Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘wahdah’

Ilmu yang sempurna menjadikan kelengkapan Akhlak yang sempurna. Lalu Allah pun ingin memperlihatkan kesempurnaan makhluk ini kepada para malaikat. Dia perlihatkan benda-benda tersebut kepada malaikat seraya berkata kepada mereka:

أَنبِئُونِي بِأَسْمَاء هَـؤُلاء إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ

“Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!” (QS. Al-Baqarah [2]: 31).

Yakni jika kalian benar pada maksud ucapan kalian sebelumnya bahwa Allah tidak menciptakan Nabi Adam ‘Alaihissalam itu lebih baik dan ucapan mereka ini didasarkan kepada apa yang mereka ketahui waktu itu, (bukan bermaksud untuk kufur kepada hikmah Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa).

Malaikat pun tidak mengetahui nama-nama benda tersebut, mereka menjawab:

سُبْحَانَكَ لاَ عِلْمَ لَنَا إِلاَّ مَا عَلَّمْتَنَا إِنَّكَ أَنتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ

“Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana .” (QS. Al-Baqarah [2]: 32).

Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa berfirman:

يَا آدَمُ أَنبِئْهُم بِأَسْمَآئِهِمْ

“Beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini.”(QS. Al-Baqarah [2]: 33).

Para malaikat pun menyaksikan sebagian kesempurnaan makhluk ini serta ilmunya yang tidak mereka sangka. Dari kejadian ini mereka benar-benar mengetahui dengan bukti yang ada betapa sempurnanya hikmah Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa, sehingga mereka benar-benar menghargai Adam ‘alaihissalaam. Lalu Allah ingin menampakkan pemuliaan dan penghormatan para malaikat kepada Nabi Adam ‘Alaihissalam secara lahir batin. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman kepada malaikat:

اسْجُدُواْ لآدَمَ

“Sujudlah kamu sekalian kepada Adam,” (QS. Al-Baqarah [2]: 34).

Untuk menghormatinya, mengagungkannya, memuliakannya sekaligus sebagai bentuk ibadah, ketaatan, kecintaan, dan pendekatan diri kepada Rabb kalian.

Mereka semua segera bersujud. Dan Iblis saat itu bersama mereka. Perintah untuk bersujud tertuju kepadanya pula, Namun ia bukan dari kalangan malaikat, dia termasuk jenis jin yang tercipta dari api yang panas. Dia menyambunyikan kekufuran kepada Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa serta hasad (dengki) kepada manusia yang telah Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa utamakan dengan kelebihan ini.

Kesombongan dan kekufurannya menyebabkannya menolak untuk bersujud kepada Nabi Adam sebagai bentuk kesombongan dan kekufuran kepada Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa. Tidak hanya menolak, dia bahkan menyanggah Rabb-Nya serta mencela kebijaksanaan-Nya. Iblis berkata:

أَنَاْ خَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِي مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُ مِن طِينٍ

“Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah”. (QS. Al-A’raaf [7]: 12).

Allah suhanahuwaTa’aalaa pun menjawabnya:

يَا إِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَن تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ أَسْتَكْبَرْتَ أَمْ كُنتَ مِنَ الْعَالِينَ

“Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?” (QS. Shaad [38]: 75).

Kekufuran, kesombongan, keengganan, dan penolakan yang keras ini merupakan sebab satu-satunya yang menjadikannya terusir dan terlaknat.

Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa berkata kepadanya:

فَاهْبِطْ مِنْهَا فَمَا يَكُونُ لَكَ أَن تَتَكَبَّرَ فِيهَا فَاخْرُجْ إِنَّكَ مِنَ الصَّاغِرِينَ

“Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina”. (QS. Al-A’raf [7]: 13).

