Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘masjid’

KISAH ADAM ‘ALAIHISSALAAM

(Bapak Manusia)

Allah adalah Dzat Yang Maha Awal, tiada sesuatupun sebelum-Nya. Allah senantiasa melakukan apa yang Dia kehendaki. Tidaklah terlepas suatu waktu pun dari perbuatan dan perkataan yang bersumber dari kehendak dan keinginan-Nya sesuai dengan hikmah Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa, Dzat yang Maha Bijaksana pada setiap takdir dan ketetapan-Nya, juga Maha Bijaksana pada seluruh syariat-Nya (yang dia tetapkan) bagi para hamba-hamba-Nya.

Maka, tatkala hikmah Allah yang luas, ilmu-Nya yang menyeluruh, serta rahmat-Nya yang begitu sempurna menuntut diciptakannya Nabi Adam, sang bapak manusia, -dimana Allah telah benar-benar melebihkan manusia dari kebanyakan makhluk-Nya yang lain- Allah pun mengumumkan hal itu kepada para malaikat. Allah ‘Azza Wa Jalla berfirman:

إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأَرْضِ خَلِيفَةً

“Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” (QS. Al-Baqarah [2]: 30).

Untuk menggantikan makhluk-makhluk sebelum mereka, yang hanya diketahui oleh Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa saja.

قَالُواْ أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاء

Para malaikat bertanya: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu makhluk yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah,” (QS. Al-Baqarah [2]: 30).

Ini merupakan pengagungan dan pemuliaan para malaikat kepada Rabb mereka, dimana terkadang Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa menciptakan mahkluk serupa dengan akhlak makhluk yang terdahulu, atau Allah menceritakan kepada para malaikat tentang penciptaan Nabi Adam ‘Alaihissalam dan apa yang akan terjadi dari keturunan beliau yang jahat. Allah pun menjawab kepada malaikat:

إِنِّي أَعْلَمُ مَا لاَ تَعْلَمُونَ

“Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu sekalian ketahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 30).

Dialah yang ilmunya mencakup segala sesuatu, khususnya maslahat dan manfaat yang tak terbilang yang akan terjadi pada makhluk ini.

Allah Ta’aalaa mengingatkan mereka tentang Dzat-Nya, kesempurnaan ilmu-Nya, serta kewajiban mengakui keluasan ilmu dan hikmah Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa, yang diantaranya adalah bahwa Dia tidak akan menciptakan sesuatu sia-sia atau tanpa hikmah.

Kemudian Allah menjelaskan secara terperinci (tentang penciptaan Adam ‘Alaihissalam). Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa menciptakan Nabi Adam dengan Tangan-Nya sebagai bentuk pemuliaan baginya atas seluruh makhluk. Dia genggam segenggam tanah dari seluruh jenisnya, yang lunak dan yang keras, serta yang baik dan yang buruk, agar keturunannya nanti bertabiat seperti itu.

Nabi Adam ‘Alaihissalam awalnya adalah tanah, lalu Allah memberi air padanya, dan jadilah dia ath-thiin (air bercampur tanah). Kemudian, tatkala air telah lama  bercampur dengan ath-thin tersebut, berubahlah ia menjadi lumpur yang dibentuk, sebuah campuran air dan tanah yang berwarna hitam. Lalu Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa pun mengeringkannya setelah membentuknya. Jadilah ia seperti tembikar yang memiliki suara, dimana pada tahapan ini, Nabi Adam ‘Alaihissalam masih berupa jasad tanpa ruh.

Setelah sempurna penciptaan beliau, ditiupkanlah ruh kepadanya. Berubahlah jasad yang mulanya mati menjadi hidup, memiliki tulang, daging, saraf, pembuluh darah, serta ruh, Inilah manusia yang sesungguhnya. Lalu Allah mempersiapkannya untuk bisa menyerap seluruh pengetahuan dan kebaikan. Setelah itu, Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa sempurnakan nikmat kepadanya. Dia ajari nama-nama benda seluruhnya.

