Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘yogya’

PRINSIP KEDELAPAN: PERASAAN YANG TULUS.

Termasuk prinsip dalam menulis dan mempelajari sirah nabawiyah adalah rasa cinta yang tulus terhadap Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang menggambarkan hubungan yang hakiki secara lahir dan bathin dan turut hidup secara sungguh-sungguh bersama setiap kejadian sirah nabawiyah. [‘Adlwaa’ ‘ala dirasatis sirah’ yang ditulis oleh Asy Syaami hal 26]
Muhammad Al Ghazali mengungkapkan perasaan yang hidup, dengan mengatakan dalam muqaddimah Fiqih Sirahnya : “Sesungguhnya saya menulis sirah seperti seorang tentara yang menulis tentang panglimanya, pengikut yang menulis tentang tuannya, murid yang menulis tentang gurunya, dan saya tidak –seperti yang telah saya katakan- menjadi seorang sejarawan yang tidak punya hubungan dengan orang yang ditulisnya.” Mempelajari sirah merupakan ibadah dan taqarrub kepada Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa yang menumbuhkan kecintaan dan perasaan tersebut. [Fiqih Sirah hal 5].

———–
* Materi ini pernah dipublikasikan oleh ustadz Ridwan Hamidi, Lc dalam berbagai kesempatan kajian sejak bulan Mei tahun 2001, antara lain di kajian rutin Yayasan al Hikmah Bandung, kajian umum yang diselenggarakan oleh Wahdah Islamiyah Bandung, kajian umum di Masjid Pogung Raya Yogyakarta dan beberapa tempat lain.

Sumber: [http://sirahnabawiyah.wordpress.com/2010/01/14/kaidah-mempelajari-sirah-8/]

Iklan

Read Full Post »

كيف يتم حساب يوم العقيقه للمولود

السؤال

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بارك الله فيك ونفع الله بك الإسلام والمسلمين

ولد لي طفل يوم السبت الساعة السابعة مساءً ، متى يكون يوم العقيقة هل يحسب يوم ولادته من يوم السبت ام من يوم الأحد؟

الاجابة

الحمد لله والصلاة والسلام على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين، وبعد: السنة في العقيقة أن تذبح في اليوم السابع من ولادة الطفل بحيث يحسب يوم الولادة ، فتبدأ الحساب من يوم الأحد وذلك لأنه ولد بعد غروب الشمس من يوم السبت ولا تحسب يوم السبت الذي ولد فيه.، فتعق عنه يوم السبت.

BAGAIMANA CARA MENGHITUNG HARI AQIQAH?

Pertanyaan:
Assalamu’alaikum warohmatullaahi wabarakaatuh
Mudah-mudahan Allah memberkahi Anda, dan menjadikan Anda bermanfaat bagi Islam dan kaum Muslimin.
Putra saya telah lahir pada hari sabtu jam tujuh malam. Kapankah hari aqiqahnya? Apakah hari kelahirannya adalah hari sabtu atau hari Ahad?

Jawaban:
Alhamdulillaah, semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad dan kepada keluarga beliau dan seluruh sahabat beliau. Wa ba’du.
Sunnahnya dalam aqiqah, adalah binatangnya disembelih pada hari ke tujuh dari kelahiran bayi. Dimana hari kelahiran bayi juga ikut dihitung. Maka Anda mulai menghitungnya dari hari Ahad. Hal itu karena bayi ini dilahirkan setelah terbenamnya matahari pada hari sabtu, sehingga Anda tidak menghitung hari sabtu, hari kelahiran bayi tersebut. Maka Anda melaksanakan aqiqah pada hari Sabtu (yang akan datang-pent).

Dijawab oleh Syaikh Khalid bin Ali al-Musyaiqih – hafizhahullaah Dalam situs resmi beliau. No fatwa: 35051. Tanggal fatwa: 10 Dzulqa’dah 1430H-29 Oktober 2009.
Diterjemahkan dari:
http://www.almoshaiqeh.com/index.php?option=com_ftawa&task=view&id=35051&catid=&Itemid=35

———

* Pertanyaan sejenis pernah ditanyakan dalam kajian rutin ahad pagi di Masjid Kampus UGM Yogya. Kajian rutin tafsir al Qur’an yang diasuh oleh ust Ridwan Hamidi, Lc. Kajian ini diselenggarakan oleh Jamaah Shalahuddin UGM. Alhamdulillah, kajian ini sudah berlangsung hampir 10 tahun. Mudah-mudahan jawaban ini juga bisa bermanfaat bagi rekan-rekan yang dulu pernah mengikuti kajian rutin tersebut dan sekarang sudah tidak tinggal di Yogyakarta.