(Taisiir al Lathiif al Mannaan, fi khulaashoti tafsiir al Qur’an, Syaikh Abdurrahman as Sa’di 320-321)

—————

* Materi ini disampaikan dalam kajian rutin Qashashul Anbiya’ (Kisah Para Nabi) yang disampaikan oleh ustadz Ridwan Hamidi, Lc di masjid Darul Ulum Yogyakarta. (Kajian diselenggarakan oleh Wahdah Islamiyah Yogyakarta)

Iklan

Read Full Post »

KISAH ADAM ‘ALAIHISSALAAM

(Bapak Manusia)

Allah adalah Dzat Yang Maha Awal, tiada sesuatupun sebelum-Nya. Allah senantiasa melakukan apa yang Dia kehendaki. Tidaklah terlepas suatu waktu pun dari perbuatan dan perkataan yang bersumber dari kehendak dan keinginan-Nya sesuai dengan hikmah Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa, Dzat yang Maha Bijaksana pada setiap takdir dan ketetapan-Nya, juga Maha Bijaksana pada seluruh syariat-Nya (yang dia tetapkan) bagi para hamba-hamba-Nya.

Maka, tatkala hikmah Allah yang luas, ilmu-Nya yang menyeluruh, serta rahmat-Nya yang begitu sempurna menuntut diciptakannya Nabi Adam, sang bapak manusia, -dimana Allah telah benar-benar melebihkan manusia dari kebanyakan makhluk-Nya yang lain- Allah pun mengumumkan hal itu kepada para malaikat. Allah ‘Azza Wa Jalla berfirman:

إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأَرْضِ خَلِيفَةً

“Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” (QS. Al-Baqarah [2]: 30).

Untuk menggantikan makhluk-makhluk sebelum mereka, yang hanya diketahui oleh Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa saja.

قَالُواْ أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاء

Para malaikat bertanya: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu makhluk yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah,” (QS. Al-Baqarah [2]: 30).

Ini merupakan pengagungan dan pemuliaan para malaikat kepada Rabb mereka, dimana terkadang Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa menciptakan mahkluk serupa dengan akhlak makhluk yang terdahulu, atau Allah menceritakan kepada para malaikat tentang penciptaan Nabi Adam ‘Alaihissalam dan apa yang akan terjadi dari keturunan beliau yang jahat. Allah pun menjawab kepada malaikat:

إِنِّي أَعْلَمُ مَا لاَ تَعْلَمُونَ

“Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu sekalian ketahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 30).

Dialah yang ilmunya mencakup segala sesuatu, khususnya maslahat dan manfaat yang tak terbilang yang akan terjadi pada makhluk ini.

Allah Ta’aalaa mengingatkan mereka tentang Dzat-Nya, kesempurnaan ilmu-Nya, serta kewajiban mengakui keluasan ilmu dan hikmah Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa, yang diantaranya adalah bahwa Dia tidak akan menciptakan sesuatu sia-sia atau tanpa hikmah.

Kemudian Allah menjelaskan secara terperinci (tentang penciptaan Adam ‘Alaihissalam). Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa menciptakan Nabi Adam dengan Tangan-Nya sebagai bentuk pemuliaan baginya atas seluruh makhluk. Dia genggam segenggam tanah dari seluruh jenisnya, yang lunak dan yang keras, serta yang baik dan yang buruk, agar keturunannya nanti bertabiat seperti itu.

Nabi Adam ‘Alaihissalam awalnya adalah tanah, lalu Allah memberi air padanya, dan jadilah dia ath-thiin (air bercampur tanah). Kemudian, tatkala air telah lama  bercampur dengan ath-thin tersebut, berubahlah ia menjadi lumpur yang dibentuk, sebuah campuran air dan tanah yang berwarna hitam. Lalu Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa pun mengeringkannya setelah membentuknya. Jadilah ia seperti tembikar yang memiliki suara, dimana pada tahapan ini, Nabi Adam ‘Alaihissalam masih berupa jasad tanpa ruh.