Sumber: Taisiir al Lathiif al Mannaan, fi khulaashoti tafsiir al Qur’an, karya Syaikh Abdurrahman as Sa’di 319-320

——————————–

* Materi ini disampaikan dalam kajian rutin Qashashul Anbiya’ (Kisah Para Nabi) yang disampaikan oleh ustadz Ridwan Hamidi, Lc di masjid Darul Ulum Yogyakarta. (Kajian diselenggarakan oleh Wahdah Islamiyah Yogyakarta)

Iklan

Read Full Post »

SYARAH HADITS PERTAMA ARBAIN NAWAWI

Oleh Imam Ibnu Daqiqil ‘Ied

عن أمير المؤمنين أبي حفص عمر بن الخطاب رضي الله تعالى عنه قال : سمعت رسول الله صلى الله تعالى عليه وعلى آله وسلم يقول: “إنما الأعمال بالنيات وإنما لكل امرئ ما نوى فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله ومن كانت هجرته لدنيا يصيبها أو امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه.”

Dari Amirul Mukminin Abi Hafs Umar bin Khaththab Radhiyallahu ‘Anhu: Aku mendengar Rasulullah Shallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

Sesungguhnya amalan itu tergantung niatnya, dan sesungguhnya setiap orang mendapatkan sesuai apa yang diniatkan, barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barangsiapa hijrahnya karena dunia yang akan didapatkan atau wanita yang akan dinikahi maka hijrahnya sesuai dengan apa yang dia niatkan. (HR. Bukhari Muslim).

Syarah:

رواه إماما المحدثين: أبو عبدالله محمد بن إسماعيل بن إبراهيم بن المغيرة بن بردزبه البخاري وأبو الحسين مسلم ابن الحجاج بن مسلم القشيري النيسابوري: في صحيحيهما اللذين هما أصح الكتب المصنفة

Hadits ini diriwayatkan oleh dua imamnya muhadditsin (ahli hadits), yaitu:

  1. Imam Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin al Mughirah bin Bardizbah al Bukhari
  2. Imam Abul Husain Muslim bin al Hajjaaj bin Muslim al Qusyairi an Naisaburi.

Dalam dua kita shahih mereka (Shahih Bukhari dan Shahih Muslim) yang merupakan kita hadits yang paling shahih.

هذا حديث صحيح متفق على صحته وعظيم موقعه و جلالته وكثرة فوائده رواه الإمام أبو عبدالله البخاري في غير موضع من كتابه ورواه أبو الحسين مسلم بن الحجاج في آخر كتاب الجهاد

Hadits ini shahih dan telah disepakati keshahihannya, juga telah disepakati agungnya kedudukan hadits ini dalam Islam serta sangat banyak faedahnya. Diriwayatkan oleh Abu Abdillah Al Bukhari dalam banyak tempat di kitabnya, dan Imam Abul Husain Muslim bin Hajjaj meriwayatkan di akhir Kitab al Jihad.

وهو أحد الأحاديث التي عليها مدار الإسلام وقال الإمام أحمد والشافعي رحمهما الله: يدخل في حديث الأعمال بالنيات ثلث العلم قاله البيهقي وغيره وسبب ذلك أن كسب العبد يكون بقلبه ولسانه وجوارحه والنية أحد الأقسام الثلاثة وروى عن الشافعي رضي الله تعالى عنه أن قال: يدخل هذا الحديث في سبعين بابا من الفقه وقال جماعة من العلماء: هذا الحديث ثلث الإسلام

Hadits ini merupakan salah satu sumber ajaran Islam. Imam Syafi’i dan Imam Ahmad –rahimahumallaah berkata: “Telah ada dalam hadits ini sepertiga ilmu”, Ucapan ini diriwayatkan oleh Baihaqi dan lainnya. Sebabnya dikatakan demikian adalah karena perbuatan hamba terjadi dengan hati, lisan, dan anggota badannya. Dan niat adalah salah satu dari tiga bagian ini. Juga telah diriwayatkan bahwa Imam Syafi’i pernah berkata: “Hadits ini masuk dalam tujuh puluh bab masalah fiqih”. Sekelompok ulama ada yang berkata: “Hadits ini sepertiga ilmu.”

