Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘adam’

Ilmu yang sempurna menjadikan kelengkapan Akhlak yang sempurna. Lalu Allah pun ingin memperlihatkan kesempurnaan makhluk ini kepada para malaikat. Dia perlihatkan benda-benda tersebut kepada malaikat seraya berkata kepada mereka:

أَنبِئُونِي بِأَسْمَاء هَـؤُلاء إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ

“Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!” (QS. Al-Baqarah [2]: 31).

Yakni jika kalian benar pada maksud ucapan kalian sebelumnya bahwa Allah tidak menciptakan Nabi Adam ‘Alaihissalam itu lebih baik dan ucapan mereka ini didasarkan kepada apa yang mereka ketahui waktu itu, (bukan bermaksud untuk kufur kepada hikmah Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa).

Malaikat pun tidak mengetahui nama-nama benda tersebut, mereka menjawab:

سُبْحَانَكَ لاَ عِلْمَ لَنَا إِلاَّ مَا عَلَّمْتَنَا إِنَّكَ أَنتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ

“Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana .” (QS. Al-Baqarah [2]: 32).

Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa berfirman:

يَا آدَمُ أَنبِئْهُم بِأَسْمَآئِهِمْ

“Beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini.”(QS. Al-Baqarah [2]: 33).

Para malaikat pun menyaksikan sebagian kesempurnaan makhluk ini serta ilmunya yang tidak mereka sangka. Dari kejadian ini mereka benar-benar mengetahui dengan bukti yang ada betapa sempurnanya hikmah Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa, sehingga mereka benar-benar menghargai Adam ‘alaihissalaam. Lalu Allah ingin menampakkan pemuliaan dan penghormatan para malaikat kepada Nabi Adam ‘Alaihissalam secara lahir batin. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman kepada malaikat:

اسْجُدُواْ لآدَمَ

“Sujudlah kamu sekalian kepada Adam,” (QS. Al-Baqarah [2]: 34).

Untuk menghormatinya, mengagungkannya, memuliakannya sekaligus sebagai bentuk ibadah, ketaatan, kecintaan, dan pendekatan diri kepada Rabb kalian.

Mereka semua segera bersujud. Dan Iblis saat itu bersama mereka. Perintah untuk bersujud tertuju kepadanya pula, Namun ia bukan dari kalangan malaikat, dia termasuk jenis jin yang tercipta dari api yang panas. Dia menyambunyikan kekufuran kepada Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa serta hasad (dengki) kepada manusia yang telah Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa utamakan dengan kelebihan ini.

Kesombongan dan kekufurannya menyebabkannya menolak untuk bersujud kepada Nabi Adam sebagai bentuk kesombongan dan kekufuran kepada Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa. Tidak hanya menolak, dia bahkan menyanggah Rabb-Nya serta mencela kebijaksanaan-Nya. Iblis berkata:

أَنَاْ خَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِي مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُ مِن طِينٍ

“Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah”. (QS. Al-A’raaf [7]: 12).

Allah suhanahuwaTa’aalaa pun menjawabnya:

يَا إِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَن تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ أَسْتَكْبَرْتَ أَمْ كُنتَ مِنَ الْعَالِينَ

“Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?” (QS. Shaad [38]: 75).

Kekufuran, kesombongan, keengganan, dan penolakan yang keras ini merupakan sebab satu-satunya yang menjadikannya terusir dan terlaknat.

Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa berkata kepadanya:

فَاهْبِطْ مِنْهَا فَمَا يَكُونُ لَكَ أَن تَتَكَبَّرَ فِيهَا فَاخْرُجْ إِنَّكَ مِنَ الصَّاغِرِينَ

“Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina”. (QS. Al-A’raf [7]: 13).

(Taisiir al Lathiif al Mannaan, fi khulaashoti tafsiir al Qur’an, Syaikh Abdurrahman as Sa’di 320-321)

—————

* Materi ini disampaikan dalam kajian rutin Qashashul Anbiya’ (Kisah Para Nabi) yang disampaikan oleh ustadz Ridwan Hamidi, Lc di masjid Darul Ulum Yogyakarta. (Kajian diselenggarakan oleh Wahdah Islamiyah Yogyakarta)

Iklan

Read Full Post »

KISAH ADAM ‘ALAIHISSALAAM

(Bapak Manusia)

Allah adalah Dzat Yang Maha Awal, tiada sesuatupun sebelum-Nya. Allah senantiasa melakukan apa yang Dia kehendaki. Tidaklah terlepas suatu waktu pun dari perbuatan dan perkataan yang bersumber dari kehendak dan keinginan-Nya sesuai dengan hikmah Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa, Dzat yang Maha Bijaksana pada setiap takdir dan ketetapan-Nya, juga Maha Bijaksana pada seluruh syariat-Nya (yang dia tetapkan) bagi para hamba-hamba-Nya.

