Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘bandung’

PRINSIP KEDELAPAN: PERASAAN YANG TULUS.

Termasuk prinsip dalam menulis dan mempelajari sirah nabawiyah adalah rasa cinta yang tulus terhadap Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang menggambarkan hubungan yang hakiki secara lahir dan bathin dan turut hidup secara sungguh-sungguh bersama setiap kejadian sirah nabawiyah. [‘Adlwaa’ ‘ala dirasatis sirah’ yang ditulis oleh Asy Syaami hal 26]
Muhammad Al Ghazali mengungkapkan perasaan yang hidup, dengan mengatakan dalam muqaddimah Fiqih Sirahnya : “Sesungguhnya saya menulis sirah seperti seorang tentara yang menulis tentang panglimanya, pengikut yang menulis tentang tuannya, murid yang menulis tentang gurunya, dan saya tidak –seperti yang telah saya katakan- menjadi seorang sejarawan yang tidak punya hubungan dengan orang yang ditulisnya.” Mempelajari sirah merupakan ibadah dan taqarrub kepada Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa yang menumbuhkan kecintaan dan perasaan tersebut. [Fiqih Sirah hal 5].

———–
* Materi ini pernah dipublikasikan oleh ustadz Ridwan Hamidi, Lc dalam berbagai kesempatan kajian sejak bulan Mei tahun 2001, antara lain di kajian rutin Yayasan al Hikmah Bandung, kajian umum yang diselenggarakan oleh Wahdah Islamiyah Bandung, kajian umum di Masjid Pogung Raya Yogyakarta dan beberapa tempat lain.

Sumber: [http://sirahnabawiyah.wordpress.com/2010/01/14/kaidah-mempelajari-sirah-8/]

Iklan

Read Full Post »

SHALAT GERHANA

Pertanyaan:

Bagaimana tata cara shalat gerhana yang dituntunkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?

Jawaban:

Berikut ini, kami sampaikan tata cara shalat gerhana yang dituntunkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana paparan Syaikh Shalih bin Fauzan al Fauzan dalam buku beliau al Mulakhkhash al Fiqhi (1/283-284).

وصفة صلاة الكسوف:

أن يصلي ركعتين يجهر فيهما بالقراءة على الصحيح من قولي العلماء، ويقرا في الركعة الأولى الفاتحة وسورة طويلة كسورة البقرة أو قدرها، ثم يركع ركوعا طويلاً، ثم يرفع رأسه ويقول: “سمع الله لمن حمده، ربنا لك الحم”؛ بعد اعتداله كغيرها من الصلوات، ثم يقرأ الفاتحة وسورة طويلة دون الأولى بقد سورة آل عمران، ثم يركع فيطيل الركوع، وهو دون الركوع الأول، ثم يرفع رأسه ويقول: “سمع الله لمن حمده، ربنا ولك الحمد حمدًا كثيرًا طيبا مباركا فيه، ملء السماء وملء الأرض وملء ما شئت من شيء بعده”، ثم يسجد سجدتين طويلتين، ولا يطيل الجلوس بين السجدتين، ثم يصلي الركعة الثانية كالأولى بركوعين طويلين وسجودين طويلين مثلما فعل في الركعة الأولى، ثم يتشهد ويسلم.

TATA CARA SHALAT GERHANA:

Melaksanakan shalat 2 raka’at dengan mengeraskan bacaan padanya, menurut pendapat yang shahih dari dua pendapat ulama, membaca pada rakaat pertama surat Al Fatihah dan surat yang panjang seperti surat Al Baqarah atau yang seukuran dengannya, kemudian ruku’ dengan ruku’ yang panjang, kemudian mengangkat kepalanya dan membaca:

“Sami allahu liman hamidah, rabbana wa lakal hamd”

[“Maha mendengar Allah terhadap orang yang memuji-Nya. Wahai Robb kami, bagi Engkaulah segala puji”]