Setelah sempurna penciptaan beliau, ditiupkanlah ruh kepadanya. Berubahlah jasad yang mulanya mati menjadi hidup, memiliki tulang, daging, saraf, pembuluh darah, serta ruh, Inilah manusia yang sesungguhnya. Lalu Allah mempersiapkannya untuk bisa menyerap seluruh pengetahuan dan kebaikan. Setelah itu, Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa sempurnakan nikmat kepadanya. Dia ajari nama-nama benda seluruhnya.

Sumber: Taisiir al Lathiif al Mannaan, fi khulaashoti tafsiir al Qur’an, karya Syaikh Abdurrahman as Sa’di 319-320

——————————–

* Materi ini disampaikan dalam kajian rutin Qashashul Anbiya’ (Kisah Para Nabi) yang disampaikan oleh ustadz Ridwan Hamidi, Lc di masjid Darul Ulum Yogyakarta. (Kajian diselenggarakan oleh Wahdah Islamiyah Yogyakarta)

Read Full Post »

Penjelasan Hadits Arba’in Nawawi (0)

MUQADDIMAH
Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah mengutus Nabi – Nya Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam dengan Jawami’ Al Kalim , sebagaimana dikhabarkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam :
“Aku diutus dengan Jawami’ Al Kalim “ (HR. Bukhari dan Muslim).

