Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘islamiyah’

Ilmu yang sempurna menjadikan kelengkapan Akhlak yang sempurna. Lalu Allah pun ingin memperlihatkan kesempurnaan makhluk ini kepada para malaikat. Dia perlihatkan benda-benda tersebut kepada malaikat seraya berkata kepada mereka:

أَنبِئُونِي بِأَسْمَاء هَـؤُلاء إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ

“Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!” (QS. Al-Baqarah [2]: 31).

Yakni jika kalian benar pada maksud ucapan kalian sebelumnya bahwa Allah tidak menciptakan Nabi Adam ‘Alaihissalam itu lebih baik dan ucapan mereka ini didasarkan kepada apa yang mereka ketahui waktu itu, (bukan bermaksud untuk kufur kepada hikmah Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa).

Malaikat pun tidak mengetahui nama-nama benda tersebut, mereka menjawab:

سُبْحَانَكَ لاَ عِلْمَ لَنَا إِلاَّ مَا عَلَّمْتَنَا إِنَّكَ أَنتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ

“Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana .” (QS. Al-Baqarah [2]: 32).

Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa berfirman:

يَا آدَمُ أَنبِئْهُم بِأَسْمَآئِهِمْ

“Beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini.”(QS. Al-Baqarah [2]: 33).

Para malaikat pun menyaksikan sebagian kesempurnaan makhluk ini serta ilmunya yang tidak mereka sangka. Dari kejadian ini mereka benar-benar mengetahui dengan bukti yang ada betapa sempurnanya hikmah Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa, sehingga mereka benar-benar menghargai Adam ‘alaihissalaam. Lalu Allah ingin menampakkan pemuliaan dan penghormatan para malaikat kepada Nabi Adam ‘Alaihissalam secara lahir batin. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman kepada malaikat:

اسْجُدُواْ لآدَمَ

“Sujudlah kamu sekalian kepada Adam,” (QS. Al-Baqarah [2]: 34).

Untuk menghormatinya, mengagungkannya, memuliakannya sekaligus sebagai bentuk ibadah, ketaatan, kecintaan, dan pendekatan diri kepada Rabb kalian.

Mereka semua segera bersujud. Dan Iblis saat itu bersama mereka. Perintah untuk bersujud tertuju kepadanya pula, Namun ia bukan dari kalangan malaikat, dia termasuk jenis jin yang tercipta dari api yang panas. Dia menyambunyikan kekufuran kepada Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa serta hasad (dengki) kepada manusia yang telah Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa utamakan dengan kelebihan ini.

Kesombongan dan kekufurannya menyebabkannya menolak untuk bersujud kepada Nabi Adam sebagai bentuk kesombongan dan kekufuran kepada Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa. Tidak hanya menolak, dia bahkan menyanggah Rabb-Nya serta mencela kebijaksanaan-Nya. Iblis berkata:

أَنَاْ خَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِي مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُ مِن طِينٍ

“Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah”. (QS. Al-A’raaf [7]: 12).

Allah suhanahuwaTa’aalaa pun menjawabnya:

يَا إِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَن تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ أَسْتَكْبَرْتَ أَمْ كُنتَ مِنَ الْعَالِينَ

“Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?” (QS. Shaad [38]: 75).

Kekufuran, kesombongan, keengganan, dan penolakan yang keras ini merupakan sebab satu-satunya yang menjadikannya terusir dan terlaknat.

Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa berkata kepadanya:

فَاهْبِطْ مِنْهَا فَمَا يَكُونُ لَكَ أَن تَتَكَبَّرَ فِيهَا فَاخْرُجْ إِنَّكَ مِنَ الصَّاغِرِينَ

“Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina”. (QS. Al-A’raf [7]: 13).