Read Full Post »

PRINSIP KETIGA: MENEMPATKAN AL QUR`AN SEBAGAI SUMBER PERTAMA DALAM MEMPELAJARI DAN MEMAHAMI SIRAH

Ada beberapa kelebihan dalam mempelajari sirah nabawiyah melalui al Qur`an, diantaranya:
– Mempelajari Al Qur`an adalah ibadah yang agung.
– Al Qur`an mencakup beberapa informasi rinci yang tidak terdapat pada sumber-sumber lain, seperti pada kejadian pernikahan Zainab –-radliyallaahu ‘anha-
– Informasi yang teliti dalam menceritakan kejadian dan pribadi, sampai-sampai menggambarkan gerakan hati, raut wajah, getaran jiwa. Ini adalah keistimewaan yang akan mengajak pembaca terbang ke alam nyata seakan-akan mengalami.
– Penekanan yang diberikan Al Qur`an terhadap beberapa kekhususan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam seperti keberadaan beliau sebagai manusia biasa, risalahnya yang diperuntukkan seluruh umat manusia dan jin serta beliau adalah penutup para nabi.
– Al Qur`an menghubungkan antara kejadian dan perjalanan hidupnya dengan aqidah dan iman terhadap qadla dan qadar.
– Penjelasan tentang hikmah dan akibat dari suatu kejadian. Ini adalah pelajaran pendidikan yang sangat dibutuhkan.
Dengan mempelajari sirah melalui Al Qur`an maka kejadian yang ada pada kisah akan berpindah dari satu zaman dan tempat tertentu menjadi pelajaran besar yang menyeluruh yang tidak dibatasi ruang dan waktu… dibaca sampai hari Qiamat.
Orang yang hidup dengan sirah melalui Al Qur`an –dan hadits yang shahih- akan merasa bahwa sirah bukan hanya sekedar rangkaian peristiwa, tetapi menjadi sesuatu yang menumbuhkan perasaan keimanannya terhadap orang-orang beriman dan keyakinannya terhadap sunnatullah.
Meski begitu pentingnya hal ini, namun masih belum mendapat perhatian yang layak.

—–
* Materi ini pernah dipublikasikan oleh ustadz Ridwan Hamidi, Lc dalam berbagai kesempatan kajian sejak bulan Mei tahun 2001, antara lain di kajian rutin Yayasan al Hikmah Bandung, kajian umum yang diselenggarakan oleh Wahdah Islamiyah Bandung, kajian umum di Masjid Pogung Raya Yogyakarta dan beberapa tempat lain

Disalin dari (http://sirahnabawiyah.wordpress.com)

Read Full Post »

KAIDAH KEDUA: MENINGGALKAN PRINSIP MENCARI PEMBENARAN

Hendaknya Sirah Nabawiyah berangkat dari keyakinan terhadap kejayaan Islam dan Islamlah satu-satunya yang berhak menjadi hukum dan memimpin, Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa tidak menerima agama selain Islam serta keyakinan bahwa hal itu tidak bisa difahami melainkan dengan mempelajari sirah.
Oleh karena itu harus dihindari ‘inhizaamiyah’ perasaan (bahwa Islam ini) kalah (dari yang lainnya), dalam mempelajari dan menganalisa sirah terutama dalam masalah jihad.
Diantara tema dimana orang-orang yang merasa kalah merasa tidak mendapatkan jalan keluar adalah masalah pembunuhan Yahudi Bani Quraizhah ketika mereka menerima hukum yang telah ditetapkan oleh Sa’d bin Mu’adz –beliau dahulu akrab dan menjalin hubungan baik dengan mereka pada masa Jahiliyah-. Beliau menetapkan dengan hukum Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa: Bahwa semua kaum laki-lakinya dibunuh, para wanita dan anak-anak mereka menjadi budak. Disini orang yang memang tidak memiliki perasaan ‘izzatul Islam (Islam satu-satunya yang pantas memiliki kejayaan) merasa sulit berhadapan dengan kejadian ini, sehingga berusaha membuat keraguan tentang keshahihan kisah tersebut, padahal kisah tersebut tidak diragukan lagi keshahihannya. Kisah ini dikeluarkan oleh Imam Muslim dengan nomor hadits 1766.


* Materi ini pernah dipublikasikan oleh ustadz Ridwan Hamidi, Lc dalam berbagai kesempatan kajian sejak bulan Mei tahun 2001, antara lain di kajian rutin Yayasan al Hikmah Bandung, kajian umum yang diselenggarakan oleh Wahdah Islamiyah Bandung, kajian umum di Masjid Pogung Raya Yogyakarta dan beberapa tempat lain pada tahun-tahun berikutnya.

Disalin dari (http://sirahnabawiyah.wordpress.com)

Read Full Post »

MUQADDIMAH

Semua tentu sepakat bahwa mempelajari Sirah Nabawiyah merupakan bagian penting dalam kehidupan kita. Manfaat mempelajari sirah nabawiyah, insya Allah, akan kita bahas pada tulisan yang lain.

Bukti paling nyata betapa pentingnya sirah nabawiyah adalah banyaknya tulisan tentang sirah nabawiyah dengan berbagai bentuk penyajian. Karena manhaj (prinsip) seorang penulis mempunyai peran dalam tulisan-tulisannya maka sangat penting sekali usaha untuk memberikan batasan-batasan manhaj yang jelas dalam mempelajari dan menulis sirah. Tulisan ini adalah salah satu upaya untuk membentuk beberapa kaidah dan prinsip yang saya harap dapat bermanfaat dan dapat diikuti dengan beberapa kajian lain yang lebih matang dari para ahli dan pemerhati.