واستحب العلماء أن تستفتح المصنفات بهذا الحديث وممن ابتدأ به في أول كتابه: الإمام أبو عبدالله البخاري.

وقال عبد الرحمن ابن مهدي: ينبغي لكل من صنف كتابا أن يبتدئ فيه بهذا الحديث تنبيها للطالب على تصحيح النية

Para ulama juga menganjurkan agar memulai karangan-karangan degan hadits ini, diantara ulama yang memulai kitabnya dengan hadits ini adalah Imam Abu Abdillah Bukhari.

Abdurrahman bin Mahdi berkata: Semua pengarang buku hendaknya memulai kitabnya dengan hadits ini, untuk mengingatkan thalibul ilmi agar membenarkan niatnya.

وهذا حديث مشهور بالنسبة إلى آخره غريب بالنسبة إلى أوله لأنه لم يروه عن النبي صلى الله عليه و سلم إلا عمر بن الخطاب رضي الله عنه ولم يروه عن عمر إلا علقمة بن أبي وقاص ولم يروه عن علقمة إلا محمد بن إبراهيم التيمي ولم يروه عن محمد بن إبراهيم إلا يحيى بن سعيد الأنصاري ثم اشتهر بعد ذلك فرواه عنه أكثر من مائتي إنسان أكثرهم أئمة

Hadits ini jika dilihat dari akhir sanadnya adalah hadits masyhur, tapi jika dilihat dari awal sanadnya adalah hadits gharib, karena tidak ada yang meriwayatkan dari Nabi Shallahu ‘Alaihi wa Sallam kecuali Umar bin Khaththab, tidak ada yang meriwayatkan dari Umar kecuali ‘Alqamah bin Abi Waqash, dan tidak ada yang meriwayatkan dari ‘Alqamah kecuali Muhammad bin Ibrahim at Taimi, dan tidak ada yang meriwayatkan dari Muhammad bin Ibrahim kecuali Yahya bin Sa’d al anshari. Kemudian setelah itu masyhur diriwayatkan oleh lebih dari dua ratus orang dan sebagian besar mereka adalah imam.

———————–

* Kajian rutin hadits Arba’in Nawawiyah dilaksanakn setiap ahad sore di Masjid Kampus UGM. Diasuh oleh Ust Ridwan Hamidi, Lc. Kajian diselenggarakan oleh Jamaah Shalahuddin UGM sejak tahun 2002.

Read Full Post »

PRINSIP KEDELAPAN: PERASAAN YANG TULUS.

Termasuk prinsip dalam menulis dan mempelajari sirah nabawiyah adalah rasa cinta yang tulus terhadap Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang menggambarkan hubungan yang hakiki secara lahir dan bathin dan turut hidup secara sungguh-sungguh bersama setiap kejadian sirah nabawiyah. [‘Adlwaa’ ‘ala dirasatis sirah’ yang ditulis oleh Asy Syaami hal 26]
Muhammad Al Ghazali mengungkapkan perasaan yang hidup, dengan mengatakan dalam muqaddimah Fiqih Sirahnya : “Sesungguhnya saya menulis sirah seperti seorang tentara yang menulis tentang panglimanya, pengikut yang menulis tentang tuannya, murid yang menulis tentang gurunya, dan saya tidak –seperti yang telah saya katakan- menjadi seorang sejarawan yang tidak punya hubungan dengan orang yang ditulisnya.” Mempelajari sirah merupakan ibadah dan taqarrub kepada Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa yang menumbuhkan kecintaan dan perasaan tersebut. [Fiqih Sirah hal 5].