Imam Az Zuhry Rahimahullah mengatakan : “Yang dimaksud dengan Jawami’ Al Kalim adalah bahwa Allah Azza wa Jalla mengumpulkan bagi beliau urusan-urusan/ masalah-masalah yang banyak yang dahulu tertulis dalam kitab-kitab sebelumnya hanya dengan satu atau dua urusan/ masalah”. Ulama yang lain mengatakan : “Jawami’ Al Kalim adalah kalimat yang ringkas namun mengandung makna yang banyak, padat dan mendalam”.
Jawami’ Al Kalim yang diberikan kepada Rasulullah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam terdiri dari dua macam, yaitu :
1. Yang tercantum dalam Al Qur’an Contoh : Firman Allah Azza wa Jalla : “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran” (QS. An Nahl : 90)
Kata Imam Hasan Al Bashry Rahimahullah tentang ayat ini : “Ayat yang satu ini tidak meninggalkan kebaikan kecuali dia (ayat ini) memerintahkannya dan tidak ada satu larangan pun kecuali dia (ayat ini) telah melarangnya”. Dan perkataan yang semakna diriwayatkan pula dari shahabat Abdullah bin Mas’ud Radiyallahu anhu .
2. Sabda-sabda Rasulullah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam yang banyak tercantum dalam kitab-kitab hadits. Dan jenis kedua inilah yang berusaha dikumpulkan oleh para ulama hadits dimana mereka berusaha memilih beberapa hadits beberapa hadits yang ringkas namun dianggap mampu mewakili sekian banyak hadits-hadits yang ada dan hadits-hadits yang dikumpulkan tersebut telah mencakup seluruh ajaran Ad Dien.
Adapun ulama-ulama yang mengumpulkan hadits-hadits yang dianggap termasuk Jawami’ Al Kalim antara lain : 1. Al Hafizh Abu Bakar bin As Sunny Rahimahullah (murid Imam An Nasaai Rahimahullah). Kitabnya berjudul : “Al Ijaaz wa Jawami’ Al Kalim min As Sunan Al Ma’tsuroh ”. 2. Al Qadhi Abu Abdillah Al Qudho’iy Rahimahullah, kitabnya berjudul : “As Syihab Fil Hikam wa Al Adaab”. 3. Al Khoththoby Rahimahullah, beliau menyebutkan beberapa contoh dari hadits-hadits tersebut dalam kitabnya “ Gharib Al Hadits “
4. Al Imam Al Hafizh Ibnu Ash Sholah Rahimahullah, beliau mempunyai majlis dimana beliau membacakan didalamnya hadits-hadits yang dikatakan bahwa seluruh ajaran Ad Dien berputar dan berkisar dari hadits-hadits tersebut.
Majlis tersebut terdiri dari 26 hadits yang beliau namakan “ Al Ahadits Al Kulliyah “
5. Al Imam An Nawawy Rahimahullah , beliau mengambil hadits-hadits yang telah disebutkan oleh Ibnu Ash Sholah Rahimahullah kemudian beliau menambahkannya hingga berjumlah 42 buah hadits dan beliau namakan kitabnya dengan “Al Arba’in “.
6. Al Imam An Nawawy Rahimahullah bukanlah orang pertama yang mengumpulkan/ menyusun kitab Al Arba’in sebagaimana beliau terangkan dalam muqaddimah kitab beliau : “Dan para ulama yang telah menyusun kitab Al Arba’in tidak terkira jumlahnya. Dan orang yang pertama kali saya ketahui menyusunnya adalah Abdullah bin Mubarak Rahimahullah kemudian diikuti oleh banyak ulama lain diantaranya Muhammad bin Aslam Ath Thusi –seorang ‘Alim Rabbani-, Hasan bin Sufyan An Nawawi, Abu Bakar Al Ajuri, Abu Bakar Muhammad bin Ibrahim Al Ashfahani, Ad Daruquthni, Hakim, Abu Nu’aim Al Ashfahani, Abu Abdirrahman As Sulami, Abu Said Al Maliki, Abu Usman As Shobuni, Muhammad bin Abdullah Al Anshori, Abu Bakar Al Baihaqi, dan banyak lagi dari kalangan ulama terdahulu maupun belakangan Rahimahumullahu Ajmain .
Kemudian diantara ulama itu ada yang mengumpulkan 40 hadits yang berkaitan dengan Ushuluddin (Pokok-pokok Ad Dien), Furu’ (Cabang-cabang) Ad Dien, Jihad, Zuhud, Adab dan ada pula dan ada pula tentang khutbah-khutbah. Dan kesemuanya berniat baik, mudah-mudahan Allah Azza wa Jalla meridhoi kesemuanya. Dan saya melihat pentingnya mengumpulkan hadits-hadits yang mencakup kesemua hal tersebut. Dan setiap hadits mengandung kaidah yang agung dari kaidah-kaidah Islam dan para ulama telah mensifatkan bahwa peredaran Islam berkisar pada hadits tersebut atau hadits tersebut adalah setengah dari Islam atau sepertiganya atau yang semacamnya”.
Kemudian beliau menutup muqaddimah Al Arba’in dengan perkataan : “Dan sepantasnya bagi setiap orang yang mengharapkan kesenangan akhirat untuk mengenal hadits-hadits ini karena kesemuanya mencakup hal-hal yang sangat penting dan penekanan terhadap seluruh ketaatan. Dan hal ini nampak bagi orang yang mentadabburnya ”.
Kitab Al Arba’in yang ditulis oleh Imam Nawawy Rahimahullah inilah yang akhirnya dikenal dan banyak dipelajari serta dihafalkan oleh para penuntut ilmu. Oleh karena itu banyak dari kalangan ulama kita baik yang terdahulu maupun yang belakangan menyusun kitab yang mensyarah (menjelaskan) makna-makna yang terkandung dalam hadits-hadits Al Arba’in An Nawawiyah. Diantara mereka adalah :
1. Al Imam Ibnu Daqiq Al ‘Ied Rahimahullah; beliau adalah ulama hadits dan fiqh, guru dari Imam Adz Dzahaby Rahimahullah , beliau wafat pada tahun 702 H.
2. Al Imam Najmuddin Ath Thufy Rahimahullah ; salah seorang ulama ushul fiqh yang wafat tahun 710 H, kitab beliau berjudul “ At Ta’yiin Syarhu Ahaadits Arba’iin “.
3. Al Hafizh Ibnul Mulaqqin Rahimahullah ; beliau seorang ulama besar di bidang hadits yang merupakan guru dari Al Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah dan beliau wafat tahun 804 H.
4. Al Hafizh Jalaluddin As Suyuthy Rahimahullah ; beliau seorang ulama besar yang banyak menulis kitab dari berbagai disiplin ilmu. Beliau wafat tahun 911 H.
5. Al Imam Ibnu Rajab Al Hanbaly Rahimahullah ; beliau adalah seorang ulama besar Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang bermadzhab fiqhi Hanbaly, beliau termasuk murid terdekat Al Imam Ibnu Qayyim Rahimahullah. Kitab yang beliau tulis untuk mensyarah hadits-hadits Arba’in adalah : “Jami’ul Ulum wal Hikam “. Di dalam kitab ini beliau menambah hadits Arba’in dan menggenapkannya menjadi 50 hadits kemudian menjelaskan makna ke 50 hadits tersebut. Kitab yang beliau tulis ini merupakan rujukan utama dan yang terbaik dalam mensyarah hadits-hadits Arba’in An Nawawiyah.