(Taisiir al Lathiif al Mannaan, fi khulaashoti tafsiir al Qur’an, Syaikh Abdurrahman as Sa’di 320-321)

—————

* Materi ini disampaikan dalam kajian rutin Qashashul Anbiya’ (Kisah Para Nabi) yang disampaikan oleh ustadz Ridwan Hamidi, Lc di masjid Darul Ulum Yogyakarta. (Kajian diselenggarakan oleh Wahdah Islamiyah Yogyakarta)

Iklan

Read Full Post »

KISAH ADAM ‘ALAIHISSALAAM

(Bapak Manusia)

Allah adalah Dzat Yang Maha Awal, tiada sesuatupun sebelum-Nya. Allah senantiasa melakukan apa yang Dia kehendaki. Tidaklah terlepas suatu waktu pun dari perbuatan dan perkataan yang bersumber dari kehendak dan keinginan-Nya sesuai dengan hikmah Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa, Dzat yang Maha Bijaksana pada setiap takdir dan ketetapan-Nya, juga Maha Bijaksana pada seluruh syariat-Nya (yang dia tetapkan) bagi para hamba-hamba-Nya.

Maka, tatkala hikmah Allah yang luas, ilmu-Nya yang menyeluruh, serta rahmat-Nya yang begitu sempurna menuntut diciptakannya Nabi Adam, sang bapak manusia, -dimana Allah telah benar-benar melebihkan manusia dari kebanyakan makhluk-Nya yang lain- Allah pun mengumumkan hal itu kepada para malaikat. Allah ‘Azza Wa Jalla berfirman:

إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأَرْضِ خَلِيفَةً

“Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” (QS. Al-Baqarah [2]: 30).

Untuk menggantikan makhluk-makhluk sebelum mereka, yang hanya diketahui oleh Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa saja.

قَالُواْ أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاء

Para malaikat bertanya: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu makhluk yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah,” (QS. Al-Baqarah [2]: 30).

Ini merupakan pengagungan dan pemuliaan para malaikat kepada Rabb mereka, dimana terkadang Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa menciptakan mahkluk serupa dengan akhlak makhluk yang terdahulu, atau Allah menceritakan kepada para malaikat tentang penciptaan Nabi Adam ‘Alaihissalam dan apa yang akan terjadi dari keturunan beliau yang jahat. Allah pun menjawab kepada malaikat:

إِنِّي أَعْلَمُ مَا لاَ تَعْلَمُونَ

“Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu sekalian ketahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 30).

Dialah yang ilmunya mencakup segala sesuatu, khususnya maslahat dan manfaat yang tak terbilang yang akan terjadi pada makhluk ini.

Allah Ta’aalaa mengingatkan mereka tentang Dzat-Nya, kesempurnaan ilmu-Nya, serta kewajiban mengakui keluasan ilmu dan hikmah Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa, yang diantaranya adalah bahwa Dia tidak akan menciptakan sesuatu sia-sia atau tanpa hikmah.

Kemudian Allah menjelaskan secara terperinci (tentang penciptaan Adam ‘Alaihissalam). Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa menciptakan Nabi Adam dengan Tangan-Nya sebagai bentuk pemuliaan baginya atas seluruh makhluk. Dia genggam segenggam tanah dari seluruh jenisnya, yang lunak dan yang keras, serta yang baik dan yang buruk, agar keturunannya nanti bertabiat seperti itu.

Nabi Adam ‘Alaihissalam awalnya adalah tanah, lalu Allah memberi air padanya, dan jadilah dia ath-thiin (air bercampur tanah). Kemudian, tatkala air telah lama  bercampur dengan ath-thin tersebut, berubahlah ia menjadi lumpur yang dibentuk, sebuah campuran air dan tanah yang berwarna hitam. Lalu Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa pun mengeringkannya setelah membentuknya. Jadilah ia seperti tembikar yang memiliki suara, dimana pada tahapan ini, Nabi Adam ‘Alaihissalam masih berupa jasad tanpa ruh.