Kemudian setelah i’tidal, melakukan seperti shalat-shalat yang lainnya, kemudian membaca Al Fatihah dan surat yang lebih pendek dari yang pertama seukuran surat Ali ‘Imran, kemudian memanjangkan ruku’nya, lebih pendek dari ruku’ yang pertama, kemudian mengangkat kepalanya dan membaca,

”Sami’ allahu liman hamidah, rabbana wa lakal hamd, hamdan katsiran thayyiban mubaarakan fiihi, mil’as samaa’i wa mil’al ardh, wa mil’a ma syi’ta min syai’in ba’du”

[“Maha mendengar Allah terhadap orang yang memuji-Nya. Wahai Robb kami,bagi Engkaulah segala puji dengan pujian yang banyak, baik dan penuh keberkahan padanya, sepenuh langit, sepenuh bumi dan sepenuh apa yang Engkau kehendaki dari segala sesuatu sesudahnya”].

Lalu sujud dua kali yang panjang dan tidak memperlama duduk diantara dua sujud, kemudian shalat untuk raka’at yang kedua seperti yang pertama dengan dua ruku’ dan dua sujud yang panjang, sebagaimana yang dikerjakan para raka’at yang pertama, kemudian tasyahud dan salam.

هذه صفة صلاة الكسوف؛ كما فعلها رسول الله صلى الله عليه وسلم، وكما روى ذلك عنه من طرق، بعضها في “الصحيحين”؛

منها ماروت عائشة رضي الله عنها: “أن الشمس خسفت على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم، فخرج رسول الله صلى الله عليه وسلم، فقام وكبر وصف الناس وراءه، فاقترأ رسول الله صلى الله عليه وسلم قراءة طويلة، فركع ركوعا طويلاً، ثم رفع رأسه، فقال: سمع الله لمن حمده ربنا ولك الحمد، ثم قام فاقترأ قراءة طويلة هي أدنى من القراءة الأولى ثم كبر فركع ركوعا طويلاً هو أدنى من الركوع الأول، ثم قال: سمع الله لمن حمده ربنا ولك الحمد، ثم سجد ثم فعل في الركعة الثانية مثل ذلك حتى استكمل أربع ركعات وأربع سجدات، وانجلت الشمس قبل أن ينصرف” ، متفق عليه.

Inilah tata cara shalat gerhana sebagaimana yang dikerjakan oleh Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam dan sebagaimana yang diriwayatkan dari beliau tentang hal itu melalaui beberapa jalan, sebagiannya di Ash Shahihain.

Diantaranya adalah hadits yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah Radhiyallaahu ‘Anha, “Matahari mengalami gerhana pada masa Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam, maka beliau berdiri, bertakbir, dan orang-orang berbaris dibelakang beliau. Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam membaca bacaan yang panjang lalu beliau ruku’ dengan ruku’ yang lama, kemudian mengangkat kepalanya dan mengucapkan, “SAMI’ALLAAHU LIMAN HAMIDAH, ROBBANAA WA LAKAL HAMDU”. Kemudian beliau berdiri dan membaca bacaan yang panjang lebih pendek dari bacaan yang pertama, lalu takbir dan ruku’ yang lama lebih pendek dari ruku’ yang pertama, kemudian mengucapkan, “SAMI’ ALLAAHU LIMAN HAMIDAH, ROBBANAA WA LAKAL HAMDU”. Kemudian sujud. Lalu beliau mengerjakan yang seperti itu pada rakaat yang kedua hingga sempurna empat ruku’ dan empat sujud. Dan matahari kembali terlihat sebelum beliau selesai” (Muttafaqun ‘Alaih).[1]


[1] Muttafaq ‘Alaih: Al Bukhari (1046) [2/688]; dan Muslim (2088) [3/440].——— — –

* Paparan ini disampaikan oleh ustadz Ridwan Hamidi, Lc dalam kesempatan kajian di Masjid Abu Bakar, Komplek SD Al Amanah, Cikole, Lembang, pada hari Jum’at 15 Januari 2010.