Maka, tatkala hikmah Allah yang luas, ilmu-Nya yang menyeluruh, serta rahmat-Nya yang begitu sempurna menuntut diciptakannya Nabi Adam, sang bapak manusia, -dimana Allah telah benar-benar melebihkan manusia dari kebanyakan makhluk-Nya yang lain- Allah pun mengumumkan hal itu kepada para malaikat. Allah ‘Azza Wa Jalla berfirman:

إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأَرْضِ خَلِيفَةً

“Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” (QS. Al-Baqarah [2]: 30).

Untuk menggantikan makhluk-makhluk sebelum mereka, yang hanya diketahui oleh Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa saja.

قَالُواْ أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاء

Para malaikat bertanya: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu makhluk yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah,” (QS. Al-Baqarah [2]: 30).

Ini merupakan pengagungan dan pemuliaan para malaikat kepada Rabb mereka, dimana terkadang Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa menciptakan mahkluk serupa dengan akhlak makhluk yang terdahulu, atau Allah menceritakan kepada para malaikat tentang penciptaan Nabi Adam ‘Alaihissalam dan apa yang akan terjadi dari keturunan beliau yang jahat. Allah pun menjawab kepada malaikat:

إِنِّي أَعْلَمُ مَا لاَ تَعْلَمُونَ

“Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu sekalian ketahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 30).

Dialah yang ilmunya mencakup segala sesuatu, khususnya maslahat dan manfaat yang tak terbilang yang akan terjadi pada makhluk ini.

Allah Ta’aalaa mengingatkan mereka tentang Dzat-Nya, kesempurnaan ilmu-Nya, serta kewajiban mengakui keluasan ilmu dan hikmah Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa, yang diantaranya adalah bahwa Dia tidak akan menciptakan sesuatu sia-sia atau tanpa hikmah.

Kemudian Allah menjelaskan secara terperinci (tentang penciptaan Adam ‘Alaihissalam). Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa menciptakan Nabi Adam dengan Tangan-Nya sebagai bentuk pemuliaan baginya atas seluruh makhluk. Dia genggam segenggam tanah dari seluruh jenisnya, yang lunak dan yang keras, serta yang baik dan yang buruk, agar keturunannya nanti bertabiat seperti itu.

Nabi Adam ‘Alaihissalam awalnya adalah tanah, lalu Allah memberi air padanya, dan jadilah dia ath-thiin (air bercampur tanah). Kemudian, tatkala air telah lama  bercampur dengan ath-thin tersebut, berubahlah ia menjadi lumpur yang dibentuk, sebuah campuran air dan tanah yang berwarna hitam. Lalu Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa pun mengeringkannya setelah membentuknya. Jadilah ia seperti tembikar yang memiliki suara, dimana pada tahapan ini, Nabi Adam ‘Alaihissalam masih berupa jasad tanpa ruh.

Setelah sempurna penciptaan beliau, ditiupkanlah ruh kepadanya. Berubahlah jasad yang mulanya mati menjadi hidup, memiliki tulang, daging, saraf, pembuluh darah, serta ruh, Inilah manusia yang sesungguhnya. Lalu Allah mempersiapkannya untuk bisa menyerap seluruh pengetahuan dan kebaikan. Setelah itu, Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa sempurnakan nikmat kepadanya. Dia ajari nama-nama benda seluruhnya.

Sumber: Taisiir al Lathiif al Mannaan, fi khulaashoti tafsiir al Qur’an, karya Syaikh Abdurrahman as Sa’di 319-320

——————————–

* Materi ini disampaikan dalam kajian rutin Qashashul Anbiya’ (Kisah Para Nabi) yang disampaikan oleh ustadz Ridwan Hamidi, Lc di masjid Darul Ulum Yogyakarta. (Kajian diselenggarakan oleh Wahdah Islamiyah Yogyakarta)

Read Full Post »

Anak-anak adam tidak pernah terlintas dalam pikiran mereka untuk membunuh sesama mereka. Karena pembunuhan itu adalah kejadian yang tidak pernah mereka alami dikalangan mereka. Namun iblis dan anak buahnya telah bertekad bulat untuk menyeret anak-anak Adam kedalam perbuatan saling menumpahkan darah diantara mereka. Kemarahan Qabil kepada Habil yang dipicu oleh membaranya api kedengkian kepada saudaranya, adalah kendaraan tunggangan syaiton untuk menggiring anak Adam itu kepada perbuatan keji membunuhadik kandungnya sendiri.