Sumber: http://www.wahdah.or.id

Read Full Post »

PENGERTIAN AHLUL HADITS (ASHABUL HADITS) DAN KEUTAMAAN MEREKA

Banyak ulama yang telah menyebutkan definisi Ahlul Hadits. Mungkin bisa dikumpulkan dan disimpulkan sebagai berikut : “Ahlul Hadits adalah mereka yang mempunyai perhatian terhadap hadits baik riwayat maupun dirayah, mereka bersungguh-sungguh dalam mempelajari hadits-hadits Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam dan menyampaikannya serta mengamalkannya, mereka iltizam (komitmen) dengan As Sunnah, menjauhi bid’ah dan ahli bid’ah serta sangat berbeda dengan para pengikut hawa nafsu yang mendahulukan perkataan manusia di atas perkataan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dan mendahulukan akal-akal mereka yang rusak yang bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah”.

Diantara keutamaan Ahlul Hadits yang disebutkan oleh Ulama :

1. Ahlul hadits adalah al firqoh an najiyah (golongan yang selamat) dan Ath Thoifah Al Manshuroh (kelompok yang menang/ ditolong)
Berkata Imam Ahmad bin Hanbal Rahimahullah tentang Al Firqoh An Najiyah (golongan yang selamat) dan Ath Thoifah Al Manshuroh (kelompok yang menang/ ditolong) : “Jika mereka bukan Ahlul Hadits maka aku tidak tahu siapa mereka”.
Hal yang sama dikatakan pula oleh Yazid bin Harun, Abdullah bin Mubarak, Ahmad bin Sinan, Ali bin Al Madini, Imam Al Bukhari, dan lain-lain Rahimahullahu Ajmain.

2. Ahlul Hadits adalah pemelihara ad dien dan pembela sunnah-sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.
Sufyan Ats Tsaury Rahimahullah berkata: “Para Malaikat adalah penjaga-penjaga langit dan Ashabul Hadits adalah penjaga-penjaga bumi ”.
• Abu Dawud Rahimahullah menegaskan : “Seandainya bukan kelompok ini (para Ashabul Hadits yang menulis hadits-hadits) maka sungguh Islam akan hilang ”.

3. Ahlul/Ashabul Hadits adalah pewaris harta warisan dan berbagai hikmah yang ditinggalkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.

4. Berkata Imam Asy Syafi’i Rahimahullah : “Jika saya melihat salah seorang dari Ashabul Hadits maka seakan-akan saya melihat salah seorang dari shahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. “. Dalam riwayat lain beliau berkata: “…..seakan-akan saya melihat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam masih hidup”.

5. Ahlul/Ashhabul Hadits adalah manusia yang terbaik
• Abu Bakr bin ‘Ayyasy Rahimahullah mengatakan: “Tidak ada satu kaumpun yang lebih baik dari Ashhabul hadits
• Kata Imam Ahmad Rahimahullah : “Tidak ada satu kaum pun menurut saya lebih baik dari Ahli Hadits, mereka tidak mengetahui kecuali hadits dan mereka yang paling afdhal berbicara tentang ilmu (Ad Dien) ”. Hal yang serupa dikatakan pula oleh Al Auza’iy Rahimahullah.