Read Full Post »

PRINSIP KETUJUH: KONSISTEN DENGAN ISTILAH-ISTILAH SYAR’I.

Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa membagi manusia menjadi tiga kelompok: mu’min, kafir dan munafiq –seperti yang dapat kita temukan pada awal surat Al Baqarah- Allah juga menjadikan manusia dalam dua kelompok wali-wali Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa dan wali-wali syetan. Maka harus konsisten dengan nama-nama tersebut dan tidak mengganti dengan nama-nama lain seperti (Islam) kiri dan kanan, (Islam) liberalis…, kecuali jika memang diperlukan dalam rangka menjelaskan pemahaman dan kecenderungan beberapa orang yang diharapkan ada manfaat yang didapatkan dari menyebutkan istilah tersebut dengan tetap berusaha memberikan definisi dan membatasi diri sebisa mungkin.
Faidah memberikan definisi dan membatasi diri adalah untuk mengurangi usaha sebagian orang yang memang ingin merusak dengan mengaburkan dan menimbulkan kerancuan. Sebab mereka berusaha menutup dan membuat orang tidak mengenal nama-nama dan istilah-istilah syar’i yang punya dampak terhadap hukum-hukum syar’i dan prinsip wala dan bara’.

—––
* Materi ini pernah dipublikasikan oleh ustadz Ridwan Hamidi, Lc dalam berbagai kesempatan kajian sejak bulan Mei tahun 2001, antara lain di kajian rutin Yayasan al Hikmah Bandung, kajian umum yang diselenggarakan oleh Wahdah Islamiyah Bandung, kajian umum di Masjid Pogung Raya Yogyakarta dan beberapa tempat lain.

Sumber: http://sirahnabawiyah.wordpress.com/2010/01/14/kaidah-mempelajari-sirah-7/

Read Full Post »

KAIDAH KEENAM: MEMAHAMI BAHASA ARAB DAN SELUK BELUKNYA.

Tulisan-tulisan pada zaman-zaman awal memiliki keistimewaan kekuatan susunan bahasa, keteraturan makna, keruntutan kata-katanya dan konsisten dengan susunan bahasa Arab dan madzhab-madzhabnya dalam memeberikan penjelasan. [Abu Syahbah, dalam As Sirah An Nabawiyah 1/26].
Maka orang yang mempelajari sirah nabawiyah perlu memiliki pemahaman yang baik tentang bahasa Arab dan seluk beluknya agar dapat berinteraksi dengan riwayat-riwayat sirah nabawiyah, sebab yang dituntut adalah mampu memahami dan istimbath (mengambil hukum dan pelajaran) dari sirah berdasarkan kaidah-kaidah bahasa Arab tanpa ada unsur memaksakan diri dalam membuat penafsirannya. [Lihat apa yang ditulis oleh DR Akram Dliya’ al ‘Umari dalam sirah 1/20].

—-
* Materi ini pernah dipublikasikan oleh ustadz Ridwan Hamidi, Lc dalam berbagai kesempatan kajian sejak bulan Mei tahun 2001, antara lain di kajian rutin Yayasan al Hikmah Bandung, kajian umum yang diselenggarakan oleh Wahdah Islamiyah Bandung, kajian umum di Masjid Pogung Raya Yogyakarta dan beberapa tempat lain.

http://sirahnabawiyah.wordpress.com/2010/01/14/kaidah-mempelajari-sirah-6/

Read Full Post »

PRINSIP KEEMPAT: MENELITI KEMUDIAN MENGAMBIL RIWAYAT-RIWAYAT YANG SHAHIH DALAM MASALAH-MASALAH YANG BERKAITAN DENGAN ‘AQIDAH DAN SYARI’AH.