Setelah sempurna penciptaan beliau, ditiupkanlah ruh kepadanya. Berubahlah jasad yang mulanya mati menjadi hidup, memiliki tulang, daging, saraf, pembuluh darah, serta ruh, Inilah manusia yang sesungguhnya. Lalu Allah mempersiapkannya untuk bisa menyerap seluruh pengetahuan dan kebaikan. Setelah itu, Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa sempurnakan nikmat kepadanya. Dia ajari nama-nama benda seluruhnya.

Sumber: Taisiir al Lathiif al Mannaan, fi khulaashoti tafsiir al Qur’an, karya Syaikh Abdurrahman as Sa’di 319-320

——————————–

* Materi ini disampaikan dalam kajian rutin Qashashul Anbiya’ (Kisah Para Nabi) yang disampaikan oleh ustadz Ridwan Hamidi, Lc di masjid Darul Ulum Yogyakarta. (Kajian diselenggarakan oleh Wahdah Islamiyah Yogyakarta)

Read Full Post »

PRINSIP KEDELAPAN: PERASAAN YANG TULUS.

Termasuk prinsip dalam menulis dan mempelajari sirah nabawiyah adalah rasa cinta yang tulus terhadap Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang menggambarkan hubungan yang hakiki secara lahir dan bathin dan turut hidup secara sungguh-sungguh bersama setiap kejadian sirah nabawiyah. [‘Adlwaa’ ‘ala dirasatis sirah’ yang ditulis oleh Asy Syaami hal 26]
Muhammad Al Ghazali mengungkapkan perasaan yang hidup, dengan mengatakan dalam muqaddimah Fiqih Sirahnya : “Sesungguhnya saya menulis sirah seperti seorang tentara yang menulis tentang panglimanya, pengikut yang menulis tentang tuannya, murid yang menulis tentang gurunya, dan saya tidak –seperti yang telah saya katakan- menjadi seorang sejarawan yang tidak punya hubungan dengan orang yang ditulisnya.” Mempelajari sirah merupakan ibadah dan taqarrub kepada Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa yang menumbuhkan kecintaan dan perasaan tersebut. [Fiqih Sirah hal 5].

———–
* Materi ini pernah dipublikasikan oleh ustadz Ridwan Hamidi, Lc dalam berbagai kesempatan kajian sejak bulan Mei tahun 2001, antara lain di kajian rutin Yayasan al Hikmah Bandung, kajian umum yang diselenggarakan oleh Wahdah Islamiyah Bandung, kajian umum di Masjid Pogung Raya Yogyakarta dan beberapa tempat lain.

Sumber: [http://sirahnabawiyah.wordpress.com/2010/01/14/kaidah-mempelajari-sirah-8/]

Read Full Post »

SHALAT GERHANA

Pertanyaan:

Bagaimana tata cara shalat gerhana yang dituntunkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?

Jawaban:

Berikut ini, kami sampaikan tata cara shalat gerhana yang dituntunkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana paparan Syaikh Shalih bin Fauzan al Fauzan dalam buku beliau al Mulakhkhash al Fiqhi (1/283-284).

وصفة صلاة الكسوف:

أن يصلي ركعتين يجهر فيهما بالقراءة على الصحيح من قولي العلماء، ويقرا في الركعة الأولى الفاتحة وسورة طويلة كسورة البقرة أو قدرها، ثم يركع ركوعا طويلاً، ثم يرفع رأسه ويقول: “سمع الله لمن حمده، ربنا لك الحم”؛ بعد اعتداله كغيرها من الصلوات، ثم يقرأ الفاتحة وسورة طويلة دون الأولى بقد سورة آل عمران، ثم يركع فيطيل الركوع، وهو دون الركوع الأول، ثم يرفع رأسه ويقول: “سمع الله لمن حمده، ربنا ولك الحمد حمدًا كثيرًا طيبا مباركا فيه، ملء السماء وملء الأرض وملء ما شئت من شيء بعده”، ثم يسجد سجدتين طويلتين، ولا يطيل الجلوس بين السجدتين، ثم يصلي الركعة الثانية كالأولى بركوعين طويلين وسجودين طويلين مثلما فعل في الركعة الأولى، ثم يتشهد ويسلم.