6. Al Haq (Kebenaran) senantiasa menyertai Ashhabil hadits
Harun Ar Rasyid Rahimahullah menyatakan: “Saya mencari empat hal lalu saya mendapatkannya pada empat kelompok : Saya mencari kekufuran maka saya mendapatkannya pada Jahmiyah, saya mencari Ilmu Kalam dan perdebatan maka saya mendapatkannya pada Mu’tazilah, saya mencari kedustaan maka saya mendapatkannya pada Rafidhah dan saya mencari Al Haq (kebenaran) maka saya mendapatkannya bersama Ashabul Hadits “.

7. Ahlul Hadits adalah para wali Allah Jalla jalaluhu.
Yazid bin Harun Rahimahullah mengatakan: “Seandainya Ashabul Hadits bukan para hamba dan wali Allah Subhanahu Wata’ala maka saya tidak mengetahui siapa lagi hamba-hamba dan wali-wali Allah Subhanahu Wata’ala.
Hal yang serupa dikatakan pula oleh Sufyan Ats Tsaury Rahimahullah dan Imam Ahmad bin Hanbal Rahimahullah.

Sumber: [http://www.wahdah.or.id/]

Read Full Post »

FADHILAH MEMPELAJARI HADITS

FADHILAH MEMPELAJARI HADITS RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM

Hadits adalah salah satu sumber hukum syariat Islam dan merupakan salah satu wahyu dari Allah

I :

) وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْـهَوَى  إِنْ هُوَ إِلاَّ وَحْىٌ يُّوْحَى   ( ( النجم : 3-4 )

Artinya : “Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)”  (An Najm : 3-4)

Sabda Rasulullah r : ((  ألا إنى  أوتيت  القرآن و مثلـه معه    ))

“Ketahuilah sesungguhnya telah diturunkan kepadaku Al Qur’an dan yang semisal dengannya (As Sunnah)” (HSR. AbuDawud, Tirmidzy, Ahmad dan Hakim)

Karena dia merupakan salah satu sumber hukum maka wajib atas kita untuk mempelajarinya dan berpegang teguh padanya.

Beberapa fadhilah/ keutamaan mempelajari hadits :

1.   Wajah para penuntut ilmu hadits cerah/ berseri-seri.

Sabda Rasulullah r :

(( نضر الله امرءاً سمع مقالتى فوعاها وحفظها و بلغها فـإنه رب حـامل فقه غير فقيه  ،  ورب

حامل فقه إلى من هو أفقه منه ))  رواه الترمذى و ابن حبان

“Mudah-mudahan Allah menjadikan berseri-seri wajah orang yang mendengarkan perkataanku lalu memahaminya dan menghafalkannya kemudian dia menyampaikannya, karena sesungguhnya boleh jadi orang yang memikul (mendengarkan) fiqh namun dia tidak faqih (tidak memahaminya) dan boleh jadi orang yang memikul (mendengarkan) fiqh  menyampaikan kepada yang lebih paham darinya” (HSR. At Tirmidzy dan Ibnu Hibban dari shahabat Abdullah bin Mas’ud t ).

Berkata Sufyan bin ‘Uyainah رحمه الله : “Tidak seorang pun yang menuntut / mempelajari hadits kecuali wajahnya cerah / berseri-seri disebabkan doa dari Nabi r (di hadits tersebut)”

2.   Para penuntut ilmu hadits adalah orang yang paling bershalawat kepada Nabi

Sabda Rasulullah r :

(( من صلى علىّ صلاة  واحدة صلى الله عليه بـها عشراً  ))

“Barang siapa yang bershalawat kepadaku satu kali maka Allah bershalawat kepadanya sepuluh kali”.

