAAN :
Assalamu’alaikum warahamtullahi wabarakatuh
Ana mau tanya apakah Hadist tentang do’a makan :
Allaahumma baarik lanaa fiimaa razaqtanaa wa qinnaa ‘adzaabannaar.
Apakah shahih hadistnya ? jazakallahu khairan
JAWABAN :
Wa’alaikum salam warahmatullah wabarakatuhu
Doa yang antum tanyakan diriwayatkan oleh Imam Ibn As Sunni dalam kitab

Read Full Post »

Pertanyaan:
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Bagaimana kedudukan dan keutamaan ahlul ilmi dalam Islam?

Jawaban
Kedudukan ahlul ilmi adalah kedudukan yang paling agung, karena para ahlul ilmi adalah pewaris para Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena itulah

(lebih…)

Read Full Post »

Apakah batasan seseorang telah dikatakan masbuq dalam shalat gerhana?

Jawaban:

Berikut ini petikan penjelasan terkait masalah ini, yang diambilkan dari buku Bughyatul Mutathowwi’ fi Shalaati at Tathawwu’ karya Syaikh Muhammad bin Umar bin Salim Bazamul

إذا فاته ركوع من الركوعين في الركعة:

صلاة الكسوف ركعتان، كل ركعة بركوعين وسجدتين ؛ فمجمل الصلاة أربع ركوعات وأربع سجدات في ركعتين.

ومن أدرك الركوع الثاني في الركعة الأولى؛ فاته فيها قيام وقراءة وركوع، وبناء عليه لا يكون قد جاء بركعة من ركعتي صلاة الكسوف؛ فلا يعتد بهذه الركعة، وعليه بعد سلام الإمام أن يأتي بركعة بركوعين على ما ثبت في الأحاديث الصحيحة. والله أعلم.

والدليل عليه قوله صلى الله عليه وسلم: “من عمل عملاً ليس عليه أمرنا؛ فهو رد”. متفق عليه. وليس من أمر الرسول صلى الله عليه وسلم صلاة ركعة من صلاة الكسوف بركوع واحد. والله أعلم.

Jika Seseorang Tertinggal Mengerjakan Satu dari Dua Ruku’ Dalam Satu Raka’at.

Shalat kusuf ini terdiri dari dua raka’at, masing-masing raka’at terdiri dari dua ruku‘ dan dua sujud. Dengan demikian, secara keseluruhan, solat kusuf ini terdiri dari empat ruku’ dan empat sujud di dalam dua raka’at.

Jika seorang makmum mendapati ruku’ kedua dari raka’at pertama, berarti dia telah kehilangan berdiri, bacaan al fatihah dan surat), dan satu ruku’. Dan berdasarkan hal tersebut, berarti dia belum mengerjakan satu dari dua raka’at shalat kusuf, sehingga raka’at tersebut tidak dianggap telah dikerjakan. Berdasarkan hal tersebut, setelah imam selesai mengucapkan salam, maka hendaklah dia mengerjakan satu rakaat lagi dengan dua ruku’, sebagaimana yang ditegaskan di dalam hadits-hadits shahih. Wallahu a’lam.

Yang menjadi dalil baginya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

yang artinya: “Barangsiapa mengerjakan suatu amalan yang bukan atas perintah kami, maka dia akan ditolak.” [Muttaffaq ‘alaihi][1]

Dan bukan dari perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, shalat satu raka’at saja dari shalat kusuf dengan satu ruku’. Wallahu ‘alam


[1] Hadits shahih. Diriwayatlkan oleh al-Bukhari sebagai kata pembuka dengan lafaz ini di dalam Kitaabul Buyuu’, bab An-Najasy, Fathul Baari (IV/355). Dan diriwayatkan secara bersambungan di dalam Kitabush Shulh, bab Idzaa Ishtalahu ‘alaa Shulhi Juurin fa Shulhu Marduud, dengan lafaz: “Barangsiapa membuat suatu hal yang baru dalam perintah kami ini, yang bukan darinya, maka dia tertolak”. Dan diriwayatkan oleh Muslim di dalam Kitaabul Uqdhiyah, bab Naqdhul Ahkaam Al-Baathilah wa Raddu Muhdatsaatil Umuur, (hadits no. 1718). Dan lihat juga kitab, Jaami’ul Ushuul (I/289).——— — –

* Paparan ini disampaikan oleh ustadz Ridwan Hamidi, Lc dalam kesempatan kajian di Masjid Abu Bakar, Komplek SD Al Amanah, Cikole, Lembang, pada hari Jum’at 15 Januari 2010.