Bermula Adam merasa resah di suatu sore, mengapa Habil belum kembali kekeluarganya dari kegiatannya mengembala kambing dan sapinya, padahal hari sudah semakin gelap. Akhirnya Adam memerintahkan Qabil untuk menjemput adiknya agar cepat pulang. Dan ketika Qabil ketemu Habil di tempat gembalanya, diajaklah sang adik untuk segera pulang karena dinanti ayah dan ibu dirumah. Dan diperjalanan pulang itu, Qabil sempat kembali mengungkit kekesalannya, mengapa persembahan kurbannya tidak di terima oleh Allah sementara kurban sang adik justru diterima Allah. Habil mencoba menasihati kakaknya agar dapat membuka mata untuk melihat kekurangan yang ada pada dirinya. Habil menyatakan kepada kakaknya: “Hanyalah yang diterima kurbannya oleh Allah itu adalah dari orang yang ikhlas dalam ketakwaannya.” Mendengar nasihat ini, Qabil yang sedang membara kemarahannya kepada sang adik, bertambah marah lagi dan menyalalah api kemarahan itu sehingga tidak dapat dikendalikan. Qabil menyatakan kepada adikya: “Oo, jadi kau rupanya menuduh aku tidak ikhlas dalam mempersembahkan kurban kepada Allah. Atau yang ikhlas itu hanya kamu suja?”

Belum sempat Habil menjelaskan perkataannya kepada sang kakak, langsung saja Qabil menyambar batu  besar hendak ditimpakan kepada adiknya. Melihat gelagat kakaknya itu Habil langsung mengingatkan: “jangan engkau lakukan perbuatan dzalim itu kepadaku dan aku sama sekali tidak berkeinginan untuk melukai engkau meskipun engkau mendzalimi aku. Karena kalau sampai engkau membunuh aku, niscaya engkau akan menjadi orang yang menyesal dan paling merugi.” Qabil sudah tidak lagi mendengar peringatan adiknya karena telinganya telah menjadi tuli karena hawa nafsu kemarahan yang sedang membakar dirinya. Dan Qabil langsung saja menimpakan batu besar itu ke kepala adiknya dan tewaslah Habil seketika itu. Tumpahlah dimuka bumi untuk yang pertama kali, darah korban kedzaliman bersamaan dengan tenggelamnya matahari di sore hari itu. Anak Adam mulai menumpahkan darah sesama mereka dan ini adalah petaka pembunuhan pertama kali terjadi di muka bumi diantara anak-anak adam.

Jasad Habil tergeletak tak bernyawa dihadapan Qabil dan mulailah muncul rasa penyesalan ketika Qabil melihat akibat perbuatannya yang keji itu. Dan Qabil tidak bisa berbuat apa-apa dengan mayat Habil sehingga esok harinya ketika terbit matahari. Di saat itu Allah Ta’ala mengirim dua ekor burung gagak yang saling menyerang satu dengan lainnya dan terbunuhlah salah satu dari kedua ekor burung tersebut mati sehingga burung gagak yang masih hidup itu menggali tanah dengan kedua cakarnya dan menyeret temannya yang telah mati itu untuk dimasukkan ke lubang yang telah di gali dan di uruklah burung gagak yang mati itu dengan tanah. Semua kejadian itu disaksikan oleh Qabil dan segera ditirunya tindakan burung gagak tersebut. Ia segera mencari kayu untuk menggali tanah dan kemudian dia meletakkan mayat Habil di dalam lubang tanah itu dan menguruknya dengan tanah.[QS. Al-Maidah 30-31].

Setelah mengubur mayat adiknya. Qabil segera bergegas pulang untuk mengajak adiknya yang cantik untuk pergi bersamanya melarikan diri dari sang ayah dan kemudian menikahi adiknya itu. Adam sangat sedih dan menyesal ketika mengetahui perbuatan Qabil terhadap Habil itu dan lagi setelah itu dia mengambil adiknya untuk diajak pergi bersamanya. Sehingga adam menyatakan kepada Qabil dengan penuh kemarahan: “Pergilah engkau dari sini, dan engkau selama hidupmu akan terus menerus dalam ketakutan dan engkau selamanya tidak akan merasa aman dari kejahatan orang yang melihatmu.”

Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam memberitakan bahwa tidak ada seorang pun di muka bumi yang membunuh sesama manusia dengan dzalim, kecuali pasti anak adam yang pertama mendapat bagian dosa pembunuhan itu.[Demikian diriwayatkan hadis ini oleh Al-Bukhari,Muslim dan segenap ahli hadis kecuali Abu Dawud]. Karena ialah yang menjadi pelopor perbuatan membunuh bagi setiap anak Adam sampai hari kiamat. Sehingga Qabil demikian terus-menerus dikirimi dosa pembunuhan yang dzalim pada setiap kali terjadi pembunuhan itu.