Ada dua pendapat yang terkenal dari ulama tentang penelitian riwayat sirah nabawiyah:
1. Ada yang tidak merasa perlu meneliti riwayat tersebut dan membolehkan menggunakan semua riwayat sirah. Mereka beralasan bahwa para penulis sirah tidak menggunakannya dan tidak berusaha secara sungguh-sungguh menggunakannya. Mereka berargumen dengan pernyataan yang dikeluarkan oleh Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah: “Tiga kitab yang tidak ada ushulnya: sirah nabawiyah, cerita-cerita tentang fitnah dan tafsir.”
Dari argumen mereka mungkin bisa kita jawab dengan beberapa alasan:
a) Keshahihan pernyataan ini bersumber dari Imam Ahmad masih dipertanyakan. Orang yang mengatakan: Dalam sirah tidak ada riwayat yang shahih. Ungkapan ini sangat aneh sebab kita bisa lihat dalam kitab-kitab shahih dan sunan. Bukankah Imam Ahmad juga menyebutkan (riwayat-riwayat sirah) dalam musnadnya?
b) Kalaupun memang riwayat dari Imam Ahmad tersebut shahih, maka beliau tidak mengatakan: Tidak ada satupun riwayat (sirah) yang shahih, tetapi beliau mengatakan: Tidak memiliki ushul. Disamping itu beliau juga mengatakan: “Tiga buku” ini menunjukan bahwa maksudnya: “Buku-buku khusus dalam tiga bidang ini tidak dapat dijadikan pegangan dan keshihannya tidak dapat dipercaya karena para penulisnya buruk (dari sudut pandang ilmu hadits, pent) dan orang-orang yang menukil bukan orang yang adil serta ada tambahan dari para tukang cerita. [Al Jaami’ karya Al Khathib Al Baghdadi 2/224].
c) Bahkan kalaupun beliau mengatakan bahwa tidak ada yang shahih maka ini tidak berarti tidak ada yang hasan, dan tidak harus berarti dlo’if (lemah) atau maudlu’ (palsu).
d) Pendapatnya ini di gunakan untuk mengungkapkan sesuatu yang sifatnya mayoritas. Kebanyakan riwayat–riwayat dalam ketiga ilmu ini tidak memiliki sanad yang bersambung.