———–
* Materi ini pernah dipublikasikan oleh ustadz Ridwan Hamidi, Lc dalam berbagai kesempatan kajian sejak bulan Mei tahun 2001, antara lain di kajian rutin Yayasan al Hikmah Bandung, kajian umum yang diselenggarakan oleh Wahdah Islamiyah Bandung, kajian umum di Masjid Pogung Raya Yogyakarta dan beberapa tempat lain.

Sumber: [http://sirahnabawiyah.wordpress.com/2010/01/14/kaidah-mempelajari-sirah-8/]

Read Full Post »

Pertanyaan:

Apakah shalat gerhana dilaksanakan dengan suara yang keras (jahar) atau pelan (sir)?

Jawaban:

Berikut ini petikan penjelasan terkait masalah ini, yang diambilkan dari buku Bughyatul Mutathowwi’ fi Shalaati at Tathawwu’ karya Syaikh Muhammad bin Umar bin Salim Bazamul

والقراءة في صلاة الكسوف جهرية ؛ كما فعل النبي صلى الله عليه وسلم.

عن عائشة رضي الله عنها: ” جهر النبي صلى الله عليه وسلم في صلاة الكسوف بقراءته، فإذا فرغ من قراءته؛ كبر فركع، و إذا رفع من الركعة ؛ قال: سمع الله لمن حمده، ربنا ولك الحمد. ثم يعاود القراءة في صلاة الكسوف أربع ركعات في ركعتين وأربع سجدات”. أخرجه الشيخان.

قال الترمذي رحمه الله: ” واختلف أهل العلم في القراءة في صلاة الكسوف: فرأى بعض أهل العلم أن يسر بالقراءة فيها بالنهار، ورأى بعضهم أن يجهر بالقراءة فيها ؛ كنحو صلاة العيدين والجمعة، وبه يقول مالك و أحمد وإسحاق؛ يرون الجهر فيها، وقال الشافعي: لا يجهر فيها”. اهـ. قلت: ما وافق الحديث هو المعتمد، وبالله التوفيق.

Bacaan dalam shalat kusuf dibaca dengan jahr (suara keras dan kuat), sebagaimana yang dikerjakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha:

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjaharkan bacaannya dalam shalat kusuf. Jika selesai dari bacaannya, beliaupun bertakbir dan ruku’. Dan jika dia bangkit ruku’, maka baginda berucap: “Sami Allaahu liman Hamidah. Rabbana wa lakal hamdu”. Kemudian baginda kembali mengulang bacaan dalam shalat kusuf. Empat ruku‘ dalam dua rakaat dan empat sujud.” [Dikeluarkan oleh asy-Syaikhani][1]

Imam at-Tirmidizi rahimahullah mengatakan: “Para ulama telah berbeda pendapat mengenai bacaan di dalam shalat kusuf. Sebagian ulama berpendapat supaya dibaca perlahan (sirr, dengan suara tidak terdengar) dalam shalat kusuf pada waktu siang hari. Sebagian lainnya berpendapat supaya menjaharkan bacaan dalam shalat kusuf pada siang hari. Sebagaimana halnya dengan shalat ‘Idul Fithi dan ‘Idul Adha serta shalat Jum’at. Pendapat itulah yang dikemukakan oleh Imam Malik, Ahmad dan Ishaq. Mereka berpendapat menjaharkan bacaan pada shalat tersebut. Sedangkan Imam Asy-Syafi’i mengatakan: Bacaan tidak dibaca Jahr dalam shalat sunat.[2]
Dengan ini saya katakan bahawa apa yang sesuai dengan hadits, itulah yang dijadikan sandaran.[3] Wabillahi Taufiq.


[1] Hadits shahih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari di beberapa tempat, di antaranya di dalam Kitaabul Kusuuf, bab Al-Jahr bil Qiraa’ah fil Kusuuf, (hadits no. 1065) dan lafaz di atas adalah miliknya. Dan juga diriwayatkan oleh Muslim di dalam Kitaabul Kusuuf, bab Shalaatul Kusuuf, (hadits no. 901). Lihat Jaami’ul Ushuul (VI/156). Takhrij hadits ini telah diberikan sebelumnya, tanpa memberi isyarat kepada riwayat ini.[2] Sunan at-Tirmidzi (II/448 –tahqiq Ahmad Syakir).

