Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘ridwan’

Sekarang mari kita tengok contoh ketiga, yakni dari diri Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, saat bermuamalah dengan Abdullah bin Ubay bin Salul. Abdullah bin Ubay terkenal sebagai tokoh kaum munafiqin di masa

(lebih…)

Iklan

Read Full Post »

Imam Ahmad rahimahullah telah disiksa dan diperlakukan secara zalim. Namun beliau tidak pernah membuka lagi catatan-catatan masa lalu saat ketika disiksa, tidak ingin mengingat orang-orang yang dahulu pernah terlibat

(lebih…)

Read Full Post »

Ayyuhal Ikhwan, banyak sekali contoh dari sikap salufus shalih yang patut kita teladani berkaitan dengan sifat ‘afuu. Di sini kami tidak banyak gunakan sebagai contoh dari Rasulullah shallallahu alaihi wasalam, lantaran beberapa sebab.

Pertama, karena akhlak Nabi shallallahu alaihi wasallam adalah akhlak

(lebih…)

Read Full Post »

Materi ini diarahkan pada seluruh kalangan baik ulama, du’at, thulabul ilmi dan mereka yang memangku jabatan, baik jabatan tinggi atau-pun rendah. Juga ditujukan kepada para bapak, ibu, para pendidik dan pengajar serta orang awam pada umumnya. Demikian pula ditujukan kepada semua yang

(lebih…)

Read Full Post »

AKHLAK ORANG YANG BERJIWA BESAR (BAG. I)

Oleh: Fadhilatus Syaikh Dr. Khalid bin Utsman as-Sabt –hafidzahullah

Alih Bahasa: Team al-Inshof

Pembaca budiman, disebabkan akhlak dan perangai terpuji begitu tinggi kedudukannya di mata Allah Ta’ala dan umat secara umum, terlebih bagi mereka yang mengusung misi dakwah Ahlu Sunnah wal Jama’ah, maka kami tergerak mengalih-bahasakan sebuah muhadharah (ceramah) ilmiyah yang

(lebih…)

Read Full Post »

Kaidah Mempelajari Sirah (10)

PRINSIP KESEPULUH: MENENTUKAN TUJUAN MENULIS DAN SASARAN YANG AKAN MEMANFAATKAN TULISAN

Bagi orang yang akan menulis sirah harus mengetahui orang-orang yang akan menjadi sasaran tulisannya dan memahami metode (susunan bahasa) yang tepat bagi mereka.

Oleh karena itu dia harus menentukan tujuannya menulis sirah tersebut, apa yang dia inginkan: penyelesaian baru (terhadap masalah), memaparkan kejadian-kejadian dengan cara baru, menjelaskan alasan berbagai persoalan yang rumit atau mengkonsentrasikan pada kejadian-kejadian yang kurang diperhatikan oleh penulis-penulis lain.[1]

Misalnya periode Mekkah adalah periode pembinaan. Sudah banyak tulisan yang memaparkan periode ini            , namun masih banyak sisi atau aspek yang perlu mendapatkan penjelasan, diantaranya:

Sikap orang-orang jahiliyah terhadap dakwah dan orang-orang mu’min. Musuh-musuh dakwah bukan hanya orang-orang Quraisy, tetapi semua orang-orang jahiliyah…Tsaqif, Hawazin dan lain-lain. Memang yang menonjol adalah Quraisy karena mereka adalah keluarga terdekat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, namun kalau hanya mengkhususkan mereka adalah satu kesalahan sebab memberikan kesan bahwa dakwah itu hanya terbatas untuk mereka, tentu ini adalah salah besar.


[1] Lihat Al Adlwaa karya Asy Syaami hal 36,37.———––
* Materi ini pernah dipublikasikan oleh ustadz Ridwan Hamidi, Lc dalam berbagai kesempatan kajian sejak bulan Mei tahun 2001, antara lain di kajian rutin Yayasan al Hikmah Bandung, kajian umum yang diselenggarakan oleh Wahdah Islamiyah Bandung, kajian umum di Masjid Pogung Raya Yogyakarta dan beberapa tempat lain.

Read Full Post »

KAIDAH KESEMBILAN: MEMBERIKAN HAK YANG TEPAT KEPADA RASULULLAH

SHALLALLAAHU ‘ALAIHI WA SALLAM, TIDAK BERLEBIHAN DAN MENYIMPANG.

Ada dua kelompok yang menyimpang dari sunnah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan manhaj salaf dalam mempelajari sirah nabawiyah:

  1. Kelompok yang tidak memberikan hak Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana mestinya, misalnya dalam hal menghormati, menghargai dan mengagungkannya. Mereka mempelajari sirahnya seperti mempelajari biografi tokoh-tokoh lainnya. Mereka melihat dari sisi keagungan pribadinya, kehebatannya dalam memimpin, kepahlawanannya, statusnya sebagai seorang kepala negara dan orang yang memperbaiki kondisi masyarakat. Mereka mengabaikan sisi yang paling tinggi (penting) dalam kehidupannya yaitu mendapat kehormatan mendapat wahyu dari Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa dan menjadi nabi dan rasul penutup. Ada riwayat yang perlu mereka ketahui dan pelajari yaitu riwayat dari Abu Sufyan pada saat Fathu Makkah. Beliau berkata kepada Al Abbas ketika melihat pasukan kaum muslimin (sahabat) -semoga Allah meridloi mereka-: “Demi Allah, sungguh kekuasaan keponakanmu hari ini menjadi besar, Al Abbas menjawab: “Tidak (celakalah kamu), wahai Abu Sufyan, sesungguhnya ini adalah kenabian.” Abu Sufyanpun menjawab: “Ya, memang demikian.”[1] (lebih…)

Read Full Post »

Older Posts »