TATA CARA SHALAT GERHANA:

Melaksanakan shalat 2 raka’at dengan mengeraskan bacaan padanya, menurut pendapat yang shahih dari dua pendapat ulama, membaca pada rakaat pertama surat Al Fatihah dan surat yang panjang seperti surat Al Baqarah atau yang seukuran dengannya, kemudian ruku’ dengan ruku’ yang panjang, kemudian mengangkat kepalanya dan membaca:

“Sami allahu liman hamidah, rabbana wa lakal hamd”

[“Maha mendengar Allah terhadap orang yang memuji-Nya. Wahai Robb kami, bagi Engkaulah segala puji”]

Kemudian setelah i’tidal, melakukan seperti shalat-shalat yang lainnya, kemudian membaca Al Fatihah dan surat yang lebih pendek dari yang pertama seukuran surat Ali ‘Imran, kemudian memanjangkan ruku’nya, lebih pendek dari ruku’ yang pertama, kemudian mengangkat kepalanya dan membaca,

”Sami’ allahu liman hamidah, rabbana wa lakal hamd, hamdan katsiran thayyiban mubaarakan fiihi, mil’as samaa’i wa mil’al ardh, wa mil’a ma syi’ta min syai’in ba’du”

[“Maha mendengar Allah terhadap orang yang memuji-Nya. Wahai Robb kami,bagi Engkaulah segala puji dengan pujian yang banyak, baik dan penuh keberkahan padanya, sepenuh langit, sepenuh bumi dan sepenuh apa yang Engkau kehendaki dari segala sesuatu sesudahnya”].

Lalu sujud dua kali yang panjang dan tidak memperlama duduk diantara dua sujud, kemudian shalat untuk raka’at yang kedua seperti yang pertama dengan dua ruku’ dan dua sujud yang panjang, sebagaimana yang dikerjakan para raka’at yang pertama, kemudian tasyahud dan salam.

هذه صفة صلاة الكسوف؛ كما فعلها رسول الله صلى الله عليه وسلم، وكما روى ذلك عنه من طرق، بعضها في “الصحيحين”؛

منها ماروت عائشة رضي الله عنها: “أن الشمس خسفت على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم، فخرج رسول الله صلى الله عليه وسلم، فقام وكبر وصف الناس وراءه، فاقترأ رسول الله صلى الله عليه وسلم قراءة طويلة، فركع ركوعا طويلاً، ثم رفع رأسه، فقال: سمع الله لمن حمده ربنا ولك الحمد، ثم قام فاقترأ قراءة طويلة هي أدنى من القراءة الأولى ثم كبر فركع ركوعا طويلاً هو أدنى من الركوع الأول، ثم قال: سمع الله لمن حمده ربنا ولك الحمد، ثم سجد ثم فعل في الركعة الثانية مثل ذلك حتى استكمل أربع ركعات وأربع سجدات، وانجلت الشمس قبل أن ينصرف” ، متفق عليه.

Inilah tata cara shalat gerhana sebagaimana yang dikerjakan oleh Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam dan sebagaimana yang diriwayatkan dari beliau tentang hal itu melalaui beberapa jalan, sebagiannya di Ash Shahihain.