[3] Lihat pendapat Imam asy-Syafi’i dan dalilnya di dalam kitab Al-Umm (I/243). Juga pembahasan dalil-dalilnya serta bantahan terhadapnya di dalam kitab, Fathul Baari (II/550).

——— — –

* Paparan ini disampaikan oleh ustadz Ridwan Hamidi, Lc dalam kesempatan kajian di Masjid Abu Bakar, Komplek SD Al Amanah, Cikole, Lembang, pada hari Jum’at 15 Januari 2010.

Sumber: http://sirahnabawiyah.wordpress.com/2010/01/17/apakah-shalat-gerhana-dilaksanakan-dengan-suara-yang-keras/

Read Full Post »

SHALAT GERHANA

Pertanyaan:

Bagaimana tata cara shalat gerhana yang dituntunkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?

Jawaban:

Berikut ini, kami sampaikan tata cara shalat gerhana yang dituntunkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana paparan Syaikh Shalih bin Fauzan al Fauzan dalam buku beliau al Mulakhkhash al Fiqhi (1/283-284).

وصفة صلاة الكسوف:

أن يصلي ركعتين يجهر فيهما بالقراءة على الصحيح من قولي العلماء، ويقرا في الركعة الأولى الفاتحة وسورة طويلة كسورة البقرة أو قدرها، ثم يركع ركوعا طويلاً، ثم يرفع رأسه ويقول: “سمع الله لمن حمده، ربنا لك الحم”؛ بعد اعتداله كغيرها من الصلوات، ثم يقرأ الفاتحة وسورة طويلة دون الأولى بقد سورة آل عمران، ثم يركع فيطيل الركوع، وهو دون الركوع الأول، ثم يرفع رأسه ويقول: “سمع الله لمن حمده، ربنا ولك الحمد حمدًا كثيرًا طيبا مباركا فيه، ملء السماء وملء الأرض وملء ما شئت من شيء بعده”، ثم يسجد سجدتين طويلتين، ولا يطيل الجلوس بين السجدتين، ثم يصلي الركعة الثانية كالأولى بركوعين طويلين وسجودين طويلين مثلما فعل في الركعة الأولى، ثم يتشهد ويسلم.

TATA CARA SHALAT GERHANA:

Melaksanakan shalat 2 raka’at dengan mengeraskan bacaan padanya, menurut pendapat yang shahih dari dua pendapat ulama, membaca pada rakaat pertama surat Al Fatihah dan surat yang panjang seperti surat Al Baqarah atau yang seukuran dengannya, kemudian ruku’ dengan ruku’ yang panjang, kemudian mengangkat kepalanya dan membaca:

“Sami allahu liman hamidah, rabbana wa lakal hamd”

[“Maha mendengar Allah terhadap orang yang memuji-Nya. Wahai Robb kami, bagi Engkaulah segala puji”]

Kemudian setelah i’tidal, melakukan seperti shalat-shalat yang lainnya, kemudian membaca Al Fatihah dan surat yang lebih pendek dari yang pertama seukuran surat Ali ‘Imran, kemudian memanjangkan ruku’nya, lebih pendek dari ruku’ yang pertama, kemudian mengangkat kepalanya dan membaca,

”Sami’ allahu liman hamidah, rabbana wa lakal hamd, hamdan katsiran thayyiban mubaarakan fiihi, mil’as samaa’i wa mil’al ardh, wa mil’a ma syi’ta min syai’in ba’du”

[“Maha mendengar Allah terhadap orang yang memuji-Nya. Wahai Robb kami,bagi Engkaulah segala puji dengan pujian yang banyak, baik dan penuh keberkahan padanya, sepenuh langit, sepenuh bumi dan sepenuh apa yang Engkau kehendaki dari segala sesuatu sesudahnya”].