2. Pendapat kedua ini diwakili oleh DR Akram Dhiya` Al ‘Umari, beliau mengatakan: “Seharusnya mengandalkan riwayat-riwayat shahih kemudian hasan, kemudian riwayat-riwayat dlo’if yang dikuatkan dengan riwayat (dlo’if) lain untuk membentuk gambaran sejarah dari peristiwa-peristiwa pada masyarakat Islam pada generasi awal Islam…ketika ada pertentangan maka yang selalu digunakan adalah riwayat yang lebih kuat…Sedangkan riwayat-riwayat yang dlo’if yang tidak kuat atau tidak dikuatkan dengan riwayat lain maka mungkin digunakan untuk melengkapi kekosongan yang tidak diisi oleh riwayat yang shohih atau hasan dengan syarat tidak berkaitan dengan aqidah atau tasyri’ berdasarkan kaidah: “Sikap memperketat (itu) pada hal-hal yang berkaitan dengan aqidah atau syari’ah” Tidak diragukan lagi bahwa zaman Sirah Nabawiyah dan Khulafaur Rasyidin penuh dengan persoalan fiqih. Para Khulafaur Rasyidin berijtihad dalam menjalani persoalan hidup sejalan dengan ajaran Islam. Mereka adalah orang-orang yang patut dicontoh dalam hukum-hukum dan aturan-aturan yang mereka istimbath untuk persoalan-persoalan yang baru muncul setelah meluasnya nageri Islam, setelah pembukaan negri-negri Islam. Sedangkan riwayat-riwayat sejarah yang berkaitan dengan bangunan, seperti perencanaan kota, penambahan bangunan, penggalian saluran air… atau yang berhubungan dengan kondisi medan pertempuran, cerita tentang mujahidin yang menunjukkan keberanian dan pengorbanan mereka maka tidak mengapa tidak terlalu ketat dalam menggunakan riwayatnya. (As Sirah An Nabawiyah Ash Shohihah karya DR Akram Dhiya` Al ‘Umari 1/40 dan lihat juga tentang manhaj ini pada muqaddimah buku tersebut hal 19).
Inilah manhaj yang diakui dikalangan para imam muhaqqiqin. Hal ini dibuktikan dengan apa yang telah dilakukan oleh Imam Adz Dzahabi dalam Tarikh Al Islam, Ibnu Sayyidinnaas dalam ‘Uyuunul Atsar Ibnu Hajar dalam Fathul Bari Ibnul Qayyim dan Ibnu Katsir.[Lihat: As Sirah An Nabawiyah Ash Shohihah karya DR Akram Dhiya` Al ‘Umari 1/41, Tahqiq Mawaqif Ash Shahabat karya Al Mahzun 1/98-100].
Sedangkan riwayat-riwayat sejarah yang diambil adalah riwayat-riwayat sejarah yang disepakati oleh para ahli sejarah (akhbariyyun). [As Sirah An Nabawiyah Ash Shohihah, DR Akram Dhiya` Al ‘Umari 1/20]. Kalau kita mau membuat standar bahwa setiap riwayat sirah yang kita gunakan adalah riwayat sejarah yang shahih secara mutlak –seperti yang dilakukan oleh beberapa penulis sirah sehingga membuang banyak peristiwa sejarah- akan mengakibatkan terabaikannya khazanah ilmiyah yang sangat banyak, tidak memanfaatkan riwayat-riwayat tersebut dalam lapangan da’wah dan pendidikan…dan lain-lain; yang menyebabkan keraguan terhadap semua yang akan dijadikan landasan dalam mengambil hukum atau ibrah (pelajaran). [At Tarikh Al Islami –mawaaqif wa ‘ibar- DR Abdul Aziz Al Humaidi, 1/28-35].
Sekarang yang menjadi pertanyaan: Bagaiamana sirah akan disusun berdasarkan manhaj (metode) tadi, Apakah semua riwayat yang ada kita tulis secara lengkap atau riwayat-riwayat tersebut dikumpulkan dalam satu konteks?
Mungkin manhaj yang lebih tepat adalah cara kedua, untuk menghindari agar tidak membingungkan pembaca, memecahkan konsentrasinya karena kisah yang disebutkan terputus atau sebagian kisah tersebut disebutkan berulang-ulang, tidak ada gambaran yang runtut dan lengkap tentang sirah. Disamping itu, inilah manhaj yang dilakukan oleh Imam Az Zuhri ketika menceritakan haaditsatul ifki (peristiwa fitnah tuduhan perbuatan yang tidak benar kepada ‘Aisyah) seperti yang diriwayatkan Imam Muslim. [Shahih Muslim no 2770, Syarah An Nawawi 17/156].


* Materi ini pernah dipublikasikan oleh ustadz Ridwan Hamidi, Lc dalam berbagai kesempatan kajian sejak bulan Mei tahun 2001, antara lain di kajian rutin Yayasan al Hikmah Bandung, kajian umum yang diselenggarakan oleh Wahdah Islamiyah Bandung, kajian umum di Masjid Pogung Raya Yogyakarta dan beberapa tempat lain

Disalin dari (http://sirahnabawiyah.wordpress.com)

Read Full Post »