Berikut ini, kita akan coba sajikan beberapa prinsip dan kaidah dalam mempelajari sirah nabawiyah. Mudah-mudahan bermanfaat.

  1. Memahami hakekat islam dan manhajnya yang menyeluruh
  2. Meninggalkan prinsip mencari pembenaran dalam menganalisa
  3. Menempatkan al Qur`an sebagai sumber pertama dalam mempelajari dan memahami sirah
  4. Meneliti dan mengambil riwayat-riwayat yang shahih dalam masalah-masalah yang berkaitan dengan ‘aqidah dan syari’ah.
  5. Memahami dan menyadari keterbatasan akal untuk menerima dan menolak nash-nash.
  6. Memahami bahasa arab dan seluk beluknya.
  7. Konsisten dengan istilah-istilah syar’i.
  8. Perasaan yang tulus. Tidak berangkat dari kebencian dan curiga.
  9. Memberikan hak yang tepat kepada rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, tidak berlebihan dan menyimpang.
  10. Menentukan tujuan menulis dan sasaran yang akan memanfaatkan tulisan.

Ini beberapa prinsip yang mudah-mudahan bisa menjadi panduan dalam memahami sirah nabawiyah.

Insya Allah, bahasan tersebut akan disampaikan dalam beberapa tulisan berikutnya.

——-

* Materi ini pernah dipublikasikan oleh ustadz Ridwan Hamidi, Lc dalam berbagai kesempatan kajian sejak bulan Mei tahun 2001, antara lain di kajian rutin Yayasan al Hikmah Bandung, kajian umum yang diselenggarakan oleh Wahdah Islamiyah Bandung, kajian umum di Masjid Pogung Raya Yogyakarta dan beberapa tempat lain.

Disalin dari (http://sirahnabawiyah.wordpress.com)

Read Full Post »

Penciptaan Adam ‘Alaihis Salam

Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa berfirman:

و إذ قال ربك للملائكة إني جاعل في الأرض خليفة قالوا أ تجعل فيها من يفسد فيها ويسفك الدماء ونحن نسبح بحمدك ونقدس لك قال إني أعلم ما لا تعلمون (30) وعلم اّ دم الأسماء كلها ثم عرضهم على الملائكة فقال أنبئوني بأسماء هؤلاء إن كنتم صادقين (31)قالوا سبحانك لا علم لنا إلا ما علمتنا إنك أنت العليم الحكيم (32)قال يا اّدم أنبئهم بأسماءهم فلما أنبأهم بأسمائهم قال ألم أقل لكم إني أعلم غيب السماوات والأرض وأعلم ما تبدون وما كنتم تكتمون (33)
وإذ قلنا للملائكة اسجدوا لاّد فسجدوا إلا إبليس أبى واستكبر وكان من الكافرين (34)وقلنا يا اّ دم اسكن أنت وزوجك الجنة وكلا منها رغدا حيث شئتما ولا تقربا هذه الشجرة فتكونا من الظا لمين (35) فأزلهما الشيطان عنها فأخرجهما مما كانا فيه وقلنا اهبطوابعضكم لبعض عدو ولكم في الأرض مسثقر ومتاع إلى حين (36) فتلقى اّدم من ربه كلمات فتاب عليه إنه هو التواب الرحيم(37)قلنا اهبطوا منها جميعا فإما يأتينكم مني هدى فمن تبع هداي فلا خوف عليهم ولا هم يحزنون (38) والذين كفرواوكذبوابأياتنا أولائك أصحاب النارهم فيها خالدون (39) (البقرة:39-30)

”Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Seusungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah dimuka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendaka menjadiakan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanyadan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.

Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah nama-nama benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!”

Mereka menjawab: “Maha suci engkau tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkau maha mengetahui dan Maha memiliki hikmah.

Allah berfirman: “Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini” . Maka setelah di beritahukan kepada mereka benda-benda itu, Allah berfirman: “Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?”

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para Malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam, “maka sujudlah mereka kecuali iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk orang-orang kafir.

Dan Kami berfirman: “Hai Adam, diamilah oleh kamu dan istrimu surga ini, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang Zhalim.

Lalu keduanya digelincirkan oleh syaithan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman: “Turunlah kamu! Sebagian kamu menjadi musuh dengan sebagian yang lain , dan bagi kamu ada tempat kediaman di muka bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang di tentukan”.

Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima Taubatnya. Sesungguhnya Allah maha penerima taubat lagi maha penyayang.

Kami berfirman: “Turunlah kamu semua dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuku-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikutiu petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”.

Adapun orang-orang Kafir dan mendustakah ayat-ayat Kami, mereka itu penguni neraka; mereka kekal di dalamnya. (QS. Al-Baqarah [2]: 30-39)

Ini adalah ayat-ayat penting dalam bahasan awal kajian tentang penciptaan Adam ‘Alaihis Salaam.

* Kajian Kisah Para Nabi, diselenggarkan oleh Wahdah Islamiyah Yogyakarta. Kajian ini dilaksanakan setiap pekan, dengan pemateri Ust Ridwan Hamidi, Lc.

Read Full Post »