Berkata Khatib Al Baghdadi رحمه الله : Berkata Abu Nu’aim رحمه الله kepada kami : “Keutamaan yang mulia ini terkhusus bagi para perawi dan penukil hadits, karena tidak diketahui satu kelompok di kalangan ulama yang lebih banyak bershalawat kepada Rasulullah r dari mereka, baik itu (shalawat) berupa tulisan ataupun ucapan”.

Kata Sufyan Ats Tsaury رحمه الله : “Seandainya tidak ada faidah bagi shohibul hadits kecuali bershalawat kepada Rasulullah r (maka itu sudah cukup baginya) karena sesungguhnya dia selalu bershalawat kepada Nabi r selama ada di dalam kitab”.

Berkata Al ‘Allamah Shiddiq Hasan Khan رحمه الله – setelah beliau menyebutkan hadits yang menunjukkan keutamaan bershalawat kepada Nabi r : “Dan tidak diragukan lagi bahwa orang yang paling banyak bershalawat adalah ahlul hadits dan para perawi As Sunnah yang suci, karena sesungguhnya termasuk tugas mereka dalam ilmu yang mulia ini (Al Hadits) adalah bershalawat di setiap hadits, dan senantiasa lidah mereka basah dengan menyebut (nama) Rasulullah r …. maka kelompok yang selamat ini dan Jama’ah Hadits ini adalah manusia yang paling pantas bersama Rasulullah r di hari kiamat, dan merekalah yang paling berbahagia mendapatkan syafa’at Rasulullah r …. maka hendaknya anda wahai pencari kebaikan dan penuntut keselamatan menjadi seorang Muhaddits (Ahli Hadits) atau yang berusaha untuk itu”.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan bagi penuntut ilmu hadits tentang shalawat :

1. Tidak boleh seorang penuntut ilmu hadits bosan dan jemu dengan    seringnya bershalawat kepada Nabi r, karena itulah letak keutamaan   penuntut ilmu hadits.

2. Bershalawat hendaknya dipadukan antara tulisan dan ucapan.

3. Tidak boleh menyingkat ketika menuliskan shalawat kepada Nabi r.

Imam As Syuyuti رحمه الله dalam Tadribur Rasul mengkhabarkan bahwa orang yang pertama kali mengajarkan  (mencontohkan) penyingkatan shalawat dijatuhi hukuman potong tangan.

4.  Mempelajari hadits memberikan manfaat dunia dan akhirat.

Kata Sufyan Ats Tsaury رحمه الله : “Saya tidak mengetahui amalan yang afdhal di muka bumi ini dari mempelajari hadits bagi yang menginginkan dengannya wajah Allah I “.

5. Mempelajari dan meriwayatkan lebih afdhal dari berbagai macam ibadah-ibadah sunnat.

Berkata Waki bin Al Jarrah رحمه الله : “Seandainya (meriwayatkan) hadits tidak lebih afdhal dari bertasbih tentu saya tidak meriwayatkannya”.

Berkata Sulaiman At Taymy رحمه الله : “Kami pernah duduk di sisi Abu Mijlas رحمه الله dan beliau membacakan hadits kepada kami, lalu berkata salah seorang (dari kami) : Seandainya engkau membacakan surat dari Al Qur’an”. Maka berkata Abu Mijlas : “Apa yang kita lakukan sekarang ini bagiku tidaklah kurang fadhilahnya dari membaca ayat Al Qur’an”.

Berkata Abu Ats Tsalj رحمه الله : Saya bertanya kepada Imam Ahmad bin Hanbal رحمه الله  : “Wahai Abu Abdillah, yang mana lebih kau sukai : seorang menulis hadits atau  dia berpuasa sunnat dan shalat sunnat ?”. Beliau menjawab : “Menulis hadits”.