Lalu sujud dua kali yang panjang dan tidak memperlama duduk diantara dua sujud, kemudian shalat untuk raka’at yang kedua seperti yang pertama dengan dua ruku’ dan dua sujud yang panjang, sebagaimana yang dikerjakan para raka’at yang pertama, kemudian tasyahud dan salam.

هذه صفة صلاة الكسوف؛ كما فعلها رسول الله صلى الله عليه وسلم، وكما روى ذلك عنه من طرق، بعضها في “الصحيحين”؛

منها ماروت عائشة رضي الله عنها: “أن الشمس خسفت على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم، فخرج رسول الله صلى الله عليه وسلم، فقام وكبر وصف الناس وراءه، فاقترأ رسول الله صلى الله عليه وسلم قراءة طويلة، فركع ركوعا طويلاً، ثم رفع رأسه، فقال: سمع الله لمن حمده ربنا ولك الحمد، ثم قام فاقترأ قراءة طويلة هي أدنى من القراءة الأولى ثم كبر فركع ركوعا طويلاً هو أدنى من الركوع الأول، ثم قال: سمع الله لمن حمده ربنا ولك الحمد، ثم سجد ثم فعل في الركعة الثانية مثل ذلك حتى استكمل أربع ركعات وأربع سجدات، وانجلت الشمس قبل أن ينصرف” ، متفق عليه.

Inilah tata cara shalat gerhana sebagaimana yang dikerjakan oleh Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam dan sebagaimana yang diriwayatkan dari beliau tentang hal itu melalaui beberapa jalan, sebagiannya di Ash Shahihain.

Diantaranya adalah hadits yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah Radhiyallaahu ‘Anha, “Matahari mengalami gerhana pada masa Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam, maka beliau berdiri, bertakbir, dan orang-orang berbaris dibelakang beliau. Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam membaca bacaan yang panjang lalu beliau ruku’ dengan ruku’ yang lama, kemudian mengangkat kepalanya dan mengucapkan, “SAMI’ALLAAHU LIMAN HAMIDAH, ROBBANAA WA LAKAL HAMDU”. Kemudian beliau berdiri dan membaca bacaan yang panjang lebih pendek dari bacaan yang pertama, lalu takbir dan ruku’ yang lama lebih pendek dari ruku’ yang pertama, kemudian mengucapkan, “SAMI’ ALLAAHU LIMAN HAMIDAH, ROBBANAA WA LAKAL HAMDU”. Kemudian sujud. Lalu beliau mengerjakan yang seperti itu pada rakaat yang kedua hingga sempurna empat ruku’ dan empat sujud. Dan matahari kembali terlihat sebelum beliau selesai” (Muttafaqun ‘Alaih).[1]


[1] Muttafaq ‘Alaih: Al Bukhari (1046) [2/688]; dan Muslim (2088) [3/440].——— — –

* Paparan ini disampaikan oleh ustadz Ridwan Hamidi, Lc dalam kesempatan kajian di Masjid Abu Bakar, Komplek SD Al Amanah, Cikole, Lembang, pada hari Jum’at 15 Januari 2010.

Read Full Post »

كيف يتم حساب يوم العقيقه للمولود

السؤال

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بارك الله فيك ونفع الله بك الإسلام والمسلمين

ولد لي طفل يوم السبت الساعة السابعة مساءً ، متى يكون يوم العقيقة هل يحسب يوم ولادته من يوم السبت ام من يوم الأحد؟

الاجابة

الحمد لله والصلاة والسلام على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين، وبعد: السنة في العقيقة أن تذبح في اليوم السابع من ولادة الطفل بحيث يحسب يوم الولادة ، فتبدأ الحساب من يوم الأحد وذلك لأنه ولد بعد غروب الشمس من يوم السبت ولا تحسب يوم السبت الذي ولد فيه.، فتعق عنه يوم السبت.

BAGAIMANA CARA MENGHITUNG HARI AQIQAH?