Sumber: http://sirahnabawiyah.wordpress.com/2010/01/18/apakah-batasan-seseorang-telah-dikatakan-masbuq/

Read Full Post »

Pertanyaan:

Apakah shalat gerhana dilaksanakan dengan suara yang keras (jahar) atau pelan (sir)?

Jawaban:

Berikut ini petikan penjelasan terkait masalah ini, yang diambilkan dari buku Bughyatul Mutathowwi’ fi Shalaati at Tathawwu’ karya Syaikh Muhammad bin Umar bin Salim Bazamul

والقراءة في صلاة الكسوف جهرية ؛ كما فعل النبي صلى الله عليه وسلم.

عن عائشة رضي الله عنها: ” جهر النبي صلى الله عليه وسلم في صلاة الكسوف بقراءته، فإذا فرغ من قراءته؛ كبر فركع، و إذا رفع من الركعة ؛ قال: سمع الله لمن حمده، ربنا ولك الحمد. ثم يعاود القراءة في صلاة الكسوف أربع ركعات في ركعتين وأربع سجدات”. أخرجه الشيخان.

قال الترمذي رحمه الله: ” واختلف أهل العلم في القراءة في صلاة الكسوف: فرأى بعض أهل العلم أن يسر بالقراءة فيها بالنهار، ورأى بعضهم أن يجهر بالقراءة فيها ؛ كنحو صلاة العيدين والجمعة، وبه يقول مالك و أحمد وإسحاق؛ يرون الجهر فيها، وقال الشافعي: لا يجهر فيها”. اهـ. قلت: ما وافق الحديث هو المعتمد، وبالله التوفيق.

Bacaan dalam shalat kusuf dibaca dengan jahr (suara keras dan kuat), sebagaimana yang dikerjakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha:

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjaharkan bacaannya dalam shalat kusuf. Jika selesai dari bacaannya, beliaupun bertakbir dan ruku’. Dan jika dia bangkit ruku’, maka baginda berucap: “Sami Allaahu liman Hamidah. Rabbana wa lakal hamdu”. Kemudian baginda kembali mengulang bacaan dalam shalat kusuf. Empat ruku‘ dalam dua rakaat dan empat sujud.” [Dikeluarkan oleh asy-Syaikhani][1]

Imam at-Tirmidizi rahimahullah mengatakan: “Para ulama telah berbeda pendapat mengenai bacaan di dalam shalat kusuf. Sebagian ulama berpendapat supaya dibaca perlahan (sirr, dengan suara tidak terdengar) dalam shalat kusuf pada waktu siang hari. Sebagian lainnya berpendapat supaya menjaharkan bacaan dalam shalat kusuf pada siang hari. Sebagaimana halnya dengan shalat ‘Idul Fithi dan ‘Idul Adha serta shalat Jum’at. Pendapat itulah yang dikemukakan oleh Imam Malik, Ahmad dan Ishaq. Mereka berpendapat menjaharkan bacaan pada shalat tersebut. Sedangkan Imam Asy-Syafi’i mengatakan: Bacaan tidak dibaca Jahr dalam shalat sunat.[2]
Dengan ini saya katakan bahawa apa yang sesuai dengan hadits, itulah yang dijadikan sandaran.[3] Wabillahi Taufiq.


[1] Hadits shahih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari di beberapa tempat, di antaranya di dalam Kitaabul Kusuuf, bab Al-Jahr bil Qiraa’ah fil Kusuuf, (hadits no. 1065) dan lafaz di atas adalah miliknya. Dan juga diriwayatkan oleh Muslim di dalam Kitaabul Kusuuf, bab Shalaatul Kusuuf, (hadits no. 901). Lihat Jaami’ul Ushuul (VI/156). Takhrij hadits ini telah diberikan sebelumnya, tanpa memberi isyarat kepada riwayat ini.[2] Sunan at-Tirmidzi (II/448 –tahqiq Ahmad Syakir).

[3] Lihat pendapat Imam asy-Syafi’i dan dalilnya di dalam kitab Al-Umm (I/243). Juga pembahasan dalil-dalilnya serta bantahan terhadapnya di dalam kitab, Fathul Baari (II/550).

——— — –

* Paparan ini disampaikan oleh ustadz Ridwan Hamidi, Lc dalam kesempatan kajian di Masjid Abu Bakar, Komplek SD Al Amanah, Cikole, Lembang, pada hari Jum’at 15 Januari 2010.

Sumber: http://sirahnabawiyah.wordpress.com/2010/01/17/apakah-shalat-gerhana-dilaksanakan-dengan-suara-yang-keras/

Read Full Post »

Older Posts »