—–

* Kandungan tulisan ini, pernah disampaikan dalam kajian rutin Qashashul Anbiya’ yang disampaikan oleh Ust Ridwan Hamidi, Lc di Masjid Darul Ulum Yogyakarta. Kajian ini diselenggarakan oleh Wahdah Islamiyah Yogyakarta.

Sumber: Majalah Salafy edisi 06/TH V//1429 H/2008 M.

Read Full Post »

Benih iri dengki mulai tumbuh dihati Qabil terhadap adik kandungnya, yakni Habil. Penyakit ini menjadi sumber kejahatan pada anak Adam.Qabil iri kepada Habil ketika mendapati kenyataan bahwa adik kembarnya jauh lebih cantik dibanding dengan adik kembar Habil. Ini berarti calon istri Habil jauh lebih cantik dibanding calon istri Qabil. Dan karena iri dengki inilah, Qabil mencurigai keputusan ayahnya yang dianggap tidak adil dalam menjodohkan anak-anaknya. Sang ayah dianggap lebih cinta kepada Habil daripada cintanya kepada Qabil.

Maka percekcokan mulai merebak diantara anak-anak Adam dan Hawa’ itu sehingga Adam merasa perlu untuk memutuskan percekcokan tersebut dengan bimbingan Syariat Allah Ta’ala. Adam pun bermunajat mengadukan masalahnya kepada Allah agar dapat memutuskan perkara itu dengan keputusan yang paling adil. Sehingga turunlah keputusan dari Allah, agar Qabil dan Habil mempersembahkan kurban hasil pekerjaan masing-masing. Siapa yang persembahan kurbannya di terima oleh Allah, maka dialah yang berhak menikahi saudara perempuannya yang tercantik. Dan tanda diterimanya kurban mereka adalah disambarnya persembahan kurban mereka oleh api yang turun dari langit.

Sementara itu Habil bekerja sebagai peternak sapi dan kambing untuk menyediakan keperluan hewani keluarga Adam dan Hawa’, Sedangkan Qabil bekerja sebagai petani yang membuka lahan sawah dan perkebunan sayur dan buah-buahan untuk menyediakan keperluan nabati keluarga tersebut. Keduanya menyiapkan persembahan kurban itu dari hasil pekerjaan masing-masing. Habil menyiapkan beberapa ekor kambing dan sapi yang paling gemuk dan paling bagus, sedangkan Qabil menyiapkan hasil pertanian dan perkebunan yang paling jelek. Dan ketika persembahan kurban  itu di persembahkan kepada Allah Ta’ala, maka datanglah api dari langit menyambar persembahan kurban Qabil dan sama sekali tidak menyentuh persembahan kurban Qabil [Al-Kamil fitTarikh, Al-‘Allamah Izzuddin Abil Hasan Ali bin Abil Karam Asy-Syaibani Ibnul Atsir, jilid 1hal 43, Darul Fiker, Bairut Libanon, tanpa tahun.].

Dengan kejadian tersebut diputuskanlah oleh Adam bahwa Habil berhak menikahi adik Qabil yang cantik jelita itu. Namun Qabil tidak bisa menerima begitu saja keputusan tersebut. Bahkan Qabil menuduh ayahnya, bahwa yang didoakan oleh ayahnya untuk diterima kurbannya hanyalah Habil sedangkan kurban Qabil tidak diterima oleh Allah karena memang ayahanda tidak mendoakan kepada Allah [Al-Bidayah wan hayah, al hafidh Abul fida’ ibnu katsir Ad-Dimasyqi, juz 1 dan 2 hal 86, terbitan Darul Ktub Al IlmiYah, Bairut-libanon,tanpa tahun]. Maka rasa dengki Qabil kepada Habil semakin mendominasi hatinya dan terus menerus berfikir bagaimana untuk melampiaskan kedengkiannya itu dan Qabil akhirnya mengancam untuk membunuh Habil. Ancaman itu dijawab oleh Habil dengan menyatakan:

إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ (27) لَئِنْ بَسَطْتَ إِلَيَّ يَدَكَ لِتَقْتُلَنِي مَا أَنَا بِبَاسِطٍ يَدِيَ إِلَيْكَ لِأَقْتُلَكَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ رَبَّ الْعَالَمِينَ (28) إِنِّي أُرِيدُ أَنْ تَبُوءَ بِإِثْمِي وَإِثْمِكَ فَتَكُونَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ وَذَلِكَ جَزَاءُ الظَّالِمِينَ (29)