Diantaranya adalah hadits yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah Radhiyallaahu ‘Anha, “Matahari mengalami gerhana pada masa Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam, maka beliau berdiri, bertakbir, dan orang-orang berbaris dibelakang beliau. Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam membaca bacaan yang panjang lalu beliau ruku’ dengan ruku’ yang lama, kemudian mengangkat kepalanya dan mengucapkan, “SAMI’ALLAAHU LIMAN HAMIDAH, ROBBANAA WA LAKAL HAMDU”. Kemudian beliau berdiri dan membaca bacaan yang panjang lebih pendek dari bacaan yang pertama, lalu takbir dan ruku’ yang lama lebih pendek dari ruku’ yang pertama, kemudian mengucapkan, “SAMI’ ALLAAHU LIMAN HAMIDAH, ROBBANAA WA LAKAL HAMDU”. Kemudian sujud. Lalu beliau mengerjakan yang seperti itu pada rakaat yang kedua hingga sempurna empat ruku’ dan empat sujud. Dan matahari kembali terlihat sebelum beliau selesai” (Muttafaqun ‘Alaih).[1]


[1] Muttafaq ‘Alaih: Al Bukhari (1046) [2/688]; dan Muslim (2088) [3/440].——— — –

* Paparan ini disampaikan oleh ustadz Ridwan Hamidi, Lc dalam kesempatan kajian di Masjid Abu Bakar, Komplek SD Al Amanah, Cikole, Lembang, pada hari Jum’at 15 Januari 2010.

Read Full Post »

PRINSIP KETUJUH: KONSISTEN DENGAN ISTILAH-ISTILAH SYAR’I.

Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa membagi manusia menjadi tiga kelompok: mu’min, kafir dan munafiq –seperti yang dapat kita temukan pada awal surat Al Baqarah- Allah juga menjadikan manusia dalam dua kelompok wali-wali Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa dan wali-wali syetan. Maka harus konsisten dengan nama-nama tersebut dan tidak mengganti dengan nama-nama lain seperti (Islam) kiri dan kanan, (Islam) liberalis…, kecuali jika memang diperlukan dalam rangka menjelaskan pemahaman dan kecenderungan beberapa orang yang diharapkan ada manfaat yang didapatkan dari menyebutkan istilah tersebut dengan tetap berusaha memberikan definisi dan membatasi diri sebisa mungkin.
Faidah memberikan definisi dan membatasi diri adalah untuk mengurangi usaha sebagian orang yang memang ingin merusak dengan mengaburkan dan menimbulkan kerancuan. Sebab mereka berusaha menutup dan membuat orang tidak mengenal nama-nama dan istilah-istilah syar’i yang punya dampak terhadap hukum-hukum syar’i dan prinsip wala dan bara’.

—––
* Materi ini pernah dipublikasikan oleh ustadz Ridwan Hamidi, Lc dalam berbagai kesempatan kajian sejak bulan Mei tahun 2001, antara lain di kajian rutin Yayasan al Hikmah Bandung, kajian umum yang diselenggarakan oleh Wahdah Islamiyah Bandung, kajian umum di Masjid Pogung Raya Yogyakarta dan beberapa tempat lain.

Sumber: http://sirahnabawiyah.wordpress.com/2010/01/14/kaidah-mempelajari-sirah-7/

Read Full Post »

KAIDAH KEENAM: MEMAHAMI BAHASA ARAB DAN SELUK BELUKNYA.

Tulisan-tulisan pada zaman-zaman awal memiliki keistimewaan kekuatan susunan bahasa, keteraturan makna, keruntutan kata-katanya dan konsisten dengan susunan bahasa Arab dan madzhab-madzhabnya dalam memeberikan penjelasan. [Abu Syahbah, dalam As Sirah An Nabawiyah 1/26].
Maka orang yang mempelajari sirah nabawiyah perlu memiliki pemahaman yang baik tentang bahasa Arab dan seluk beluknya agar dapat berinteraksi dengan riwayat-riwayat sirah nabawiyah, sebab yang dituntut adalah mampu memahami dan istimbath (mengambil hukum dan pelajaran) dari sirah berdasarkan kaidah-kaidah bahasa Arab tanpa ada unsur memaksakan diri dalam membuat penafsirannya. [Lihat apa yang ditulis oleh DR Akram Dliya’ al ‘Umari dalam sirah 1/20].