PRINSIP KETIGA: MENEMPATKAN AL QUR`AN SEBAGAI SUMBER PERTAMA DALAM MEMPELAJARI DAN MEMAHAMI SIRAH

Ada beberapa kelebihan dalam mempelajari sirah nabawiyah melalui al Qur`an, diantaranya:
– Mempelajari Al Qur`an adalah ibadah yang agung.
– Al Qur`an mencakup beberapa informasi rinci yang tidak terdapat pada sumber-sumber lain, seperti pada kejadian pernikahan Zainab –-radliyallaahu ‘anha-
– Informasi yang teliti dalam menceritakan kejadian dan pribadi, sampai-sampai menggambarkan gerakan hati, raut wajah, getaran jiwa. Ini adalah keistimewaan yang akan mengajak pembaca terbang ke alam nyata seakan-akan mengalami.
– Penekanan yang diberikan Al Qur`an terhadap beberapa kekhususan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam seperti keberadaan beliau sebagai manusia biasa, risalahnya yang diperuntukkan seluruh umat manusia dan jin serta beliau adalah penutup para nabi.
– Al Qur`an menghubungkan antara kejadian dan perjalanan hidupnya dengan aqidah dan iman terhadap qadla dan qadar.
– Penjelasan tentang hikmah dan akibat dari suatu kejadian. Ini adalah pelajaran pendidikan yang sangat dibutuhkan.
Dengan mempelajari sirah melalui Al Qur`an maka kejadian yang ada pada kisah akan berpindah dari satu zaman dan tempat tertentu menjadi pelajaran besar yang menyeluruh yang tidak dibatasi ruang dan waktu… dibaca sampai hari Qiamat.
Orang yang hidup dengan sirah melalui Al Qur`an –dan hadits yang shahih- akan merasa bahwa sirah bukan hanya sekedar rangkaian peristiwa, tetapi menjadi sesuatu yang menumbuhkan perasaan keimanannya terhadap orang-orang beriman dan keyakinannya terhadap sunnatullah.
Meski begitu pentingnya hal ini, namun masih belum mendapat perhatian yang layak.

—–
* Materi ini pernah dipublikasikan oleh ustadz Ridwan Hamidi, Lc dalam berbagai kesempatan kajian sejak bulan Mei tahun 2001, antara lain di kajian rutin Yayasan al Hikmah Bandung, kajian umum yang diselenggarakan oleh Wahdah Islamiyah Bandung, kajian umum di Masjid Pogung Raya Yogyakarta dan beberapa tempat lain

Disalin dari (http://sirahnabawiyah.wordpress.com)

Read Full Post »

KAIDAH KEDUA: MENINGGALKAN PRINSIP MENCARI PEMBENARAN

Hendaknya Sirah Nabawiyah berangkat dari keyakinan terhadap kejayaan Islam dan Islamlah satu-satunya yang berhak menjadi hukum dan memimpin, Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa tidak menerima agama selain Islam serta keyakinan bahwa hal itu tidak bisa difahami melainkan dengan mempelajari sirah.
Oleh karena itu harus dihindari ‘inhizaamiyah’ perasaan (bahwa Islam ini) kalah (dari yang lainnya), dalam mempelajari dan menganalisa sirah terutama dalam masalah jihad.
Diantara tema dimana orang-orang yang merasa kalah merasa tidak mendapatkan jalan keluar adalah masalah pembunuhan Yahudi Bani Quraizhah ketika mereka menerima hukum yang telah ditetapkan oleh Sa’d bin Mu’adz –beliau dahulu akrab dan menjalin hubungan baik dengan mereka pada masa Jahiliyah-. Beliau menetapkan dengan hukum Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa: Bahwa semua kaum laki-lakinya dibunuh, para wanita dan anak-anak mereka menjadi budak. Disini orang yang memang tidak memiliki perasaan ‘izzatul Islam (Islam satu-satunya yang pantas memiliki kejayaan) merasa sulit berhadapan dengan kejadian ini, sehingga berusaha membuat keraguan tentang keshahihan kisah tersebut, padahal kisah tersebut tidak diragukan lagi keshahihannya. Kisah ini dikeluarkan oleh Imam Muslim dengan nomor hadits 1766.


* Materi ini pernah dipublikasikan oleh ustadz Ridwan Hamidi, Lc dalam berbagai kesempatan kajian sejak bulan Mei tahun 2001, antara lain di kajian rutin Yayasan al Hikmah Bandung, kajian umum yang diselenggarakan oleh Wahdah Islamiyah Bandung, kajian umum di Masjid Pogung Raya Yogyakarta dan beberapa tempat lain pada tahun-tahun berikutnya.

Disalin dari (http://sirahnabawiyah.wordpress.com)

Read Full Post »

Older Posts »