“Hanyalah kurban yang diterima oleh Allah, kurban yang dipersembahkan oleh orang-orang yang bertakwa. Kalau engkau sampai tega menjulurkan tanganmu untuk membunuh aku, niscaya aku tidak akan menjulurkan kedua tangan ku untuk membunuh engkau. Karena aku takut dari ancaman azab Allah Tuhan sekalian alam. Dan juga aku tidak ingin membunuh engkau karena aku ingin engkau menanggung sendiri dosamu bila membunuh aku dan dosa-dosamu akibat perbuatanmu yang lainnya, sehingga engkau bila membunuh aku, akan menjadi penghuni neraka. Dan memang demikianlah balasan bagi orang-orang yang berbuat kedzaliman.” [QS Al-Ma’idah: 27-29] Memang kedengkian itu membikin orang gelap mata, sehingga tidak mampu mengoreksi dirinya dan cenderung dzalim dengan menimpakan sebab kegagalan dirinya kepada orang lain.

—–

* Kandungan tulisan ini, pernah disampaikan dalam kajian rutin Qashashul Anbiya’ yang disampaikan oleh Ust Ridwan Hamidi, Lc di Masjid Darul Ulum Yogyakarta. Kajian ini diselenggarakan oleh Wahdah Islamiyah Yogyakarta.

Sumber: Majalah Salafy edisi 06/TH V//1429 H/2008 M.

Read Full Post »

Berikut ini adalah ringkasan materi khutbah yang disampaikan oleh Ust Ridwan Hamidi pada hari Jum’at 1 Januari 2010 di Masjid Pogung Raya Yogyakarta.

Berikut ini petikannya:

Diábolos adalah iblis. Sebagaimana kita ketahui, ia dikutuk dan dihalau karena menolak perintah Tuhan dan bersujud kepada Adam. Tapi dia bukan atheist atau ragu pada Tuhan.

Diábolos adalah Iblis dalam bahasa Yunani kuno. Maka istilah “diabolisme” berarti pemikiran, watak dan perilaku ala Iblis atau-pun pengabdian kepadanya. Dalam kitab suci Al-Qur’an dinyatakan bahwa Iblis termasuk bangsa jin (QS. 18:50), yang diciptakan dari api (QS. 15:27). Sebagaimana kita ketahui, ia dikutuk dan dihalau karena menolak perintah Tuhan untuk bersujud kepada Adam. Apakah Iblis atheist? Tidak. Apakah ia agnostik? Tidak. Iblis tidak mengingkari adanya Tuhan. Iblis tidak meragukan wujud maupun ketunggalan-Nya. Iblis bukan tidak kenal Tuhan. Ia tahu dan percaya seratus persen. Lalu mengapa ia dila’nat dan disebut ‘kafir’? Di sinilah letak persoalannya.

Kenal dan tahu saja, tidak cukup. Percaya dan mengakui saja, tidak cukup. Mereka yang kafir dari kalangan Ahli Kitab-pun kenal dan tahu persis siapa dan bagaimana terpercayanya Rasulullah SAW, sebagaimana orang tua mengenali anak kandungnya sendiri (ya’rifunahu kama ya’rifuna abna’ahum). Namun tetap saja mereka enggan masuk Islam.

Jelaslah bahwa pengetahuan, kepercayaan, dan pernyataan harus disertai dengan kepatuhan dan ketundukan, harus diikuti dengan kesediaan dan kemauan untuk merendah, menurut dan melaksanakan perintah. “Knowledge and recognition should be followed by acknowledgement and submission,” tegas Professor Naquib Al-Attas.

Kesalahan Iblis bukan karena ia tak tahu atau tak berilmu. Kesalahannya karena ia membangkang (aba, QS 2:34, 15:31, 20:116), menganggap dirinya hebat (istakbara, QS 2:34, 38:73, 38:75), dan melawan perintah Tuhan (fasaqa an amri rabbihi, QS 18:50). Dalam hal ini, Iblis tidak sendirian. Sudah banyak orang yang berhasil direkrut sebagai staff dan kroninya, berpikiran dan berperilaku seperti yang dicontohkannya.

Iblis adalah ‘prototype’ intelektual ‘keblinger’. Sebagaimana dikisahkan dalam Al-Qur’an, sejurus setelah ia divonis, Iblis mohon agar ajalnya ditangguhkan. Dikabulkan dan dibebaskan untuk sementara waktu, ia pun bersumpah untuk menyeret orang lain ke jalannya, dengan segala cara.