—-
* Materi ini pernah dipublikasikan oleh ustadz Ridwan Hamidi, Lc dalam berbagai kesempatan kajian sejak bulan Mei tahun 2001, antara lain di kajian rutin Yayasan al Hikmah Bandung, kajian umum yang diselenggarakan oleh Wahdah Islamiyah Bandung, kajian umum di Masjid Pogung Raya Yogyakarta dan beberapa tempat lain.

http://sirahnabawiyah.wordpress.com/2010/01/14/kaidah-mempelajari-sirah-6/

Read Full Post »

PRINSIP KELIMA: MENGETAHUI DAN MENYADARI KETERBATASAN AKAL UNTUK MENERIMA DAN MENOLAK NASH-NASH.

Beberapa orang yang mempelajari –terutama dari kalangan orientalis dan yang terpengaruh pemikiran mereka- berpendapat bahwa para ulama Islam telah mengabaikan kritik matan (teks), yang diakibatkan karena mereka tidak punya kemampuan (akal) untuk menganalisa. Ini tidak benar. Berikut ini akan kita sebutkan beberapa contoh penilaian sejarah yang dilakukan oleh para ulama berdasarkan kritik sejarah:
1. Imam Ibnu Hazm -rahimahullaah- menolak jumlah tentara kaum muslimin dalam perang Uhud yang disebutkan banyak ulama berdasarkan kritik matan (teks) dengan pertimbangan akal semata.
2. Musa bin ‘Uqbah -rahimahullaah- menyebutkan bahwa perang Bani Musthaliq terjadi pada tahun keempat – berbeda dengan kebanyakan ulama yang menyebutkan bahwa kejadiannya pada tahun keenam-: karena keiikutksertaan Sa’d bin Mu’adz -semoga Allah meridloinya- dalam perang tersebut, padahal beliau -semoga Allah meridloinya- wafat setelah perang Bani Quraizhah yang (perang tersebut) terjadi pada tahun keempat hijriyah. Pendapat ini diikuti oleh Imam Ibnul Qayyim dan Adz Dzahabi.
3. Imam Bukhari menganggap bahwa perang Dzatur Riqaa’ terjadi setelah perang Khaibar, karena keikutsertaan Abu Musa Al Asy’ari dan Abu Hurairah pada perang tersebut. Pendapat ini diikuti oleh Imam Ibnul Qayyim, Ibnu Katsir dan Ibnu Hajar. Berbeda dengan Ibnu Ishaq dan Al Waqidi yang berpendapat bahwa perang Dzatur Riqaa’ terjadi sebelum perang Khaibar.
4. Perbedaan pendapat tentang waktu disyariatkannya shalat khauf yang sebagian besar alasan yang disebutkan berdsarkan kritik terhadap matan (teks).
Masih banyak dontoh-contoh yang lain, tetapi yang penting untuk ditegaskan bahwa pemeliharaan riwayat (sehingga bisa sampai pada generasi berikutnya) telah banyak dilakukan oleh generasi awal. Generasi berikutnya berusaha meringkas, mengomentari dan memilih riwayat-riwayat tersebut. Ini adalah proses kritik. Pada beberapa karya ulama belakangan begitu nampak penilaian-penilaian terhadap matan yang dilakukan sangat teliti sebagaimana yang terdapat dalam Al Bidayah wan Nihayah, Fathul Bari dan buku-buku karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.
Ibnu Taimiyah -rahimahullaah- mengatakan: “Hadits-hadits yang dinukil oleh orang-orang yang tidak punya pengetahuan tidak memiliki standar, tetapi ada yang sudah diketahui bahwa itu adalah dusta, baik dengan akal, kebiasaan, karena berbeda dengan riwayat yang shahih dan cara-cara lain.” [Minhajus Sunnah 8/105. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mempunyai kaidah yang sangat penting untuk membedakan riwayat-riwayat yang dusta dengan yang benar dalam Minhajus Sunnah 7/34-43, 419-479. Shadiq ‘Arjun telah membuat contoh kongkrit dalam kitabnya [Khalid bin Walid] manhaj (metode) kritik sejarah, yang sangat baik untuk dibaca. Baliau mendiskusikan berbagai kejadian yang terdapat kesimpangsiuran riwayat-riwayat yang ada dengan pendekatan logika (akal) dan memberikan penilaian dengan sangat teliti. Sebagai contoh lihat hal 265-279].