Pertanyaan:
Assalamu’alaikum warohmatullaahi wabarakaatuh
Mudah-mudahan Allah memberkahi Anda, dan menjadikan Anda bermanfaat bagi Islam dan kaum Muslimin.
Putra saya telah lahir pada hari sabtu jam tujuh malam. Kapankah hari aqiqahnya? Apakah hari kelahirannya adalah hari sabtu atau hari Ahad?

Jawaban:
Alhamdulillaah, semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad dan kepada keluarga beliau dan seluruh sahabat beliau. Wa ba’du.
Sunnahnya dalam aqiqah, adalah binatangnya disembelih pada hari ke tujuh dari kelahiran bayi. Dimana hari kelahiran bayi juga ikut dihitung. Maka Anda mulai menghitungnya dari hari Ahad. Hal itu karena bayi ini dilahirkan setelah terbenamnya matahari pada hari sabtu, sehingga Anda tidak menghitung hari sabtu, hari kelahiran bayi tersebut. Maka Anda melaksanakan aqiqah pada hari Sabtu (yang akan datang-pent).

Dijawab oleh Syaikh Khalid bin Ali al-Musyaiqih – hafizhahullaah Dalam situs resmi beliau. No fatwa: 35051. Tanggal fatwa: 10 Dzulqa’dah 1430H-29 Oktober 2009.
Diterjemahkan dari:
http://www.almoshaiqeh.com/index.php?option=com_ftawa&task=view&id=35051&catid=&Itemid=35

———

* Pertanyaan sejenis pernah ditanyakan dalam kajian rutin ahad pagi di Masjid Kampus UGM Yogya. Kajian rutin tafsir al Qur’an yang diasuh oleh ust Ridwan Hamidi, Lc. Kajian ini diselenggarakan oleh Jamaah Shalahuddin UGM. Alhamdulillah, kajian ini sudah berlangsung hampir 10 tahun. Mudah-mudahan jawaban ini juga bisa bermanfaat bagi rekan-rekan yang dulu pernah mengikuti kajian rutin tersebut dan sekarang sudah tidak tinggal di Yogyakarta.

Read Full Post »

PRINSIP KETUJUH: KONSISTEN DENGAN ISTILAH-ISTILAH SYAR’I.

Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa membagi manusia menjadi tiga kelompok: mu’min, kafir dan munafiq –seperti yang dapat kita temukan pada awal surat Al Baqarah- Allah juga menjadikan manusia dalam dua kelompok wali-wali Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa dan wali-wali syetan. Maka harus konsisten dengan nama-nama tersebut dan tidak mengganti dengan nama-nama lain seperti (Islam) kiri dan kanan, (Islam) liberalis…, kecuali jika memang diperlukan dalam rangka menjelaskan pemahaman dan kecenderungan beberapa orang yang diharapkan ada manfaat yang didapatkan dari menyebutkan istilah tersebut dengan tetap berusaha memberikan definisi dan membatasi diri sebisa mungkin.
Faidah memberikan definisi dan membatasi diri adalah untuk mengurangi usaha sebagian orang yang memang ingin merusak dengan mengaburkan dan menimbulkan kerancuan. Sebab mereka berusaha menutup dan membuat orang tidak mengenal nama-nama dan istilah-istilah syar’i yang punya dampak terhadap hukum-hukum syar’i dan prinsip wala dan bara’.

—––
* Materi ini pernah dipublikasikan oleh ustadz Ridwan Hamidi, Lc dalam berbagai kesempatan kajian sejak bulan Mei tahun 2001, antara lain di kajian rutin Yayasan al Hikmah Bandung, kajian umum yang diselenggarakan oleh Wahdah Islamiyah Bandung, kajian umum di Masjid Pogung Raya Yogyakarta dan beberapa tempat lain.

Sumber: http://sirahnabawiyah.wordpress.com/2010/01/14/kaidah-mempelajari-sirah-7/

Read Full Post »

Older Posts »