“Hasutlah siapa saja yang kau bisa dari kalangan mereka dengan seruanmu. Kerahkan seluruh pasukanmu, kavaleri maupun infantri. Menyusuplah dalam urusan keuangan dan keluarga mereka. Janjikan mereka [kenikmatan dan keselamatan]!” Demikian difirmankan kepada Iblis (QS. 17:64).

Maka Iblis pun bertekad:

قالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ (16) ثُمَّ لآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وَلا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ

Sungguh akan kuhalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus. Akan kudatangi mereka dari arah depan dan belakang, dari sebelah kanan dan kiri mereka!” (QS 7:16-17).

عن ابن عباس: {ثُمَّ لآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ} أشككهم في آخرتهم، {وَمِنْ خَلْفِهِمْ} أرغبهم في دنياهم {وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ} أشبه عليهم أمر دينهم {وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ} أشهي لهم المعاصي.

Maksudnya, menurut Ibnu Abbas ra, Iblis bertekad untuk menyesatkan orang dengan menebar keraguan, membuat orang ragu dan lupa pada akhirat, gandrung dan tergila-gila pada dunia, ragu dan bingung soal agama, hobi dan chueq berbuat dosa, (Lihat: Ibn Katsir, Tafsir Al-Qur’an al-Adziem).

Tidak sulit untuk mengidentifikasi cendekiawan bermental Iblis. Sebab, ciri-cirinya telah cukup diterangkan dalam Al-Qur’an sebagai berikut.

Pertama, selalu membangkang dan membantah. Meskipun ia kenal, tahu dan faham, namun tidak akan pernah mau menerima kebenaran. Seperti ingkarnya Fir’aun berikut hulu-balangnya, zulman wa ‘uluwwan, meskipun dan padahal hati kecilnya mengakui dan meyakini (wa istayqanat-ha anfusuhum).

Maka selalu dicarinya argumen untuk menyanggah dan menolak kebenaran demi mempertahankan opininya. Sebab, yang penting baginya bukan kebenaran, akan tetapi pembenaran. Jadi, bukan karena ia tak tahu mana yang benar, tetapi karena ia memang tidak mau mengikuti dan tunduk pada kebenaran itu. Jadi jangan heran bila selalu saja ada cendekiawan yang meskipun nota bene Muslim, namun sifatnya seperti itu. Ideologi dan opini pemikirannya yang liar lebih ia pentingkan dan ia pertahankan ketimbang kebenaran dan aqidah Islamnya.

Dalam tradisi keilmuan Islam, sikap membangkang semacam ini disebut juga al-‘inadiyyah (Lihat: Abu Hafs Najmuddin Umar ibn Muhammad an-Nasafi (w. 537 H/1142 M), al-‘Aqa’id, dalam Majmu? min Muhimmat al-Mutun, Kairo: al-Matba’ah al-Khayriyyah, 1306 H, hlm. 19).

Kedua, intelektual diabolik bersikap takabbur (sombong, angkuh, congkak, arrogans). Pengertian takabbur ini dijelaskan dalam hadits Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Imam Muslim (no.147): (al-kibru batarul-haqq wa ghamtu n-nas) “Sombong ialah menolak yang haq dan meremehkan orang lain.”

Akibatnya, orang yang mengikuti kebenaran sebagaimana dinyatakan dalam Al-Qur’an atau hadits Nabi SAW dianggapnya dogmatis, literalis, logosentris, fundamentalis, konservatif dan lain sebagainya.

Sebaliknya, orang yang berpikiran liberal, berpandangan relativistik dan skeptis, menghujat Al-Qur’an maupun Hadits, meragukan dan menolak kebenarannya, justru disanjung sebagai intelektual kritis, reformis dan sebagainya, meskipun terbukti zindiq, heretik dan bermental Iblis.

Mereka bermuka dua, menggunakan standar ganda (2:14). Mereka menganggap orang beriman itu bodoh, padahal merekalah yang bodoh dan dungu (sufaha’). Intelektual semacam inilah yang diancam Allah dalam Al-Qur’an:

سَأَصْرِفُ عَنْ آيَاتِيَ الَّذِينَ يَتَكَبَّرُونَ فِي الأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَإِنْ يَرَوْا كُلَّ آيَةٍ لا يُؤْمِنُوا بِهَا وَإِنْ يَرَوْا سَبِيلَ الرُّشْدِ لا يَتَّخِذُوهُ سَبِيلا وَإِنْ يَرَوْا سَبِيلَ الْغَيِّ يَتَّخِذُوهُ سَبِيلا ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَكَانُوا عَنْهَا غَافِلِينَ

Akan Aku palingkan mereka yang arogan tanpa kebenaran itu dari ayat-ayat-Ku. Sehingga, meskipun menyaksikan setiap ayat, tetap saja mereka tidak akan mempercayainya. Dan kalaupun melihat jalan kebenaran, mereka tidak akan mau menempuhnya. Namun jika melihat jalan kesesatan, mereka justru menelusurinya.” (7:146).