Disamping itu, karya-karya para ulama berkaitan dengan hadits-hadits hukum dan buku-buku ushul fiqh menunjukkan bahwa para ulama banyak menggunakan akalnya untuk melakukan kritik yang luar biasa. Kalau kita mengetahui bahwa para sejarawan (Islam) terdahulu memiliki beberapa buku dalam berbagai cabang ilmu lain, maka kita tidak boleh menuduh mereka mengabaikan matan, disamping itu kita juga harus memperhatikan periodenya. Usaha-usaha mereka tidak dapat dinilai dengan standar karya-karya ilmiyah yang ada pada zaman ini agar kita tidak menutup mata dari jasa-jasa mereka.
Kemudian dalam ilmu musthalah haditspun terdapat bahasan-bahasan yang menyangkut sisi teori kritik matan (teks) hadits, namun yang agak kurang adalah penerapannya dalam riwayat-riwayat sejarah, yang tidak mendapatkan perhatian sebesar riwayat-riwayat hadits.
Orang-orang yang melakukan kritik terhadap matan melakukan kesalahan, dimana mereka menggunakan hukum-hukum akal terhadap matan-matan yang ada, mereka jadikan hukum-hukum akal tersebut sebagai standar untuk menerima atau menolak riwayat tersebut. Padahal kita semua mengetahui bahwa akal setiap orang berbeda-beda. Persoalan yang akan munsul adalah keterbatasan kemampuan akal untuk memahami cara menggabungkan (mencari titik temu) antara akal dengan nash-nash tersebut.
Bisa jadi orang yang tidak menggunakan manhaj (metode) para ulama hadits, menetapkan hadits yang lemah hanya karena maknanya benar atau sebaliknya mungkin menolak hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim karena mengira bahwa hadits itu bertentangan dengan prinsip-prinsip dan kaidah-kaidah Islam. Ini adalah penilaian yang lemah dari akal.
[Muhammad Ghazali dalam Fiqih Sirahnya telah membantah riwayat Imam Bukhari bahwa dalam perang Bani Musthaliq Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam membunuh semua orang yang berada dalam usia siap dan sanggup untuk berperang dengan alasan tidak boleh menyerang musuh sebelum memberikan peringatan kepada mereka dan itu hanya boleh kepada orang yang sudah didakwahi (kemudian menolak dakwah). Silahkan lihat: diskusi yang menarik terhadap pendapat Muhammad Ghazali tersebut dalam buku ‘Adlwaa’ ‘ala dirasatis sirah’ yang ditulis oleh Asy Syaami hal 44-46].
Termasuk bentuk kesalahan yang lain adalah menolak mu’jizat yang sudah jelas-jelas ada dan diriwayatkan dengan cara menukil yang benar (shahih). Pada hakekatnya ini merupakan akibat imbas dari pemikiran materialis dan filsafat. Padahal seorang muslim seharusnya memiliki kebanggaan dengan ajarannya yang dapat mengantarkannya kepada kebebasan yang utuh dalam penelitian ilmiahnya.

—–
* Materi ini pernah dipublikasikan oleh ustadz Ridwan Hamidi, Lc dalam berbagai kesempatan kajian sejak bulan Mei tahun 2001, antara lain di kajian rutin Yayasan al Hikmah Bandung, kajian umum yang diselenggarakan oleh Wahdah Islamiyah Bandung, kajian umum di Masjid Pogung Raya Yogyakarta dan beberapa tempat lain.

Sumber: http://sirahnabawiyah.wordpress.com/2010/01/14/30/

Read Full Post »

Older Posts »