Berkata Al Khatib Al Baghdady رحمه الله  : “Mempelajari hadits pada zaman ini lebih afdhal dari seluruh ibadah-ibadah yang sunnat, disebabkan telah hilang sunnah dan orang tidak bergairah lagi dari mengerjakannya serta munculnya bid’ah-bid’ah lalu mereka (para ahli bid’ah) yang berkuasa mendominasi sekarang ini”.

Sumber: [http://www.wahdah.or.id/]

Read Full Post »

PRINSIP KEDELAPAN: PERASAAN YANG TULUS.

Termasuk prinsip dalam menulis dan mempelajari sirah nabawiyah adalah rasa cinta yang tulus terhadap Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang menggambarkan hubungan yang hakiki secara lahir dan bathin dan turut hidup secara sungguh-sungguh bersama setiap kejadian sirah nabawiyah. [‘Adlwaa’ ‘ala dirasatis sirah’ yang ditulis oleh Asy Syaami hal 26]
Muhammad Al Ghazali mengungkapkan perasaan yang hidup, dengan mengatakan dalam muqaddimah Fiqih Sirahnya : “Sesungguhnya saya menulis sirah seperti seorang tentara yang menulis tentang panglimanya, pengikut yang menulis tentang tuannya, murid yang menulis tentang gurunya, dan saya tidak –seperti yang telah saya katakan- menjadi seorang sejarawan yang tidak punya hubungan dengan orang yang ditulisnya.” Mempelajari sirah merupakan ibadah dan taqarrub kepada Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa yang menumbuhkan kecintaan dan perasaan tersebut. [Fiqih Sirah hal 5].

———–
* Materi ini pernah dipublikasikan oleh ustadz Ridwan Hamidi, Lc dalam berbagai kesempatan kajian sejak bulan Mei tahun 2001, antara lain di kajian rutin Yayasan al Hikmah Bandung, kajian umum yang diselenggarakan oleh Wahdah Islamiyah Bandung, kajian umum di Masjid Pogung Raya Yogyakarta dan beberapa tempat lain.

Sumber: [http://sirahnabawiyah.wordpress.com/2010/01/14/kaidah-mempelajari-sirah-8/]

Read Full Post »

PRINSIP KETUJUH: KONSISTEN DENGAN ISTILAH-ISTILAH SYAR’I.

Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa membagi manusia menjadi tiga kelompok: mu’min, kafir dan munafiq –seperti yang dapat kita temukan pada awal surat Al Baqarah- Allah juga menjadikan manusia dalam dua kelompok wali-wali Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa dan wali-wali syetan. Maka harus konsisten dengan nama-nama tersebut dan tidak mengganti dengan nama-nama lain seperti (Islam) kiri dan kanan, (Islam) liberalis…, kecuali jika memang diperlukan dalam rangka menjelaskan pemahaman dan kecenderungan beberapa orang yang diharapkan ada manfaat yang didapatkan dari menyebutkan istilah tersebut dengan tetap berusaha memberikan definisi dan membatasi diri sebisa mungkin.
Faidah memberikan definisi dan membatasi diri adalah untuk mengurangi usaha sebagian orang yang memang ingin merusak dengan mengaburkan dan menimbulkan kerancuan. Sebab mereka berusaha menutup dan membuat orang tidak mengenal nama-nama dan istilah-istilah syar’i yang punya dampak terhadap hukum-hukum syar’i dan prinsip wala dan bara’.

—––
* Materi ini pernah dipublikasikan oleh ustadz Ridwan Hamidi, Lc dalam berbagai kesempatan kajian sejak bulan Mei tahun 2001, antara lain di kajian rutin Yayasan al Hikmah Bandung, kajian umum yang diselenggarakan oleh Wahdah Islamiyah Bandung, kajian umum di Masjid Pogung Raya Yogyakarta dan beberapa tempat lain.

Sumber: http://sirahnabawiyah.wordpress.com/2010/01/14/kaidah-mempelajari-sirah-7/

Read Full Post »

Older Posts »