Ciri yang ketiga ialah mengaburkan dan menyembunyikan kebenaran (talbis wa kitman al-haqq). Cendekiawan diabolik bukan tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah. Namun ia sengaja memutar-balikkan data dan fakta. Yang bathil dipoles dan dikemas sedemikian rupa sehingga nampak seolah-olah haq.

Sebaliknya, yang haq digunting dan di-‘preteli’ sehingga kelihatan seperti bathil. Ataupun dicampur-aduk dua-duanya sehingga tidak jelas lagi beda antara yang benar dan yang salah. Strategi semacam ini memang sangat efektif untuk membuat orang lain bingung dan terkecoh.

Contohnya seperti yang dilakukan oleh para pengasong gagasan inklusivisme dan pluralisme agama. Mereka mengutip ayat-ayat Al-Qur’an (2:62 dan 5:69) untuk menjustifikasi pemikiran liarnya, untuk mengatakan semua agama adalah sama, tanpa mempedulikan konteks siyaq, sibaq dan lihaq maupun tafsir bi l-ma’tsur dari ayat-ayat tersebut.

Sama halnya yang dilakukan oleh para orientalis Barat dalam kajian mereka terhadap Al-Qur’an dan Hadits. Mereka mempersoalkan dan membesar-besarkan perkara-perkara kecil, mengutak-atik yang sudah jelas dan tuntas, sambil mendistorsi dan memanipulasi (tahrif) sumber-sumber yang ada. Hal ini tidak terlalu mengejutkan, mengingat kebanyakan mereka adalah Yahudi dan Nashrani yang karakternya telah dijelaskan dalam Al-Qur’an 3:71, “Ya ahla l-kitab lima talbisuna l-haqq bi l-batil wa taktumu l-haqq wa antum ta’lamun?” Yang sangat mengherankan ialah ketika hal yang sama dilakukan oleh mereka yang dzahirnya Muslim.

Karena watak dan peran yang dilakoninya itu, Iblis disebut juga Setan (syaytan), kemungkinan dari bahasa Ibrani ‘syatan’, yang artinya lawan atau musuh (Lihat: W. Gesenius, Lexicon Manuale Hebraicum et Chaldaicum in Veteris Testamenti Libros). Dalam Al-Qur’an memang ditegaskan bahwa setan adalah musuh nyata manusia (12:5, 17:53 dan 35:6). Selain pembangkang (‘asiyy), setan berwatak jahat, liar, dan kurang ajar (marid dan marid). Untuk menggelincirkan (istazalla), menjerumuskan (yughwi) dan menyesatkan (yudhillu) orang, setan juga memakai strategi. Caranya dengan menyusup dan mempengaruhi (yatakhabbat), merasuk dan merusak (yanzagh), menaklukkan (istahwa) dan menguasai (istah’wadza), menghalang-halangi (yasudd) dan menakut-nakuti (yukhawwif), merekomendasi (sawwala) dan menggiring (ta’uzz), menyeru (yad’u) dan menjebak (yaftin), menciptakan image positif untuk kebathilan (zayyana lahum a’malahum), membisikkan hal-hal negatif ke dalam hati dan pikiran seseorang (yuwaswis), menjanjikan dan memberikan iming-iming (ya’iduhum wa yumannihim), memperdaya dengan tipu muslihat (dalla bi-ghurur), membuat orang lupa dan lalai (yunsi), menyulut konflik dan kebencian (yuqi’u l-‘adawah wa l-baghda’), menganjurkan perbuatan maksiat dan amoral (ya’mur bi l-fahsya’ wa l-munkar) serta menyuruh orang supaya kafir (qala li l-insani-kfur).

Nah, trik-trik inilah yang juga dipraktekkan oleh antek-antek dan konco-konconya dari kalangan cendekiawan dan ilmuwan. Mereka disebut awliya’ al-syaytan (4:76), ikhwan al-syaytan (3:175), hizb al-syaytan (58:19) dan junudu Iblis (26:94). Mereka menikam agama dan mempropagandakan pemikiran liar atas nama hak asasi manusia (HAM), kebebasan berekspresi, demokrasi, pembaharuan, pencerahan ataupun penyegaran.

Semua ini sebenarnya bukan sesuatu yang baru atau pertama kali terjadi, seperti segera diketahui oleh setiap orang yang membaca sejarah pemikiran Islam. Semuanya merupakan repetisi dan reproduksi belaka. History repeats itself, kata pepatah bule. Hanya pelakonnya yang beda, namun karakter dan perannya sama saja. Ada Fir’aun dan ada Musa as. Muncul Suhrawardi al-Maqtul, tetapi ada Ibn Taymiyyah. Lalu lahir Hamzah Fansuri, namun datang Ar-Raniri, dan seterusnya.

Al-Qur’an pun telah mensinyalir:  “Memang ada manusia-manusia yang kesukaannya berargumentasi, menghujat Allah tanpa ilmu, dan menjadi pengikut setan yang durhaka. Telah ditetapkan atasnya, bahwa siapa saja yang menjadikannya sebagai kawan, maka akan disesatkan olehnya dan dibimbingnya ke neraka” (22:3-4). Maka kaum beriman diingatkan agar senantiasa menyadari bahwa “sesungguhnya setan-setan itu mewahyukan kepada kroninya untuk menyeret kalian ke dalam pertengkaran. Jika dituruti, kalian akan menjadi orang-orang yang musyrik” (6:121). Ini tidak berarti kita dilarang berpikir atau berijtihad. Berpendapat boleh saja, asal dengan ilmu dan adab. Wallaahu a’laam.

* Materi ini diadaptasi dari tulisan DR Syamsudin Arif (www.hidayatullah.com) dengan beberapa tambahan dari khatib.

Read Full Post »

Penciptaan Adam ‘Alaihis Salam

Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa berfirman:

و إذ قال ربك للملائكة إني جاعل في الأرض خليفة قالوا أ تجعل فيها من يفسد فيها ويسفك الدماء ونحن نسبح بحمدك ونقدس لك قال إني أعلم ما لا تعلمون (30) وعلم اّ دم الأسماء كلها ثم عرضهم على الملائكة فقال أنبئوني بأسماء هؤلاء إن كنتم صادقين (31)قالوا سبحانك لا علم لنا إلا ما علمتنا إنك أنت العليم الحكيم (32)قال يا اّدم أنبئهم بأسماءهم فلما أنبأهم بأسمائهم قال ألم أقل لكم إني أعلم غيب السماوات والأرض وأعلم ما تبدون وما كنتم تكتمون (33)
وإذ قلنا للملائكة اسجدوا لاّد فسجدوا إلا إبليس أبى واستكبر وكان من الكافرين (34)وقلنا يا اّ دم اسكن أنت وزوجك الجنة وكلا منها رغدا حيث شئتما ولا تقربا هذه الشجرة فتكونا من الظا لمين (35) فأزلهما الشيطان عنها فأخرجهما مما كانا فيه وقلنا اهبطوابعضكم لبعض عدو ولكم في الأرض مسثقر ومتاع إلى حين (36) فتلقى اّدم من ربه كلمات فتاب عليه إنه هو التواب الرحيم(37)قلنا اهبطوا منها جميعا فإما يأتينكم مني هدى فمن تبع هداي فلا خوف عليهم ولا هم يحزنون (38) والذين كفرواوكذبوابأياتنا أولائك أصحاب النارهم فيها خالدون (39) (البقرة:39-30)

”Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Seusungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah dimuka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendaka menjadiakan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanyadan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.

Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah nama-nama benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!”

Mereka menjawab: “Maha suci engkau tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkau maha mengetahui dan Maha memiliki hikmah.

Allah berfirman: “Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini” . Maka setelah di beritahukan kepada mereka benda-benda itu, Allah berfirman: “Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?”

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para Malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam, “maka sujudlah mereka kecuali iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk orang-orang kafir.

Dan Kami berfirman: “Hai Adam, diamilah oleh kamu dan istrimu surga ini, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang Zhalim.

Lalu keduanya digelincirkan oleh syaithan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman: “Turunlah kamu! Sebagian kamu menjadi musuh dengan sebagian yang lain , dan bagi kamu ada tempat kediaman di muka bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang di tentukan”.

Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima Taubatnya. Sesungguhnya Allah maha penerima taubat lagi maha penyayang.

Kami berfirman: “Turunlah kamu semua dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuku-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikutiu petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”.

Adapun orang-orang Kafir dan mendustakah ayat-ayat Kami, mereka itu penguni neraka; mereka kekal di dalamnya. (QS. Al-Baqarah [2]: 30-39)

Ini adalah ayat-ayat penting dalam bahasan awal kajian tentang penciptaan Adam ‘Alaihis Salaam.

* Kajian Kisah Para Nabi, diselenggarkan oleh Wahdah Islamiyah Yogyakarta. Kajian ini dilaksanakan setiap pekan, dengan pemateri Ust Ridwan Hamidi, Lc.

Read Full Post »